
"Luna, apa setelah ini kau merasa bahagia? "
Luna tersenyum kecut, merasa canggung dengan pertanyaan Edelweis yang menjatuhkannya hingga ke dasar.
"Menurutmu? "
"Jika dari pandanganku justru kau semakin merasa kalah, apa benar?. Kau harus tahu satu hal, jika Arsen bukan takdirmu sekuat apapun kau menahannya dia akan tetap pergi, karna kau bukan pemilik yang sesungguhnya". Edel berkata dengan sangat lantang.
Arsen merasa suasana hatinya tak nyaman sama sekali. Sedangkan Vincen hanya menyunggingkan senyum tipis, sangat tipis sampai-sampai hampir tak terlihat.
"Lalu siapa pemiliknya? Kau? " Luna berkata sinis, "Vincen aku rasa calon istrimu memang tidak bisa melupakan Arsen. " sambungnya kemudian.
"Itu tidak penting sama sekali". Vincen menarik tangan Edelweis sampai terjatuh dalam pangkuannya.
"Kalian pergilah!, atau kalian ingin menontonku siaran live secara langsung" Pria itu mengecup bahu wanitanya, memeluk dengan posesif.
Arsen tidak tahan menyaksikan perlakuan Vincenzo yang seakan memanasinya, sumpah demi apapun Arsen akan membalas semuanya, ia juga kesal dengan Edel karna tidak terpenyaruh sama sekali, Arsen mengepalkan kedua tangannya. Tanpa di minta untuk yang kedua kali baik Arsen maupun Luna pergi dari sana menyisakan Vincen dan Edelweis yang kini hanya saling pandang dalam kebisuan.
__ADS_1
"Maafkan aku". Cicit Vincen hampir tak terdengar.
"Maaf tidak di terima di sini" Edelweis melipat kedua tangannya diatas perut dengan gaya angkuh, masih bergeming di atas pangkuan prianya.
"Apakah begitu nyaman berasa dalam pangkuanku, heh? ". Dengan segera Edel beranjak dari tubuh yang ia duduki.
"Aku akan menikahimu lusa! " Tegas dan tanpa bantahan, kalimat itu membuat Edelweis tersentak kaget.
"Kenapa mendadak? " Matanya mengerjap lucu, benar-benar menggemaskan.
"Baiklah".
......................
Kabar pernikahan Edelweis dengan Vincenzo Cassano yang akan di selenggarakan secepatnya akhirnya telah sampai pada telinga Arman.
Arman berpikir tidakkah ada yang tersisa dari wanita itu, semua ini tentang Edelweis tentang caranya membelenggu setiap rasa yang Arman miliki, semua itu terdengar sangat tidak masuk akal, tapi apa mau di kata semua hal tidak bisa ia selamatkan, masa depannya telah direnggut wanita itu dengan kutukan yang mematikan.
__ADS_1
Ia seolah kehabisan cara agar si pemeran utama mau berlapang dada mengampuni setiap kesalahan dan keegoisannya di masa lalu, nasib dan karma hidupnya benar-benar mengerikan setelah malam itu.
"sepertinya aku akan menduda untuk selamanya setelah Edel menikah kembali".
Tanpa Lelah Arman kembali menemui Edel untuk kembali memohon pengampunan.
"Untuk apa lagi kau menemuiku? " Edel berujar dengan malas.
"Masih dengan hajat yang sama, aku meminta penganpunanmu". Arman sudah kehabisan kata untuk membujuk Edelweis, dirinya benar-benar tak menyangka buah dari perbuatannya di masa lalu mengharuskan dirinya diliputi penyesalan di sisa usianya.
Untuk sejenak Edelweis membatu mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, bukan, bukan ia keras hati, atau tidak memaafkan mantan cinta pertamanya, ia sudah berusaha dan bahkan mencoba tapi dalam lubuk hati terdalamnya masi menyisakan setitik luka yang bahkan sudah sebelas tahun berlalu, masih dapat ia rasakan sakit serta ngilu di bagian itu, lalu bagai mana caranya untuk menyembuhkannya, terus terang saja dirinya tak memiliki cara.
"Katakan Arman harus dengan apa aku menyembuhkan lukanya?, aku sudah mencoba beberapa kali tapi rasanya masih sama, sama-sama menyakitkan layaknya luka baru, bahkan jika kau merasa iri jika menurutmu Arsen tidak mendapat hukuman dari kesalahannya, akupun sama denganmu Arman, mempertanyakannya, aku sudah memafkanmu, tapi entahlah akupun tak mengetahui apa yang diriku inginkan".
"Terimakasih untuk itu, tapi bisakah kau bersikap seperti dulu, maksudku seperti di masa lalu, tidak lagi mengulitiku dengan tatapan tajam penuh kebencian".
"Kau terlalu banyak mau! " Edel meninggalkan Arman begitu saja.
__ADS_1