Kutukan Pengantin Hamil

Kutukan Pengantin Hamil
Menginap


__ADS_3

Setelah puas menangis menumpakkan kekecewaan hati di sebuah taman di pinggiran kota, Untuk pertama kalinya dalam hidup Edelweis mendatangi Club malam sendiri, bermaksud menenangkan diri dengan cara mengunjungi tempat terkutuk itu. memesan beberapa gelas minuman beralkohol meneguknya dengan cepat tanpa menikmati sensasinya atau menyeasap minumannya dengan perlahan,


sungguh cara minum yang buruk. Tujuannya tentu saja ingin membuatnya mabuk agar melupakan rasa sakit yang di deritanya, tidak ada yang tau seberapa lebar luka yang di dapatnya, berulang kali Edel bertanya pada takdir akan jalan hidupnya tapi tidak menemukan jawabnya. Lalu bolehkah dirinya menyerah?


"Bukankah itu Edel? sedang apa dirinya di tempat seperti ini? dengan siapa? kemana suaminya? " Seribut dan sepanik itu Arman saat mendapati adik iparnya sedang meneguk minuman dengan cepat. Arman beranjak dari kerumunan tempat teman-temannya duduk. Ya Arman sedang menghadiri perayan kecil dengan rekan kerjanya. Tanpa memerdulikan rekannya yang bertanya dirinya menghampiri istri dari adiknya, sadar dengan keadaan wanita itu Arman harus mengantarkannya pulang sungguh tempat seperti ini benar-benar tidak aman untuk wanita secantik dan seseksih Edel, bisa di pastikan sesaat lagi para predator kelamint akan datang dan cassanova akan menunjukan pesonanya, tidak menutup kemungkinan juga akan ada oknum lain yang memampaatkan wanita itu.


Dentuman musik yang begitu nyaring membisingkan telinga siapa saja, lampu kerlap kerlippun membuat suasana begitu riuh dengan sorak para pungunjung Club. Tapi Edel nampaknya tidak berminat dengat suasana tempat itu, fokusnya hanya pada minuman yang terus ia minta kpada bertender peracik minuman haram itu, beberapa kali dirinya melirik jam tangan yang dikenakannya mengecek waktu dengan mata memincing tapi tatapan yang mengabur.


Edel menyadari ia mulai mabuk saat rasa pening menghampirinya seakan baru saja tertimpa benda berat di kepalanya.


"Edel sedang apa kau di sini? "


"Tuan, jam berapa sekarang? aku kesulitan dalam menghitung dan mengenal angka" Edel bertanya tanpa menjawab pertanyaan Arman.


"Hentikan kau mulai mabuk" dengan cepat Arman merampas gelas yang tengah di pegang adik iparnya.


Edel mendongak menatap tubuh jangkung di depannya seraya mengerutkan kening mencoba berpikir tapi otaknya telah terpecah dengan rasa puding.


"Kau nampak seperti si duda siallan yang gagal move on"


"Kau benar-benar mabuk"


"Hei aku tidak mabuk, aku hanya sedang menyenangkan diri sedikit"


"Ayo ku antar pulang" Dengan segera Arman meraih pergelangan tangan Edel hendak menyeret perempuan itu untuk pulang. tapi Edel memberontak dengan kasar Arman menyeretnya.


"Kau kasar sekali Duda siallan, pantas saja dirimu duda, pasti tidak ada wanita yang mau menikah denganmu dasar tidak laku", Edel tetap memberontak dan memaki Pria tampan itu.


Arman merasa tersinggung dengan makin Edelweis, bukan tidak ada wanita yang mau dengannya hanya saja dirinya lah yang tidak menginginkan menjalin hibungan atau komitmen dengan lawan jenis dikarnakan dengan kelainan yang di deritanya. Sebenarnya jika dirinya mau banyak sekali wanita kelas atas yang dengan suka rela menawarkan diri untuk menghabiskan malam dengannya atau hanya menjadi penghangat ranjang, seandainya saja dirinya tidak menderita kelainan sudah di pastikan ia akan menikmati hidup layaknya pria dewasa.


"Berisik! " Arman segera menggendong wanita itu di pundaknya memanggul layaknya sekarung beras.


Sepanjang perjalanan Edel meneriaki dan memaki kakak iparnya yang kurang akhlak menyamakannya dengan sekarung beras sungguh terlalu bukan, Dengan langkah lebar Arman membawa Edel ke parkiran, membuka mobilnya dengan satu tangannya sedang tangan kanannya menahan bobot badan wanita adiknya itulalu sedikit membanting saat menjatuhkan tubuh seksih itu.


