
"Cassano!"
"Apa yang kau lakukan di sini? "
"mangunjungi calon istriku"
"Jangan membual di sini Cassano, mana mungkin Pria sepertimu menikah"
"Ayo lah, Arsen aku ini pria normal aku juga ingin memiliki keluarga yang hangat"
" Ya itu hak mu, tapi jangan istri dan anak-anakku yang kau ingin jadikan keluarga"
"Mantan istri jika kau lupa, Edel sekarang seorang janda aku berhak mendekatinya dan mengejar cintaku,". Kedua pria dewasa itu terus saja berdebat dengan hal sepele, sungguh ke kanakan memang.
"Mommy pergilah, temani Om vincen jalan-jalan kami akan menemani Daddy hari ini". Arsen melotot mendengar ucapan Kya, bagai mana mungkin ia mengijinkan Edel pergi dengan pria lain.
"Aku tidak mengijinkan kau pergi Edel. "
"Siapa juga yang butuh ijinmu". ini waktu yang tetepat untuk membalas sakit hatinya pikir Edel.
"Mommy pergi sayang, baik baik di rumah, habiskan waktu kalian bersama", Edel pamit dan meraih tangan Vincen, sungguh Arsen ingin sekali memukuli pria itu dengan kedua tangannya, dengan sekuat tenaga ia menekan keinginannya itu.
...
__ADS_1
"Vin, Maaf" setelah mereka memasuki mobil Edel buru buru membuka mulut, takut jika Vincen akan salah paham dan mengartikannya yang yidak tidak.
"Tidak masalah, aku senang saat kau menggenggam tanganku". Vincen mulai melanjutkat perjalanan mereka menuju salah satu taman bermain di pusat kota,
"aku ingin pergi ke tempat yang penah kita kunjungi saat masih sekolah dulu termasuk jajan di pinggir jalan"
"kau ingin bernostalgia"
"Hidupku sedikit terusik saat kau pergi Vin"
"Edel, kudengar beberapa lamaran dari pria hebat kau tolak apa itu benar?" Edel terkekeh geli, "aku hanya belum menemukan yang pas dengan kriteriaku saja Vin".
"Katakan seperti Apa Kriteria pria idamanmu?, biar ku tebak, tampan dan kaya"
"Lalu dari sekian banyak Pria yang melamarmu tidak ada yang tampan menurutmu? Karna soal harta aku yakin mereka pasti kaya raya".
"Tidak ada"
Tanpa terasa mereka tiba di pusat bermain, Edel tampak bahagia mencoba satu persatu permainan tanpa terlewat, dirinya melupakan beban hidup yang selama ini menumpuk di pundaknya
...
"Dad. Jelaskan pada kami, kemana saja kau selama ini, mengapa sangat sulit untuk menemuimu? "
__ADS_1
"Kalian merindukan Daddy?"
"Tentu saja, anak mana yang tidak merindukan ayahnya disaat ayahnya pergi" Lagi lagi Kya mengungkapkan isi hatinya, berbeda dengan Jasson yang hanya memendam rasa rindunya, tapi sedang mengumpulkan keberanian untuk berbicara sesuatu kepada Ayahnya.
"Tidak hanya kami, Mommy juga sering kali menangis saat mengingatmu Dad! "
"Benarkah? kalian tidak hanya sedang menghibur Deddy bukan?"
"Apa wanita baru itu berubah pikiran?"
"Ya wanita baru, Aku mengetahui karna seorang wanita kau tega berbuat ini pada Mommyku, mengacuhkan, mengapabaikan dan menyakiti Mommy terus menerus sampai kau tega pergi meninggalkan Mommyku".
"Jass, semua itu tidak benar"
"Bagian mana yang tidak benar? " Arsen membisu tidak dapat menjawab putranya, putranya sangat cerdas dan begitu peka terhadap hal hal menyangkut Mommynya.
"Jass tidak baik berbicara seperti itu pada Daddy" Kya mempringati saudaranya.
"Aku bukan dirimu Kya, yang pandai memaafkan". Jasson berlari meninggalan saudara dan Ayahnya.
Hanya sesal saja yang tersisa dalam diri Arsen, Harus dengan cara apa Arsen mengembalikan semuanya? apalagi jika Jasson tau jika dirinya mantan pengguna obat-obat terlarang pasti anaknya akan merasa lebih malu lagi memiliki ayah sepertinya.
"Maaf" lagi dan lagi hanya kata itu yang mampu tercetus.
__ADS_1