
Setelah gelap terbilah terang selogan itu berpungsi untuk Edelweis, setelah bertahun-tahun menjalani hidup dengan rasa malu dan menundukan wajah, untuk pertama kalinya ia berani menegakan pandang kepada orang-orang sekitarnya, kepada kerabatnya yang dulu menghinanya dengan pedas kini Edel berani menatap mata-mata itu yang seakan menelanjanginya di pernikahan pertamanya.
.
***
Didalam kamar Vincen tidak henti-hentinya mondar mandir berjalan tanpa arah, hampir setiap sedut kamar hotel termakan jejak kakinya, diri cemas serta ketakutan ini adalah malam pertamanya, apa yang harus ia lakukan, sungguh dia adalah seorang perjaka asli no kaleng-kaleng.
"Bagaimana ini aku tidak ingin mengecewakan Edel sungguh aku takut Edel tidak puas denganku, apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu?, sial ponselpun tak membantu sama sekali". Vincen mendadak menyesal telah menjadi anak baik, ia merutuk mengapa ia tidak menjadi anak nakal saja agar dirinya tidak terlihat bodoh begini.
__ADS_1
Apa yang bisa Vincen banggakan disaat seperti ini? , dirinya bahkan melepas viuman pertamanya saja disaat umurnya 34 tahun, ahh adakah pria sepolos dirinya.
Ceklek.
Saat pintu kamar mandi terbuka Edelweis menghampirinya dengan menggunakan gaun malam berenda, sangat tipis dengan aksen pita di pundak sebagai penyangganya.
"Ya Tuhan!" jantung Vincen serasa melorot ke lambung apa-apaan ini?. Ini memang bukan kali pertama melihat wanita yang seksi dan hampir telanjang ada di hadapannya, tapi karna wanita ini adalah orang yang ia cintai terlebih lagi sudah siap untuk di tanami membuat dirinya semakin ketar-ketir.
"Biar ku bantu, ". Edel membantu Vincen membuka satu persatu kancing piama yang dikenakan suaminya.
__ADS_1
"Jadi kau benar-benar akan mengajariku? " Dengan polosnya Vincen berkata, Ya Tuhan adakah pria yang lebih menggemaskan dari ini.
"tentu saja. Aku akan melayanimu layaknya seorang raja kau cukup diam dan nikmati". Edel berujar di sertai kedipan mata yang menggoda.
Edel menuntun suaminya ke arah ranjang sentuhan demi sentuhan ia layangkan, ciuman, *******, jilaatan di sertai gigitan bena-benar membuat diri Vincenzo terbakar, tpi ia hanya menikmati, permainan di pegang kendali oleh istrinya, entah sejak kapan keduanya sama-sama bertelanjang tanpa sehelai benangpun.
Saat penyatuan keduanyapun Vincenzo hanya terbaring pasrah di bawah kuasa istrinya yang sedang menari diatas tubuhnya memacu gairah dalam diri keduanya, tak banyak waktu yang di butuhkan, selang sepuluh menit Vincenzo mengerangg nikmat mencapai nirwana menyerukan nama istrinya. Tubuh Edel terkulai lemas di atas tubuh suami, tenaga wanita itu terkuras, Edel meringis pelan saat melepas penyatuannya, meskipun dirinya merasa sedikit kecewa karna belum mendapat pelepasannya, ia akui senjata Vincen lebih gagah besar dan panjang tapi ketahanannya masih jauh di bawah Arman dan Arsen, kedua kakak beradik itu bisa di bilang mengagumkan, Apalagi Arsen yang pandai menyenankan dirinya, "Astagha sadarlah Edel jangan membandingkan suamimu dengan pria lain". Edel merutuki dirinya.
Edel melangkahkan kaki turun dari ranjang, memang cairan kental yang di sempprotkan suaminya sangatlah banyak sampai-sampai saat ia terbangun cairan itu mengucur dalam celah intinya, Edel bermaksud untuk ke toilet membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket.
__ADS_1
"Astagha mengapa aku lemah sekali baru beberapa menit di goyang sudah sampai muntah, pasti Edel kecewa denganku, apa aku punya kelainan? tapi mengingat Edel nenari di atas tubuhku aku menginginkannya lagi". Dengan senjata yang sudah menegang kembali.
"sayang jangan sekalian mandi, barusan aku cepat tumpah baru main sebentar, setelah ini kita main lagi ya, pasti yang ini lebih lama". Frontal sekali suaminya Edel sampai menhentikan langkahnya saat akan masuk ke kamar mandi.