Kutukan Pengantin Hamil

Kutukan Pengantin Hamil
Gugup


__ADS_3

Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat sampai saatnya tiba untuk Vincen dan Edelweis menikah, mengikat dua orang, dua hati, dan dua jiwa dalam satu komitmen yang sah.


Ini bukan pertamakali untuk Edelweis yang dimana pernikahan ini merupakan pernikahan keduanya, tapi tetap saja dirinya merasa gugup juga cemas, tapi ada datu titik rasa yang membuncah di sanubarinya, yang sangat sulit untuk menjabarkannya, jika di masa lalu pernikahannya diawali dengan luka dan air mata, berbeda dengan ini, luka yang dulu kini perlahan mengering.


Di depan cermin Edel melihat dirinya sendiri melalui pantulan kaca di hadapannya. "Semoga setelah ini tidak akan lagi ada penderitan untukku".


"Mom, aku sendiri yang akan mengantarmu ke altar pernikan, aku sudah meminta langsung pada Kakek," Jasson menghampiri Mommynya mengecup lembut telapak tangan wanita yang telah membesarkannya.


Sejauh ini Edel merasa bangga kepada dirinya sendiri yang telah berhasil mendidik Jasson menjadi Pria kecil yang manis dan bertanggung jawab, semoga saja sipat paman serta ayahnya tidak ada yang ikut pada diri putranya, itu harapan terbesarnya.


"Kau sangat baik sayang". Dengan haru Edel memeluk putranya. Dengan cekatan Jasson menghapus air mata ibunya menggunakan tangannya sendiri.


"Sudahi tangismu"


"Mommy tidak bisa".

__ADS_1


"Mom, jangan ada lagi air mata setelah ini!, akan aku pastikan Papa Vincen akan membuatmu menjadi seorang ratu satu-satunya di hidupnya, jika sampai Papa Vincen menorehkan luka seujung kuku saja pada diri Mommy aku sendiri yang akan menghakiminya dengan caraku sendiri". Ucapnya sungguh-sungguh.


"Dengan apa kau mau menghukum Om Vincen, sedangkan kau kurus dan kecil seperti ini". Kyara membuyarkan suadana haru dengan celoteh meledeknya.


"Memang badanku sekarang kurus, tapi lihatlah setelah beberapa tahun kemudian, aku akan tumbuh kekar, tangguh dan mempesona". Jasson menyahut ucapan saudarinya.


"Percaya diri sekali kau".


"Jangan menghinaku Kya, adikmu ini akan menjadi perisai untukmu dan keluarga kita di masa depan, aku akan menjamin keselamatan dan kebahagian kalian".


...


"Dad, aku benar-benar gugup". Vincenzo meremat jemarinya yang berkeringat dingin, di pelipis pria itu keringat sebiji gigi kucing nampak bercucuran.


"Tenanglah, kau akan menikah bukan akan mati, mengapa tegang sekali?, yang akan kau temui itu bidadarimu, bukan malaikat pencabut nyawa". Ayahnya melontarkan kalimat menohok.

__ADS_1


"Astagha apa Daddy waras mengatakan itu?, apa Daddy tidakmerasakan kegugupan yang sama denganku waktu menikah? "


"Hey menikahi siapa maksudmu?, sampai saat ini aku bersetatus belum menikah".


"Aku hampir lupa, kau tidak pernah menikah tapi mempunyai banyak anak, kau hebat Dad".


"Ya aku memang Pria hebat yang beruntung".


Vincenzo tak ingin menyahut lagi sudah cukup kesal karna jawabang ayahnya yang menjengkelkan. Jika sampai ia menyahut kembali sudah di pastikan pria tua itu akan membanggakan dirinya berulang kali, padahal ini bukan hal membanggakan tapi justru memalukan pikirnya.


"Semoga hari ini bukan mimpi, bertahun-tahun aku menantikan hari ini, hari yang di mana aku akan memiliki wanita yang paling aku cintai sedari dulu, bagiku Edelweis adalah duniaku, tidak sedetikpun aky berhenti memikirkan tentang dirinya, meskipun setatusnya masih istri orang lain dulu tapi aku tetap memujanya, persetan jika ada yang mengatakan bahwa aku budak atau pun pengemis cinta, karna sesungguhnya aku hanya seorang musyafir cinta darinya dari wanita yang menjadi tujuan dan tempat untuk aku pulang. Aku mencintaimu Edelweis Cassano". dengan kata-kata itu ia menengangkan diri meskipun tidak membantu sama sekali


.


Hey Gaes. Mampir juga di dua karya baruku, caranya klik profile aku, maka akan muncul semua karyaku di tunggu dukungannya okey, Salam sayang untuk kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2