
Vincenzo Cassano
'Aku mencintainya sejak lama, jika dihitung dengan jari tangan tentu saja tidak akan cukup, sudah lebih dari 16 tahu aku mencintainya, mengagumi bahkan memujanya, setiap do'aku selalu ku sebut namanya, aku akui aku sangat egois memintanya langsung kepada Tuhannya, entahlah sebenarnya aku layak atau tidak tapi yang jelas aku berani mempertaruhkan segalanya hanya ingin memilikinya untuk diriku sendiri'.
'Papaku sendiri bahkan mengataiku tidak waras karna aku tidak dapat berpaling dari cinta pertamaku itu, tidak sekalipun aku berpaling kepada wanita manapun, bukan hanya hati dan pikiranku saja tapi seluruh anggota tubuhku seakan menolak orang baru yang bahkan mereka jauh lebih muda dan bisa di katakan lebih cantik darinya setidaknya itu menurut orang-orang di sekitarku, tapi aku menyangkalnya karna bagiku orang tercantik di semesta ini adalah Edelweis Wirata. Dialah yang bertahta dalam sanubari ini. Aku mencintainya sungguh, dan dengan sangat, bahkan aku melakukan hal yang di luar batas. Kalian tahu? aku menyembunyikan satu gakta besar dalam kehancuran rumah tangganya, Luna ya Luna lah duri itu dalam mahligai rumahtangga mereka aku turut campur dalam menusukan duri itu'.
'Aku Vincenzo Cassano dengan sadar membayar Luna untuk masuk pada rumah tangga mereka, jika ada yang menganggap aku orang baik itu salah besar, aku termasuk orang yang serakah ingin memiliki apa yang aku sukai bagai manapun caranya. Luna Suganda nama panjangnya ia adalah adik kelasku dan Edel Semasa sekolahku dulu usiaku dan Luna terpaut 3 tahun, sedang dengan Edel ia terpaus 2 tahun, Awalnya aku menyuruhnya untuk menggoda Arsen hanya untuk memastikan bahwa wanita yang kucintai benar-benar berada di pelukan Pria yang tepat tapi ternyata Arsen tak ubahnya sama seperti Cassanova yang mencoba rasa dari wanita selain istrinya, ku pikir Arsen Light telah berubah dari masa kelamnya tapi aku salah besar. Haruskah aku bersukur karna pada akhirnya mereka bercerai?, Sungguh aku tidak merasa sebahagia sebelum ini, tapi aku sempat ingin menuntutnya karna tindakan KDRT yang ia lakukan kepada cintaku, sayang sekali Edelweis tidak mengijinkanku.
Hari-hari kulewati meski tanpa hadirnya di sisiku, aku berjuang terus berjuang untuk membuktikan aku pantas menjadi Prianya, beberapa kali Azelia menawarkan dirinya untuk menjadi istriku, ini memuakan aku tidak tertarik sama sekali dengan wanita angkuh sepertinya, penolakan demi penolakan ku dapati meskipun Edel tidak terang-terangan mengatakannya. Tidak hanya berjuang aku juga berdoa supaya aku dapat memilikinya kali ini, dan tuhan berbaik hati dengan adanya masalah dari anak sambung Edel menuntunku pada perjanjian dengan syarat ku nikahi, meskipun Edel enggan menoleh kearahku, aku tetap membalikkan dirinya agar selalu berhadapan denganku dan itu berhasil, dengan sedikit drama sekarang Edel di sini, dikamar rumah sakit yang ku tempati, aku mendapati dia menangis dan menggerutu, sekuat mungkin aku mencoba menahan agar tawaku tidak pecah, sebenarnya yang terkena luka timah panas hanya bahuku dan rasanya nikmat sekali karna Edel sekarang menghawatirkanku, sebenarnya ini bukan apa-apa aku bahkan sering mendapat luka yang lebih parah dari ini, bahkan nyaris matipun aku pernah, sedang kepalaku hanya terbentur pojok meja dan parut sedikit tapi aku meminta dokter untuk memperbannya agar terlihat mendramatisir peranku sebagai Pria menyedihkan yang patut di kasihani.
"Bangunlah, ku mohon, ku mohon".
"Vin,, Bangunlah kau bilang ingin menikahikukan? kalau kau tidak bangun aku akan membatalkan pernikahan kita".
__ADS_1
"Astagha apa-apaan ini?" sial, aku melotot dengan mata terpejam oh Tuhan, Sial ia mengecup telapak tanganku, Ahh rasa bibirnya lembut dan lembab, Ahh aku menegang seketika darahku memompa lebih cepat, aku bisa merasakan tangan yang di genggamnya gemetar, aku benar benar tremor dan membayangkan akan senikpat apa rasanya jika bibir itu mendarat di bibirku, dan tiba-tiba, benda kenyal itu menyentuh lembut pemukaan bibirku, Aku tak dapat berpura-pura lagi segera ku raih tengkuknya dan ku tahan untuk memperdalam ciuman, Edel tersentak karna tindakanku, berusaha untuk mengakhirinya tapi aku belum puas, kuse sap, kukul um, dan kuem ut, dengan dalam bibir itu tapi entah apa yang terjadi edel tiba-tiba memekik.
"Awhh,, kau menggigitku Vin"
"Astagha, benarkah? "
"Ya, dan ini sakit, kau kaku sekali, terlihat seperti amatiran" Edel tekekeh lucu dan terkesan meledek menatap Vincen dengan tatapan geli.
"Kau percaya itu ciuman pertamaku? "
"Hmmm". Vincen berdehem gugup serta malu yang luas biasa.
"Kau bercanda?"
__ADS_1
"Apa aku selucu itu sampai kau anggap aku melawak?" Dengusnya memutar bola mata malas.
"Jadi kau serius? "
"Lupakan!"
"Ya Tuhan umurmu bahkan sudah memasuki 35 Tahun, jangan bilang kau masih perjaka?"
"Ck. Menurutmu? "
"Haha.. " Edel tergelak dengan kencang menertawakan calon suaminya serta memegangi perutnya tidak lupa air matanya membasahi setiap sudut matanya.
"Ini lucu, benar-benar lucu,". Vincen hanya mengdengus kesal.
__ADS_1
"Pria sematang, tampan dan mapan seperti dirimu ternyata masih perjaka, ". Lagi-lagi Edel tertawa geli.