
"Edel apa yang membawamu kemari?". Vincen nampak terkejut mendapati Edelweis di kantornya.
"Vin aku membutuhkan bantuanmu".
"Katakan aku pasti membantumu".
"Begini Vin, kau tahu jika Jasson bukan anak kandungku? "
"Apa? " Vincen tersentak dengan pernyataan cinta pertamanya itu.
"Kau terkejut? "
"Ya aku pikir Jasson putramu dengan Arsen"
"Dia memang putra arsen dengan wanita lain"
"Apa?" lagi lagi Vincen terkejut bahkan sampai tanpa sadar ia menjatuhkan rahangnya dengan lebar
"Ya Jasson memang tidak terlahir dari rahimku, tapi aku menyayanginya seperti darah dagingku sendiri, faktanya dalam diri nya mengalir air susuku. tapi tiba-tiba wanita yang melahirkan Jasson ingin mengambilnya dariku, wanita itu membawa masalah ini ke pengadilan yang di mana aku ragu untuk tetap bisa bersamanya"
"Kemungkinan aku untuk terus merawat dan membesarkannya sangan kecil Vin, seperti yang kau ketahui aku dan Daddy telah bercerai lalu siapa yang mempercayai seorang bocah untuk terus tinggal bersama ibu tirinya, ck aku benci dengan sebutan itu".
"Jika aku bisa memenangkanmu di persidangan, apa yang akan kau berikan kepadaku sebagai imbalan? " Tantang Vincen.
__ADS_1
"Apapun yang kau inginkan akan aku penuhi" dengan sahutan cepat.
"Deal! " keduanya saling berjabatan tangan.
Edel tidak ingin memikirkan apa yang terjadi, dirinya hanya tidak ingin kehilangan putranya, naluri seorang ibunya benar-benar tertantang yang dimana ia akan melakukan apapun untuk kedua anaknya.
"selama kau menjadi klein ku kau harus memenuhi apapun mauku okay"
"kenapa? perjanjiannya jika kau memenangkan Jasson untuk tetap bersamaku".
"kalau tidak mau kau bisa mencari pengacara lain, aku tidak bersedia jika kau menolak inginku" tekan vincen benar-benar tak ingin rugi.
Edel menarik nafas jengkel seraya memutar kedua matanya malas, pengacara lain yang benar saja, saat ini performa Vincenzo Cassano sedang di atas awan Edel harus pandai memampaatkan situasi, mengganti pengacara sama saja Edel mundur satu langkah untuk mendapatkan putranya.
"Baiklah". putus Edel pada akhirnya.
"Nanti malam ikutlat aku menemui ayahku! "
"menemui ayahmu? untuk apa? "
"Kau harus berpura-pura menjadi tunanganku"
"maksudmu tunangan palsu?, Aku tidak mau membohongi orang tua".
__ADS_1
"Kalau begitu jadilah tunanganku yang asli".
"Vin. bisa tidak kau brrbuat licik, aku tau apa yang ada di kepalamu",
"Aku tahu kau pandai, bukankah di sebuah bisnis harus saling menguntungkan? "
"Tidak kah kau ingin membantuku sebagai teman? "
"Hey, Aku tersinggung,". Vincenzo tertawa geli.
Sedang Edel selalu bertanya dalam pikirannya tidak adakah di dunia ini orang yang benar benar tulus untuk membantunya, bahkan temannya sendiri menginginkan imbalan yang tidak masuk akal.
"Sebenarnya jika kau ingin putra baru aku bisa memberikannya Edel" Vincen menggoda temannya dengan jenaka.
"Ish. Cepatlah menikah kau sudah menjadi perjaka tua". Entah keberanian dari mana Edel menanggapi guyonan rekannya
"Dari mana kau tau aku seorang perjaka?" Vincen mendekatkan wajahnya
Edel merasa gugup serta malu, rona merah menghampiri kedua pipinya, wajah keduanya mendekat satu sama lain hingga hidung mereka bersentuhan, tanpa di duga
"CUPP"
Bibir mereka bertemu, tapi anehnya Edel membatu dengan perasaan yang sulit di jelaskan otaknya berkata untuk memberontak tapi tubuh dan hatinya menolak dan tetap diam, merasa Edel tidak menolak Vincen mendaratkan kembali bibirnya di bibir sensual wanita pujaannya itu, ciuman basahpun tercipta dengan manis.
__ADS_1
"Kau sedang munyicil imbalanku, aku mengijinkan kau mengangsurnya sampai lunas di pelaminan"
"Apa!? "