Kutukan Pengantin Hamil

Kutukan Pengantin Hamil
tidak bermaksud


__ADS_3

Edelweis sudah pulang beberapa hari lalu dirinya sangat bahagia telah melahirkan putri cantik, begitupula dengan Arsen meskipun putrinya bukan darah dagingnya tapi dia menyayangi bayi cantiknya,.


Azelia menyusul ke tempat di mana kakaknya melahirkan, dia bertekad akan memperbaiki hubungannya dengan sang suami, Ya sebelum semuanya terlambat ia akan berusaha mempertahankan Rumah tangganya.


"Arman kita perlu bicara" sesaat setelah tiba di kediaman Arsen dan mendapati Arman tengah duduk di ruang tamu.


Arman belum menjawab apapun tiba tiba Arsen keluar daru kamar dengan menggendong bayinya. Sesaat berikutnya Arsen menyerahkan bayi itu kepada sang Kakak. "Gendonglah kak aku tahu kau ingin sekali menggendongnya". Dengan binar bahagia Arman menggendong tubuh mungil itu matanya nampak memantulkan kaca kaca yang siap untuk tergenang, sumpah demi apapun dirinya merasa bahagia untuk pertama kalinya setelah lebih dari 30 tahun untuk pertama kali dirinya menggendong seorang bayi dan ini darah dagingnya sendiri.


Azelia menyentuh perutnya yang masi datar berpikir akan kah Arman bisa menerima bayi yang tengah tumbuh di perutnya seperti Arsen menerima bayi kakaknya. Laki laki seperti Arsen menyentuh hatinya mengingatkannya bahwa ada masa lalu yang belum selesai di antara mereka. Azel memutuskan untuk pergi dari sana menghampiri kedua orang tuanya di lantai atas, sepertinya dia akan berbicara nanti saja dengan laki laki yang masih sah menjadi suaminya meskipun Arman telah melayangkan gugatan perceraian.


"Dimana ibunya Ars?.."

__ADS_1


"Edel habis minum obat dan dia harus istirahat."


"Kau akan kembali ke Negara kita atau tetap tinggal di sini?"


"Entahlah kak... Aku belum berpikir terlalu jauh lagi pula anakku yang belum lahir, mau bagai manapun caranya hadir di dunia aku tetap akan bertanggung jawab, karna memang Clara tidak menginginkan bayiku".


"Lalu apa rencanamu?".


"Aku akan membawa bayiku bersamaku dan keluarga kecilku".


"Jaga kalimatmu kak.. jangan sampai aku tersinggung dan kau akan kesulitan untuk melihat putrimu". Arman seketika mengalihkan pandangan dari anaknya lalu menatap tajam adik dan merangkap menjadi ayah sambung untuk anaknya.

__ADS_1


"Aku hanya berpendapat, tidak ada maksud lain".


Arsen tentu saja kesal dengan kakaknya itu dengan segera ia mengambil alih tubuh mungil yang sedang terpejam damai. "Kemarikan putriku sudah saatnya dia minum susu". Tanpa banyak kata Arsen memboyong putrinya masuk kamar.


Dengan sangat hati hati Arsen menidurkan bayinya di samping kosong ranjang dan menepuk tubuhnya agar semakin lelap. Batin Arsen menggerutu kakaknya benar benar serakah serta plin plan dulu di saat Edel belum menjadi miliknya dengan nyata kakaknya menolak Edelweis, tapi sekarang setelah Edel dan anaknya dalam genggamanku dia berusaha memintanya kembali, jangan harap aku akan melepaskan mereka. " Cih dasar tidak tahu malu".


***


Azelia memutuskan untuk meminum obat peluruh kandungan karna setelah dirinya berbicara dengan Arman tetap saja Arman ingin bercerai, Azel tidak ingin itu terjadi ia berpikir semua karna janinnya seandainya janinnya tiada pasti Arman akan menerimanya kembali begitulah pikirnya.


"Ahhh. Kenapa sesakit ini sshhhh..." Azel meringis menahan sakit yang luar biasa. Aku tidak ingin hanya karna satu kesalahanku semua hidupku hancur lagi Azelia meminum pil itu dan menambah dosis dari yang sudah di tentukan. " mungkin jika aku menikung 2x lipat maka anak sialant ini akan segera enyah dari rahimku"...

__ADS_1


.


.


__ADS_2