
"Aku... "
"Katakan!!". Arsen membentak Luna, mendesak wanita itu untuk berbicara sungguh dirinya sudah tidak sabar menunggu.
"E-Edelweis, sebenarnya,". Luna sesekali melirik mantan seniornya, ia meremas dan menautkan jari jemarinya untuk mengalihkan perasaan gugupnya. "Sebenarnya Vincenzo telah membayarku dengan harga yang sangat tinggi untuk merayu mantan suamimu". Luna berkata cepat, tanpa beban dalam nada bicaranya.
Arsen menyunggingkan senyum sinis, seakan mengejek wajah panik yang di tunjukan rivalnya.
"Sa-sayang, a-aku, aku bisa jelaska-" Edel mengangkat satu tangannya, seperti isyarat agar Vinven menghentikan kalimatnya.
Vincen menundukan pandang tak sanggup jika harus melihat kekecewaan di wajah kekasihnya, bayangan tentang Edel akan membencinya mengganggu sistem kerja otaknya.
"Tak perlu menjelaskan apapun, cukup jawab peryanyaanku". Edel melirik Vincen menikmati wajah ketakutan kekasihnya.
'Bagai mana ini?' Kemana jati diri Vincen yang seorang pengacara handal, yang pandai berbicara, pandai membuat dirinya setenang mungkin menghadapi lawan bicaranya, bahkan Vincen tidak pernah gagal dalam pekerjaannya sebagai pengacara, ataupun sebagai seorang yang berkuasa.
"Tuan Cassano apakah benar kau membayar, ****** ini untuk menggoda Ayahnya Jasson?, " Cih Edel bahkan enggan untuk menyebut Arsen mantannya.
"Ya, " Vincen menjawab lesu, tak ingin terlalu lama berada di situasi ini, "Tapi aku punya alasan".
__ADS_1
"Agar kau bisa mendekatiku? "
"Itu salah satunya". Aku Vincen jujur.
"Edel kau dengarkan?, pria itu tidak sebaik yang kau pikir". Arsen angkat bicara, ingin agar Vincen merasa terpojok.
"Aku salah, dan aku tidak akan meminta maaf". Kini Vincen mengangkat kepala, menatap penuh permusuhan tubuh Arsen, wajah pucatnya berganti dengan muka merah padam, menampilkan amarah dalam dirinya.
"Kau sungguh tidak ingin meminta maaf?, setelah menghancurkan ikatan pernikan. "
"Tidak sama sekali, dan tidak akan peranah".
"Angkuh sekali dirimu, Dude!, aku ingin lihat sampai di mana sikaf angkuhmu bertahan setelah ini."
"Kau... "
"Apa tujuanmu sebenarnya Luna?, aku tahu betul keluargamu tidak semiskin itu, sampai kau menerima uang darinya". Semua orang mengalihkan tatapan pada sosok yang nampak tenang, tidak terpengaruh dengan atmosfer yang ada di ruangan itu.
"Kau tahu? dari jaman sekolah dulu aku membencimu Edelweis, kau selalu mendapatkan apapun yang kau inginkan, semua teman-temanmu selalu memujimu dengan kagum, semua yang kau miliki membuat aku iri Edel". Luna memaki Edel.
__ADS_1
"Ka-kalian? saling mengenal?" Hanya Arsen yang terlihat seperti orang bodoh disini.
"Ya kami satu sekolah dulu, aku dan Vincen sekelas, sedang Luna sekelas di bawah kami". Edelweis dengan malas memberi tahu Arsen, Pria itu nampak Syok dan terkejut sampai ia memundurkan langkah.
"Kau tahu Arsen mengapa aku tak ingin memutuskan hubungan?, saat kau memintaku mengakhirinya, itu karna hanya dirimu yang milik Edel dan berhasil ku miliki juga, aku merasa telah mengalahkan tuan putri itu, setidanya semua orang memanggilnya demikian, penuh kekaguman dengan paras dan kebaikannya, dia situan putri baik hati, di masa lalu semua pria yang ku sukai mereka semua menggilai perempuan itu". Tunjuk Luna dengan dendam.
"Itu memang karna Tuan putriku mengagumkan sialan" Vincen menimpali, "Hanya kau pria terbodoh yang ku temui setelah kakakmu". Lanjutnya yang di maksudkan menghardik Arsen yang hanya bergeming di tempatnya.
Edel hanya diam mengatupkan bibir dengan rapat, matanya hanya memandang Vincenzo dengan penuh pertimbangan.
"Awalnya aku hanya memastikan, memastikan bahwa kau berada di tangan pria yang tepat, meskipun sebenarnya aku mulai putus asa untuk mendapatkanmu, kau tentu paham bukan aku tidak ingin kau sengsara, terserah kau jika ingin marah, akan aku terima".
"Kau memang harus di hukum perjaka tua". Edel mendesis.
"Iya. Kau benar, asalkan kau jangan mengutukku, dan jangan meninggalkanku".
"Akan ku pikirkan nanti".
Edel sudah menduga ini sebelumnya, alih-alih iaakan memutuskan hubungan, justru dirinya merasa bangga dan lebih di cintai, sebegitu berhargakah ia di mata Vincenzo?, sampai pria itu tidak melepasnya dari pengawasan pria itu meskipun setatusnya masih menjadi istri orang. Haruskah ia bersyukur untuk kali ini di cintai begitu besar dengan seorang pria yang begitu rupawan, semua luka yang dilaluinya mengajarkan dirinya agar selalu menjalani hidup dengan baik.
__ADS_1
"Luna apa kau bahagia setelah ini? ".
Apa-apaan Edelweis ini setelah ia menghancurkan rumah tangga wanita itu, dia justru menanyakan kebahagiaannya.