
Karna upayanya Azelia menggugurkan bayinya dia berada di rumah sakit, bukan hanya bayinya saja yang lenyap tapi juga rahimnya harus di angkat di karnakan untuk menyelamatkan nyawanya.
Arman memang menolak bayi Azelia tapi untuk membunuh bayi yang bahkan belum melihat dunia Arman tidaklah sekejam itu, bayangan darah yang merembes di kedua kaki istrinya begitu mengerikan tapi tidak lantas membuatnya merubah keputusannya untuk bercerai. "sungguh kata-kata Edelweis benar benar begitu nyata, harus dengan apa aku membujuk Edel untuk menarik kutukannya".
***
"Dia mirip sepertimu sayang cantik"
"tentu saja aku Mommynya"
"pengen cepet cepet 40 hari deh aku udh ga kuat puasa lama lama".
"Ishh, aku ga mau itu dulu kemarin saat lahiran aku dapat jahitan Ars".
"Sayang menurutmu bagai mana jika anakku ikut dengan kita nanti, karna Clara tidak menginginkannya". Arsen bertanya dengan cemas takut takut Edel menolak, jika itu terjadi mungkin Arsen akan menyewa seorang pengasuh untuk anaknya.
"Itu lebih baik Ars, jadi rumah kita akan ramai oleh anak anak, tapi aku tidak mau jika nanti bayimu di jadikan alasan Clara untuk menemuimu", Edel mencebik gemas.
"Mana ada seperti itu, setelah anakku lahir kita akan kembali ke Negara kita, tenang saja aku tahu istriku pecemburu".
__ADS_1
"Baguslah jika kau paham".
...
Beberapa waktu telah berlalu Azelia sudah resmi bercerai dengan Arman, sedangkan Clara telah melahirkan anak laki laki, seperti kesepakatan di awal Clara tidak ingin merawat bayinya karna memang dari awal dirinya tidak menginginkan bayi itu, Arman memboyong keluarga kecilnya ke tanah kelahirannya, awalnya dirinya ingin pisah rumah dari orang tuanya, tapi Mama Arin tidak mengijinkan dengan alasan tidak ingin menantunya itu kelelahan merawat 2 bayi sekaligus.
"Sayang sedang apa?".
"Aku sedang memompa asi untuk anak anak kita". Baik si sulung Kyara maupun si bungsu Jasson keduanya meminum asi Edelweis yang dia perah, Edel sama sekali tidak membedakan antara anak kandung ataupun anak suaminya dari wanita lain, itulah yang membuat Arsen enggan melirik wanita manapun baginya cukup hanya Edel saja.
"Sayang sudah 4 bulan kita tidak melakukannya apa kau tidak ingin".
"Bukannya aku selalu memuaskanmu?".
"Ya, tapi ini bukan semata tentang kepuasan, Aku juga ingin itu, ingin kecebongku mendarat di tempat seharusnya bukan terus di lambung atau badan Mommynya kau pasti tahu maksudku." Edel bersemu malu dengan ucapan suaminya yan tanpa filter itu.
"Aku masi takut takut jahitannya lepas".
"Tidak akan 4 bulan adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menyembuhkan luka ataupun bekas jahitan".
__ADS_1
"Tapi..."
"Ini perintah!.. Bukan permintaan pokoknya malam ini aki ingin hakku".
Edel terdiam dengan pikiran yang entahlah sulit untuk di jelaskan. Disatu sisi dirinya masi takut belum lagi dirinya yang memang belum memasang alat kontrasepsi, jika meminta Arsen memakai pengaman tentu saja Arsen akan menolak tapi apa salahnya jika ia mencoba berbicara.
"Ars apa tidak sebaiknya kita menemui Dokter terlebih dahulu untuk mengkolsultasikan tentang alat kontra sepsis yang baik".
"Nanti saja aku tidak tahan aku ingin malam ini".
"kalau begitu kau pakai pengaman ya?"
"tidak mau itu tidak akan enak"
"lalu bagaimana aku tidak ingin hamil dalam waktu dekat?"
"Itu.. Masalahmu, yang penting jangan mengurangi kenikmatanku" Arsen berucap dengan tegas.
.
__ADS_1
.