"Aku tidak mau pulang". ucapnya lirih Di tengah perjalanan Edel terisak dengan bahu bergetar.

__ADS_1


"Kau harus pulang"


"Tidak mau"


"Anak anak dan suamimu pasti mencarimu"


"Kya dan Jass sedang menginap di rumah Papa Chandra"


"Arsen pasti sedang menunggumu!"


"Aku tidak ingin pulang"


"kau harus tetap pulang, aku akan mengantarmu".


"Turunkan aku di sini". Mabuk, Efek alkohol itu sedikit banyak mempengaruhi kinerja otak wanita itu, Bagai mana bisa dirinya minta di turunkan di tengah jalan yang begitu sepi bagai mana kalau ada hal lain yang tidak di inginkan.


"Kenapa tidak mau pulang?" Edel malah menangis semakin kencang.


Arsen menghentikan laju mobilnya melirik adik iparnya dan menelisik dengan seksama wajah berlumur air mata itu, pandangannya berhenti pada kulit wajah yang membengkak merah kebiruan serta sudut bibir yang terluka sekali lagi ia meneliti dan meyakini bahwa itu jelas bekas tamparan atau semacamnya. Arman melepas sabuk pengamannya dan menghadap Edelweis meyakinkan bahwa penglihatannya tidak salah, Arman mengangkat tangan meraba pelan wajah itu.


"Apa Arsen yang melakukan ini?"


Hening....


"Jawab aku. Arsen yang melukaimu?" Edel membuang pandang lalu tertawa menyedihkan.


"Kau terlalu banyak bicara"


"kau tahu selama ini aku berusaha menyembunyikan luka bukan menyembukannya?"


Tanpa berkata lagi Edelweis sudah lunglai tidak sadarkan diri, entahlah pingsan atau tertidur. Dihapusnya jejak air mata wanita yang pernah minggilai dirinya. Sumpah demi apapun dirinya ikut merasa sakit yang di derita adik iparnya, Arman membayar Detektif untuk mencari tahu kebenaran dan masalah yang menurutnya janggal pada rumah tangga adiknya. Arman mengetahui tentang pengkhianatan sang adik bersama Seorang gadis yang bekerja sebagai Office girl di kantor Arsen. Bahkan hubungan terlarang itu berjalan hampir dua tahun. Sama sekali tidak terbesit di pikirannya bahwa sang adik akan melakukan hal hina seperti ini, meskipun Arman tau sepak terjang masa lalu Arsen tapi tetap saja dirinya terkejut.


"Maaf". Dengan lembut Arman mengelus lembut surai hitam rambut panjang Edel kemudian mengecupnya dengan penuh kehati hatian. Arman menjalankan kendaraannya kembali membelah jalanan menuju Apartemen miliknya.


...

__ADS_1


Pagi harinya...


Edel terbangun dengan memegangi kepalanya yang pusing serasa berdengung-dengung luar biasa sakit kelopak matanya yang tadi sempat terbuka kini menutup kembali menikmati rasa sakit yang tengah menghantam kepalanya.


"Kau sudah bangun?"


Edel terjengkit kaget mendengar suara yang amat ia kenali, bahkan dengan spontan dirinya langsung berdiri dari tidurnya, hampir saja ia oleng dan hampir terjatuh kalau Arman tidak sigap meraih tubuh itu.


"Minumlah teh rempah ini, teh ini akan mengurangi rasa pusingmu".


"Sedang apa kau di kamarku?".


"Kamarmu? kau yakin? " dengan pongah dan ekspresi konyolnya Edel menganggukan kepala, dan sialnya hal itu tampak menggemaskan di mata Arman.


"Ini kamarku Nona! kau baru saja bermalam di kamar seorang duda".


"Aku menginap? "


"Ya"


"Dikamarmu? "


"Hmm"..


untuk beberapa saat hanya keheningan yang tercipta, Edel mencerta kata menginap.


Aaaaaaaa...


"Tidak usah berteriak".


"mengapa aku bisa menginap di tempatmu?" Dengan panik Edel bertanya. "Mengapa bajuku berubah? jangan bilang kau yang menggatinya? " Edel mondar mandir tidak jelas dengan kedua tangan menjabak rambutnya sendiri dengan frustasi mencoba menggali ingatan tadi malam.


"Berhenti bertingkah seperti seorang gadis yang baru saja melalu mam panas dengan pria asing, bahkan kau tidak sepanik ini saat kuparawani".


Mati saja kau.

__ADS_1


.


__ADS_2