
Setiap pagi akan ada tiga Pria dewasa yang mendatangi rumah Edel Arsen dan Arman beralasan untuk mengantar Kya dan Jasson, sedangkan Vincen selalu menjemput Edel untuk pergi memulai hari padahal antara mereka tidak ada hubungan apapun.
"Astaga aku merasa rumahku seperti rumah makan, setiap hari kalian sarapan di sini!" Edel menggerutu terus terang saja dirinya jengkel hampir setiap hari ketiganya menumpang sarapan dirumahnya, bukan Edel pelit hanua saja Edel merasa risih.
"Vin Azel meminta nomormu semalam"
"Ck,, kau memberikannya, dan kau tau dia terus nerecokiku setiap menit, menyebabalkan". Vincen mendengus.
"Ars, ku rasa kau bisa mengatur jadwal dengan kakakmu untuk bergantian mengantar Kya dan Jasson, tidak perlu kalian berdua beriringan mengantar mereka, atau lebih baik tidak usah aku bisa mengantar mereka sendiri sebelum pergi mengontrol Cafe, kalian tau itu sama saja pemborosan waktu dan materi".
"Hanya dengan membeli bahan bakar mobil tidak akan membuatku jatuh miskin Edel" Arsen menyombongkan diri.
"Apa yang di katakan Edel ada benarnya Ars. Biar aku yang mengantar anak-anak".
"Kalian para orang tua bisa tidak jangan berdebat saat makan" Jasson mulai protes.
"Iya Kya bena-benar bingung mengapa Ayah kita ada dua, jadi bingung kan Jass? "
"Sebentar lagi Ayah kalian akan tiga" Edel bergurau dengan tertawa.
"APAA!! "
__ADS_1
Semua orang terkejut hanya Vin saja yang menyinggingkan senyuman menawan.
"Kya setuju tidak jika Mommy menikah lagi?" Jass bertanya dengan menatap mata saudarinya
"Apapun yang Mom lakukan Kya pasti setuju Jass, selama ini Mom terlalu banyak melewati banyak hal". Edel terpaku dengan mata berkaca-kaca. " Mom terimakasih kau telah membiarkan kami memiliki Mommy yang hebat sepertimu" Kya langsung memeluk Mommynya di susul dengan Jasson.
Akhirnya Arsen dan Arman sepakat untuk membagi waktu mengantar Kya dan Jass Tiga hari pertama Arman yang mengantar, dan tiga hari selanjutnya Arsen yang bergantian sedangkan hari minggu jadwal mereka libur, meski jengkel dengan tingkah mantan suami dan mantan kakak ipanya tapi Edel tidak dapat egois untuk membatasi kebersamaan mereka dengan ayahnya masing masing.
...
Edel dan Vincen berbicara berdua di kursi teras setelah kepergian Arman dan Arsen serta anak-anak.
"Ya aku rasa juga begitu"
"Lalu bagai mana menurutmu"
"Wajar saja dia menang normalkan, sungguh tidak lucu jika Azelia menyukai sesama wanita"
"Ish.. Maksudku apa kau juga menyukainya? "
"Dari dulu aku hanya menyukai satu wanita dan semoga saja kali ini aku beruntung memenangkan hatinya!"
__ADS_1
"Ars jangan seperti ini" Edel merasa bersalah karna sampai saat ini belum bisa membalas perasaan Vincen
"Aku tidak meminta kau membalas perasaanku Edel, jangan merasa bersalah seperti ini" Vincen menggenggam kedua tangan Edel. "Sungguh aku tidak berniat membuatmu merasa tak enak"
"Andai aku bisa Vin, Aku juga ingin memulai, tapi aku tidak sanggup bahkan aku tidak percaya dengan diriku sen diri, sebenarnya ini masalahku". Edel kembali mebuang pandang dan melepas tangan Vinsen
" Bahasamu terlalu bertele-tele, Edel"
"Lalu aku harus apa"
"Kau cukup diam dan liat perjuanganku untuk meraihmu"
"Bagai mana dengan Arsen dan Arman? "
"kau tenang saja aku dan Arsen sudah sepakat untuk bersaing secara sehat, tapi mengenai Arman aku kurang paham aku karna dia terlalu dingin dan kaku".
"Aku takut melukaimu kembali Vin"
"Tidak masalah, aku menerima semua hasil akhir, setidaknya untuk kali ini aku memperjuangkanmu, tidak diam seperti dulu lagi".
......................
__ADS_1