Kutukan Pengantin Hamil

Kutukan Pengantin Hamil
Harus dengan apa aku membayar?


__ADS_3

"Kau mau makan siang denganku? "


"tentu saja, sekalian kita reuni"


"Kalau begitu kau duduk dulu aku akan bersiap siap".


"Vin Tunggu! "


"Ya kenapa? "


"Berapa aku harus membayar? "


"Membayar apa? "


"Kalung ini". Edel menunjuk kalungnya lalu menyentuhnya dengan hati hati.


"Kau tidak dengar jika pegawaiku bilang kalung itu tidak di jual"

__ADS_1


"Yah sayang sekali padahal aku menyukai kalung ini. Apakah kalung ini sudah memiliki pemiliknya?"


"Ya bisa dikatakan seperti itu". Edel nampak kecewa.


"Ya sudah biar ku lepas, kau bisa membantuku membukanya kan?"


"mengapa mau di lepas, katamu kau menyukainya"


"Aku tidak ingin mengambil milik orang lain meskipun aku menginginkannya".


"Itu milikmu Edel, kau bisa membalik liontinnya lihatlah di sana bahkan terukir namamu, aku membuatnya khusus untukmu". Edelpun membalik kalungnya menghadap cermin dan benar saja nama Edelweis terukir begitu apik di kalung itu.


"Tidak ada kata kebetulan Edel"


"Aku sengaja membuatnya untukmu, sebagai ganti dulu kau menjual kalungmu hanya agar aku dapat mengikuti ujian akhir di sekolah dulu, sungguh Edel kalau bukan karna kebaikanmu aku tidak akan sampai di titik ini".


"Astaga Vin itu tidak perlu. Aku iklas menolongmu dulu aku bukan sedang memberimu pinjaman"

__ADS_1


"Ya Edel aku tahu. Tapi jika kau menolak sungguh aku akan sangan terluka"


"Vin... "


"Tunggu sebentar aku akan bersiap".


...


Vinceno Cassano


Dahulu hingga kini Aku hanya menyukai seorang wanita saja, gadis yang menurutku sangat sempurna dan istimewa, ia sangat tulus menganggapku sebagai teman, gadis itu selalu memberikan bekalnya atau membaginya denganku hanya agar aku makan siang, saat di sekolah di waktu istirahan semua siswa berkumpul di kantin untuk makan siang atau sekedar jajan hanya aku yang akan duduk di taman menghindari semua orang aku malu hanya membawa bekal nasi putih saja, pasti teman temanku akan mengolokku jika mereka mengtahuinya Edel selalu menghampiriku untuk makan siang, membagi sebagian bekalnya denganku bahkan ia tidak sungkan memakan bekalku yang hanya berupa nasi putih saja. Semua teman sekolahku mengasingkan diriku, hanya dirinyalah yang sudi menemaniku ia tidak malu berteman denganku sekolahku memang termasuk mewah hanya orang orang tertentu yang bersekolah di sana tentu saja mereka yang beruang, aku hanya beruntung bersekolah di sana sungguh berbaik hati tuhan memberikan kelebihan dalam otakku. Bahkan adik Edelweis yang bernama Azelia selalu memakiku dan menyuruhku untuk menjauhi kakaknya, aku sudah menjauhi Edel sesuai permintaa Azelia, karna memang aku merasa tidak layak berteman dengan Edelweis tapi Edel selalu menghampiriku.


Aku sungguh lancang jatuh hati kepada Edelweis yang merupakan tuan putri di sekolahku dengan tidak tahu malu aku mencintai dewi penolongku. Tentu saja aku hanya memendam perasaanku aku mencintai dalam diam aku sungguh tidak berani mengungkapkan perasaanku, terlebih lagi Edelweis sangat menyukai anak dari teman orang tuanya keturunan keluarga Light, tentu saja sepadan dengan keluarga Wirata, Aku selalu menghitung bantuan yang di berikan Edelweis kepadaku berharap aku bisa membayarnya suatu hari nanti, meskipun aku mengetahui Edel tulus saat membantuku.


Aku Vincenzo Cassanoa anak dari seorang wanita mantan TKW di Eropa sana, aku bahkan selalu di teriaki anak haram oleh sebagian orang di tempatku tingnggal, Ya memang kenyataannya seperti itu ayahku adalah majikan ibuku dulu tapi sepertinya dulu ayahku tidak menginginkan diriku terbukti sampai umurku 20 tahun orang yang ku panggil ayah tidak mengurus dan membiayaiku, sampai aku berpindah pindah dari tempat satu ke tempat yang lain, sampai dirinya mencariku dan membawaku ke negri asal ayahku saat ibuku telah tiada ya ayahku memerlukan aku sebagai pewarisnya.


Saat tersakit adalah saat aku berpamitan kepada Edelweis ia menangisi kepergianku tentunya sebagai seorang sahabat.

__ADS_1


"Setttt jangan menangis aku pasti akan kembali, dan saat aku kembali katakan, harus dengan apa aku harus membayar kebaikanmu?". Aku hanya mampu mengucapkan itu saat berpisah.


__ADS_2