Kutukan Pengantin Hamil

Kutukan Pengantin Hamil
Bangunlah


__ADS_3

Arsen berhasil membawa putranya pulang dengan selamat, setelah sampai di rumah Edelpun Jasson masih enggan untuk terbangun bahkan ia seperti sungkan hanya sekedar untuk membuka matanya pengaruh obat bius sedang menguasai alam bawah sadar bocah itu, tak henti-hentinya Edel memeluk serta mengecupi seluruh wajah putranya, ia bersyukur putranya kembali dalam ke adaan baik, begitupun dengan Arsen tidak beranjak walau seinci dari tempat duduknya.


Dikarnakan Jasson masih tidak sadarkan diri Arsen dan Edel segera membawa Jasson kerumah sakit, takut terjadi apa-apa dengan bocah itu, dan beruntung dokter yang memeriksa kondisi Jasson mengabarkan bahwa Jasson baik-baik saja hanya masih dalam pengaruh obat penenang.


"Mom, Mommy, "


Pagi harinya Edel terbangunkarna suara lemah yang mendayu menariknya dari alam mimpi, "Sayang kau bangun, apa kau haus? " Dengan segera Edel mengambil air minum dari atas nakas, memberikan minum kepada jasson dengan penuh kehati-hatian.


"Apa ada yang sakit nak?" Jasson hanya menggeleng lemah sesekali hanya memejamkam matanya pertanda bahwa saat ini dirinya tengah lemah tak berdaya.


Arsen yang hanya tidur dengan terduduk perlahan membuka matanya mendengar suara samar-samar Edel, "Kau baik-baik saja?" Arsen berusaha secepat mingkin mengumpulkan kesadarannya


Jasson kembali berbaring karna memang tubuhnya masoh terasa lemas tulang-tulangnya serasa layu tanpa ada kekuatan, rasa mengantuk kembali menghinggapi anak tampan itu.


"Astaga". Tiba-tiba Edelweis terpekik mengingat sesuatu,


"Dimana Vincenzo, Ars? "


"A-Aku tidak tahu, semalam dia menyuruhku pergi lebih dulu membawa Jasson". Aku Arsen jujur apa adanya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? " rasa cemas itu menghampiri dirinya, Edel meremat jari-jari tangannya sendiri hal ini yang sering ia lakukan saat mendapat kecemasan yang berlebih. Arsen menyadari tingkah laku mantan istrinya itu, ia benar-bemar tidak suka saat Edelweis mencemaskan pria selain dirinya, Arsen tengah cemburu.


"Aku tidak tahu, tapi sebelum aku pergi aku mendengar beberapa suara tembakan", Arsen mengatakan itu sambil nenatap lekat wanita yang ia cintai, menilai perubahan mimik wanita itu, yang bisa Arsen simpulkan adalah Edel peduli dengan Vicen Rivalnya itu.


"Apa, ?"


"Kenapa kau baru bilang sekarang Ars? "


"Kau tidak bertanya". sahutnya acuh


"Begini caramu bertindak kepada orang yang membantu menyelamatkan putramu? dengan cara meninggalkannya di tempat maut"


"Hallo"


". . ."


"Ya Pa aku segera ke ruangannya".


Setelah telepon di tutup Edel langsung berdiri dari duduknya tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ada apa? "


"Barusan Papa menelpon Ars"


"Lalu apa yang di katakanya? sampai membuatmu tergesah seperti ini?"


"Vincen terluka, ia mengalami beberapa luka, bahkan ia mendapati luka tembak" Segera Edel menuju pintu dan siap keluar dari ruangan itu,


"Titip Jasson Ars, Jangan meninggalkanya sebelum aku kembali". Arsen tak menjawab ia terpaku dengan sajit yang kini tera perih di ulu hatinya, adakah kesempatan memiliki wanita itu kembali?


...


"Vin.. "


"Bangunlah!, kau bilang ingin menikahiku kan?" masih belum ada jawaban, yang tercipta hanya keheningan tanpa pergerakan, yang bereaksi hanya tetesan infus saja,


"Jika kau tidak bangu juga aku akan membatalkan recana pernikahan kita". Ancamnya kemudian.


.

__ADS_1


__ADS_2