
Jason mengerjapkan mata berulang kali karna silau akan cahaya yang menerpa wajahnya, Entah berapa lama dirinya tak sadarkan diri tapi yang pasti ia merasa asing dengan tempatnya berada. "Aku di mana? " Jasson membuka matanya secara teliti menelisik dan menilai tempat itu mencoba mengenalinya tapi nihil, ia baru menyadari bahwa tempat ini sedikit tidak asing karna ada beberapa benda yang hanya akan di temuinya di rumah sakit.
"Mengapa aku di sini? Siapa yang membawaku? ", ditengah rasa pusingnya Jasson ia bertanya-tanya dan mengedarkan pandang.
Ceklekk..
"Kau sudah bangun?". Jasson terdiam tanpa menjawab pertanyaan yang di tunjukan untuk dirinya, mengerutkan kening, menambang otaknya agar mengingat sesuatu sebelum dirinya berada di tempat ini.
"Kau! " Jasson memekik terkejut saat ia mengingat sebelumnya dia berada di sekolah dan ada dua orang yang memaksanya untuk masuk kedalam mobil.
"Mau apa kau? ". Jasson terjengkit mundur saat orang itu menghampirinya. Pria sekitar umur lima puluh tahunan menghampirinya, di dampingi dengan seseorang yang Jasson yakini sebagai seorang doktet, dengan jas putih yang melekat di tubuhnya.
"Ginjalnya cocok dengan anak anda tuan".
"Tutup mulutmu dok!, tidak sepantasnya kau menakuti pasienmu".
Pernyataan dokter itu membuat Jass tersentak dan seketika matanya membola, tangan mungilnya gemetar bukan main, tubuhnya berkeringat dingin, bahkan di kening anak itu mengucur keringat sebesar biji jagung dirinya takut dan sangat takut. "Mommy, Deddy, tolong Jasson". Lirihnya
"Siapa kau?"
"Kau tidak tidak tau siapa aku?, aku juga Daddymu"
__ADS_1
"Daddyku?"
Apa maksudnya ini? Mengapa ada Daddy lain selain Arsen, terlebih usianya sudah tergolong lebih tua, bukankah Mommynya akan menikah dengan Om Vincen? lalu orang gila mana yang mengaku Daddynya. Jasson mulai menerka-nerka apa yang terjadi, sunghuh otak kecilnya tidak sampai ke arah sana.
"Jasson, kau memiliki saudara yang sedang sakit, Dia memiliki kelainan pada ginjalnya, ginjalnya tidak berpungsi dengan baik, maka aku putus kan kau harus berbagi ginjal dengan saudaramu"
"Sejak kapan? "
"Sudah sekitar satu tahun terakhir"
"Apa sangat sakit? "
"Tapi aku melihat Kya baik-baik saja"
"Kya? "
"Ya Kya saudaraku, aku hanya memiliki satu saudara"
"Lalu anakku tidak kau anggap saudara, dasar bocah bod oh". Dengan marah Pria itu mencengkram rahang mungil Jasson. "Beraninya kau sia lan, kau hidup enak sedangkan putraku harus sakit-sakitan, maka tunggu saja kau akan segera ku kirim ke neraka! "
"Mommy, " Hanya kata itu yang mampu Jasson ucapkan, ia takut dengan apa yang terjadi saat ini, Pria ini mengerikan.
__ADS_1
"Perhatikan sikapmu tuan!, jangan sampai membuat anak ini tertekan jika anda ingin prosesnya segera di lakukan, akan tidak baik jika ia stres dan merasa tertekan, tenanglah" Dokter itu mengintrupsi, dengan perlahan cengkraman itu melonggar dan lepas.
"Pastikan semuanya berjalan seperti inginku" Setelahnya ia hendak berlalu.
"Baik Tuan Sures" Pun doktor itu mengekori langkah Tuannya, meninggalkan Jasson seorang diri di selimuti ketakutan yang nyata.
"Aku ingin pulang, aku membutuhkan pelukanmu Mom.. " Pecah sudah tangisnya, ia tidak berdaya yang mampu ia lakukan adalah memeluk dirinya sendiri dan membisikan kalimat-kalimat penyemanyat, "jasson kau boleh menangis, kau boleh berteriak tapi tidak untuk menyerah". ucapan itu ia tunjukan untuk dirinya sendiri.
...
"Jasson"..
Edel terengah dengan nafas tersenggal, mimpi buruk lagi, sudah dua hari dari Jasdon hilang dirinya tidak mampu memejamkan mata, jangankan untuk tertidur hanya sekedar menelan air putih saja dirinya susah, tapi agar dirinya tetap hidup untuk mencari Jasson ia berjanji akan baik-baik saja.
Clara. Edel yakin ini ada sangkut pautnya dengan ibu biologis putranya, meskipun belum mendapati bukti tapi feelingnya mengarah ke sana, dengan terburu buru ia menemui mantan suaminya.
Arsen benar-benar kacau bahkan ia sudah tidak memejamkan mata sama sekali karna mencari putranya,
"Kemana lagi Deddy harus mencarimu Nak?, pulanglah Daddy merindukanmu. Tuhan kau sudah menhambil satu putraku, aku tidak marah dulu karna aku tahu Anaku adalah titipanmu, maka dari itu ako mohon kembalikan putraku yang ini pada pelukan kami, izinkan kami metawat dan membesarkannya". Edel hanya menatap nanar mantan suaminya, Arsen selalu terlihat kuat dua hari ini tanpa menunjukan kekhawatiran yang berlebih di hadapannya ternyata menangis lirih penuh sayatan di tengah malam hanya kegelapan yang menemaninya, satu kebenaran sekuat-kuatnya Arsen, Arsen tetap seorang ayah yang tengah kehilangan anaknya. Ya Edel tahu Sekarang, Arsen kuat hanya untuk menguatkam dirinya.
"Arsen" Edel memanggil lembut dan membawa laki-laki itu dalam pelukannya. "Tenanglah, Jasson pasti kembali dengan utuh". Arsen hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
__ADS_1