
"Bagai mana kabar cinta pertamu? "
"Dia sudah kehilangan pesonanya"
Vincenzo tergelak kencang, "Kau yakin? "
"Sangat yakin".
"Aku ragu, kau memujanya hampir sepuluh tahun itu yang kuketahu."
"Ya, dan aku membencinya sudah sepuluh tahun pula,"
"Iya aku amelihat kebencian di matamu saat berhadapan dengannya"
"Memang itu faktany".
"Edel boleh aku bertanya sesuatu?".
"katakan? "
"Dari yang ku lihat, kau telah memaafkan Arsen apa benar? "
"Ya, itu memang benar"
"Lalu mengapa kau tidah bisa memaafkan Arman?"
"Itu hakku kan? untuk membenci dan memaafkan seseorang"
__ADS_1
"Tentu saja"
"Entahlah Vin, aku sudah berusaha, tapi.. " Suaranya tercekat, "Kau tahu bahkan aku, setelah ke jadian itu aku tidak berani melihat bayanganku sendiri, tidak bernyali bahkan untuk menampakan diri di hadapan keluarga bahkan teman-temanku".
"Separah itu? "
"Hm, aku bahkan tidak pernah hadir saat teman sekolah kita mengadakan reuni, terlalu hina rasanya jika aku berada di tengah mereka".
"Jangan berbicara seperti itu, kau berharga Edel kau baik, kau tidak buruk sama sekali". Vincen mencoba menghibur calon istrinya.
"Baik, aku adalah wanita yang menyerahkan kesucianku sebelum pernikahan, aku adalah orang yan hamil di luar nikah, bahkan mantan suamiku menghianati aku, jika aku baik semua kemalangan itu tidak akan terjadi padaku Vin"
"Aku merasa telah di kutuk dalam kehidupan ini untuk terus menderita"
"Stt, berhenti berbicara omong kosong dihadapanku Edel".
"Rasanya asin sayang".
"Aku tidak ingin kau menyesal di kemudian hari,".
"Untuk itulah, kau harus betumur panjang agar bisa melihat jika aku tidak akan menyesal telah memilihmu sebagai wanitaku".
Vincenzo tidak menyangka sepedih ini hidup yang di lalui kekasihnya, Ia telah melewati banyak hal dalam hidupnya, luka dan air mata sudah Vincen jadikan amunisi untuk menjalani hidup, tapi mengetahui kenyataan yang di lalui kekasihnya menjadikannya seperti tak berguna.
"Maaf, kau telah melewati banyak hal yang menyedihkan tanpaku".
Sungguh jika bisa, ia ingin mengganti semua rasa sakit yang di derita Edel dengan apapunyang di milikinya.
__ADS_1
"Vin, aku lapar sekali". Vincen senang mendengar suara manja itu, ia merindukan tuan putrinya ini di masa lalu.
"Apakah mantan cinta pertamamu tidak memberimu makan?"
"Aku tidak ingin menerima apapun lagi dari pria lain yang bukan kekasihku". Apa katanya kekasih, hanya dengan kata itu Vincen merasa melambung hatinya berbunga-bunga, perutnya melilit seakan ada ribuan semut yang merayapi seluruh tubuhnya, astagha ia kesemutan atau kesetanan sampai tak berkedip sama sekali.
"Vin kau baik-baik saja,? "Edel bertanya khawatir tidak ingin Vincennya melongo seperti orang bodoh.
"Vincen, "Lagi-lagi Edel memanggil.
"Ya, sayangku kenapa? "
"Kau dari tadi ku panggil tidak merespon"
"Maaf, Ayo makan" Saat keduanya hendak ber anjak, tiba-tiba pintu di buka dengan kasar.
Arsen muncul dengan menarik lengan seorang wanita, dan wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Luna,
Seketika wajah Vincenzo pucat pasi, bulir keringat membasahi kening serta tubuhnya, ini yang ia takutkan, ia takut keburukannya akan terbuka, ia dangat takut Edel menjauhinya, atau bahkan membatalkan rencana pernikahannya.
"Edel, Pria sok pahlawan ini telah terlalu banyak membohongimu"
"Luna katakan yang sebenarnya"
Deg
"Aku....
__ADS_1
.