
Bagai manapun ke adaannya Arsen memberitahukan kebenaran dirinya, tentang Rayden dan semuanya Arsen ceritakan kepada Mama dan Papanya serta sang Kakak.
Semua keluarga turut hadir di tengah pemakaman Rayden. Clara bahkan beberapa kali jatuh pingsan saat tidak kuasa menyaksikan putranya di rimbun tanah, berbeda dengan Arsen yang tampak tegar menghadapi kenyataan namun di lubuk hatinya tentu saja Arsen merasa perih dengan kepergian putranya.
Clara sebisa mungkin menghalangi Arsen untuk pulang ke rumahnya tpi tetap saja Arsen bersikeras karna memang perasaannya tengah kacau ia ingin menemui istrinya menumpahkan segala gundah yang sedang menyerangnya, baginya hanya pelukan istrinya yang kini ia butuhkan. Karna sang Mana masih saja marah terhadap dirinya. Begitupun di perjalanan menuju rumah hanya keheningan saja yang tercipta antara mereka.
"Mengapa di rumah sepi sekali kemana semua orang pergi?". Arman celingukan mencari orang lain atau pelayan namun nihil.
"Astaga..." Dengan segera Arsen berlari memasuki kamar.
"Mama... Papa"... semua orang terkejut melihat kondisi kamar yang berantakan bahkan di atas ranjang terdapat noda darah yang sudah mengering.
Arsen berlari menuju mobilnya bak orang kesetanan pikirannya benar benar kacau kemana istrinya pergi. 'Ponsel.. Ya ponsel'
Saat di lihat ponselnya menampilkan beberapa panggilan tak terjawab serta beberapa pesan.
'Ars... perutku sakit'.
__ADS_1
'Ars.. kenapa nomor mu sulit di hubungi?'
'Ars.. Tolong ada banyak darah yang keluar'.
'Aku takut..'
Dan masi banyak lagi pesan lainnya. berkali kali Arsen menghubungi nomor Edelweis tapi tetap saja tidak bisa. Sampai di dering entah ke berapa telponnya di angkat yang ternyata Papa mertuanya.
"Arsen kau di mana?. segeralah ke rumah sakit, Edel membutuhkan dirimu".
"Baik Pa.. Arsen segera ke sana".Disaat Arsen akan masuk ke tempat kemudi, Arman menghentikan tindakannya dengan menepuk punggung adiknya.
***
"Pa.. Di mana istriku?"
"Di dalam masuklah.."
__ADS_1
Saat Arsen, Arman dan semua orang masuk. Edel tengah memangku seorang bayi lucu yang jika di lihat dari bedong serta ciput yang di kenakan pastilah bayi itu perempuan karna kostumnya yang serba warna pink.
"Hai Daddy...". Edel bermaksud menyapa Arsen dengan gaya bicaranya yang di buat buat seperti anak kecil. Tapi yang terjadi benar benar tidak terduga jika Arsen Hanya membantu di tempatnya antara senang dan sedih atas kepergian putranya dan senang atas kelahiran putrinya. Berbeda dengan Arman dirinya justru menangis bahagia dan menghampiri Edel serta bayi yang tengah terlelap dalm gendongannya.
"Boleh aku menggendongnya?". Arman memberanikan diri untuk berbicara meminta ijin kepada ibu dari bayinya.
"Tidak..." Edel menjawab dengan tersenyum kecut.
"Daddy kemarilah aku ingin di gendong Daddy". Panggil Edel manja.
Arsen yang tadinya hanya menyimak dan sudah berpikir bahwa bayi mungil itu akan di peluk oleh kakaknya dan menimbulkan rasa tak enak di hati. sekarang tersenyum merekah di saat menyadari yang di panggil Daddy istrinya adalah dirinya sendiri bukan orang lain atau kakaknya. Arsen segera menghampiri istri serta anaknya mengecil kening istrinya, kemudian beralih mengambil bayi mungil dari dekapan Edelweis.
"Terimakasih telah berjuang, maaf karna aku tidak menemanimu". ucapnya penuh sesal.
"Tidak papa Arsen aku mengerti, Aku turut berduka cita atas kepergian Ray".
Disaat semua orang berbahagia dengan kehadiran anggota baru, justru Arman sangat menyesali hidupnya tentang bagai mana dirinya menolak wanita yang dengan tulus mencintainya, mengejar dan mengemis cintanya. bahkan ia ingin sekali memeluk putrinya tapi dirinya tidak mampu. Siapa yang harus di salahkan? dirinya atau orang lain?...
__ADS_1
Arsen bertanya pada dirinya sendiri, seandainya waktu bisa di tarik mundur dengan senang hati dirinya akan menikahi Edelweiss di saat gadis itu menawarkan pernikahan tapi itu hanya angannya saja yang mustahil terjadi kembali.