Kutukan Pengantin Hamil

Kutukan Pengantin Hamil
Vincenzo Cassano


__ADS_3

Edel tetap pergi meskipun Arsen tidak mengijinkannya persetan dengan laki-laki itu, ia bukanlah wanita di serial televisi ikan terbang yang akan hanya menangis mendapati suami berselingkuh, ia akui dirinya sakit dan kecewa mendapati kenyataan bahwa suaminya tukang celap celup, ia juga menangis bombay kemarin tapi ia sadar hidup ini masih tetap harus berjalan ia harus mencintai dirinya sendiri, jika takdir mengharuskan dirinya kesakitan maka sudah menjadi tugasnya menyembuhkan sakit itu.


Edel berbelanja barang-barang mewah menggunakan kartu yang diberikan suaminya, Arsen kaya raya menghabiskan uang banyak tidak akan membuatnya bangkrut hartanya berlimpah ruah. "Aku akan menikmati hidup lebih mewah dari biasanya, dari pada wanita lain yang menikmati hartanya lebih baik aku saja".


Edel tertarik untuk memasuki toko perhiasan berlian yang ada di Mall itu, wanita mana yang tidak menyukai perhiasan apa lagi berlian, Oh yang benar saja, Edel mengagumi kalung indah yang berada di dalam box kaca kalung itu terpisah dari perhialan atau kalung lainnya, kalung itu benar benar bersinar di tengah ruanga terang bahkan sepertinya jika mati lampu kalung itu bisa di buat alat penerangan.


"Permisi mbak aku ingin melihat kalung yang itu" Edel menghampiri salah seorang wanita muda yang bekerja di toko itu.


"Maaf Nona kalung itu tidak kami jual"


"jika tidak di jual mengapa di pajang di sini? "


"Itu hanya sekedar pajangan untuk menarik perhatian pengunjung dengan ke indahannya, tapi Nona jangan khwatir kami memiliki koleksi yang lain yang tak kalah indahnya dengan kalung itu"


"Aku ingin yang itu"


"Tidak bisa, itu tidak di jual"


"Ayo lah mbak saya akan membayar berapapu! " Edel sungguh menginginkan kalung itu, tak perduli jika ia harus menghabiskan uang yang banyak untuk benda itu.


"Jess... Berikan saja" Tiba-tiba Pria tampan menghampirinya, tampilannya sungguh mencolok di antara orang di sekitarnya ia hanya mengenakan piama tidur, Astaga jam berapa ini, mengapa pria itu mengenakan piama terlebih di dalam mall pikir Edel.


"Ta-tapi tuan!"

__ADS_1


"Jangan banyak berbicara lebih baik berikan sekarang"


"Tapi aturan mainnya tidak seperti itu Tuan! "


"Aku yang membuat peraturannya. Jess si cantik itu pemiliknya" Bisik pria itu di akhir kalimat sengaja agar tidak terdengar Edel.


"Baik tuan". Jess mengambil kalung itu sedangkan Edel mengerutkan kening tak percaya mengapa bisa pelayan itu menuruti ucapan pria itu mungkin saja pria itu pemilik toko perhiasan berlian ini. Astaga bukannya perhiasan ini benar benar tersohor di negri ini bukannya ini suatu keberuntungan ia dapat bertemu dengan pemiliknya.


"Biar ku pakaikan Nona" Jess memasangkan kalung itu leher jenjang Edelweis.


"Indah sekali" Edel takjub dengan keindahan kalung itu.


"Lebih indah dirimu Nona Edelweis Wirata". Edel menoleh ke arah laki-laki itu.


"Aku tidak akan pernah melupakan dirimu, kau masih sama cantik seperti dulu"


"Apa aku mengenalmu sebelumnya?"


"Vincenzo, apa kau mengingatnya? " Edel berusaha mengingat kembali nama itu, dan mulutnya ternganga saat memorinya mengingat nama itu.


"Vincenzo Cassano? " Vincenzo hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Tanpa di duga Edel melompat kepelukan laki laki itu.


"Aku bahagia bertemu denganmu, Astaga kau tumbuh dengan sangat baik". Edel mengurai pelukan. " kau sangat tampan" Edel menangkup wajah pria itu. "tubuhmu juga sangat indah dan berotot, pasti kau bekerja keras untuk ini" tangannya kini bealih menangkup bahu lebar itu.

__ADS_1


"Aku tidak menyangkalnya itu semua benar"


"Bagai mana kabarmu?"


"Baik. Kau apa kabar putri cantik!"


"seperti yang kau lihat" Edel tersenyum getir


"Aku melihatmu kesakitan putri cantik"


"Aku baik baik saja. Kau pemilik toko perhiasan ini Vin? "


"Ya.. Apa kau percaya? "


"Yang ku tahu kau kuliah di jurusan hukum, mengapa bisa jadi pengusaha berlian? "


"Ah, itu hanya sarana untuk melindungi usahaku Edel. Gelarku bahkan sarjana hukum. Pekerjaanku bahkan pengacara, kau tentu usahaku ini agak beresiko jika aku tidak memiliki hal hal yang berbau politik".


"Kau madih cerdas sama seperti dulu".


"Mau makan bersamaku? "


"tentu saja, kita sekalian Reuni".

__ADS_1


__ADS_2