Kutukan Pengantin Hamil

Kutukan Pengantin Hamil
Rasanya berbeda


__ADS_3

Arsen menunggu istrinya di kamar, setelah memutus hubunganya dengan Luna dan memberhentikannya dari pekerjaan juga memberikannya sejumlah uang sebagai konpensasi meskipun Luna menolak untuk menyudahi hubungan dengannya, Arsen tidak peduli akan hal itu baginya sudah cukup dirinya bermain-main dan kini waktunya untuk pulang ke rumah ternyamannya yaitu istrinya.


Ceklek...


Edelweis kembali kedalam kamar dengan ke adaan basah kuyup, Air menetes dari tubuh wanita cakntik itu betul betul seksih dan menantang, pria bodoh mana yang tidak bersukur memilikinya.


"Kau dari mana?.."


"Berenang".


"Malam malam? "


"Ya, udaranya begitu panas aku mendinginkan diri dengan berenang". Saat pintu kamar mandi akan tertutup Arsen menahan pergerakan istrinya dengan cara memeluk erat dirinya.


"Aku merindukanmu".


"Kau bilang tadi kau lelah".


"Tidak untuk yang satu ini".


"Tidurlar... Aku hanya tidak ingin kau kelelahan lalu kau sakit".

__ADS_1


"Aku tidak selemah itu, aku madih sanggup membuatmu menjerit semalaman meneriaki namaku".


Arsen memeluk tubuh basah itu mengusap purut datar istrinya dan secara perlahan naik ke atas dada ranumnya, sudah lumayan lama dia tidak nelakukan hubungan dengan istrinya. Ia begitu menggebu malam ini jiga sebelum sebelumnya dirinya akan menyentuh lembut istrinya berbeda dengan malam ini ia menginginkan permainan istimewa.


Permainan yang di pimpin olehnya benar benar memuaskannya Arsen terkapar lemah di tubuh istrinya ia biarkan tubuh kekarnya menindih tubuh wanitanya.


"Berat.. "


"Maaf..." dengan sekali tarikan posisi berubah menjadi istrinya di atas Celah tubuh maria berdenyut kembali di kala benda tumpul itu masih tertanam di intinya.


"Kalau seperti ini kau yang berat". Arsen menggoda istrinya mengecup bibir.


"Biar aku turun". tanpa di duga Arsen mendorong tubuh istrinya perlahan membuatnya duduk di perut bawahnya.


"Selalu saja menyebalkan". Tapi dengan patuh Edel bergerak menikmati ritme penyatuannya kembali, untuk saat ini dirinya yang memimpin permainan. Tadi bertengkar sekarang bercinta, Ah nikmat mana lagi yang lebih Enak dari ini bukankah setelah pertengkaran selalu ada cinta yang panas.


...


"Dimana ini?"


Ruangan yang begitu romantis seperti kamar pengantin, ranjang dengan sprai berwarna putih di hiasi dengan kelopak bunga mawar merah menciptakan kesan intim di dalamnya, lilin lilin kecil menyala di lantai menciptakan cahaya temaram yang hangat, Arman mengedarkan pandangan mengelilingi tempat itu pandangannya melotot serta matanya membola mendapati Edelweis menghampiri dirinya dengan bertelanjang bulat bagaikan bayi baru lahir.

__ADS_1


Tubuh indah itu menghampiri diri Arman meletakan jemari lentiknya di pundak pria itu merangkul serta mengelus pelan menjelajahi bahu lebar, dan dada bidangnya, Arsen kesulitan menelan gumpalan ludahnya yang mendadak terasa pahit, Astaga lelucon macam apa ini? bahkan jakut pria itu naik turun, dan dengan berani Edelweis mengendus leher pria itu mengecup serta mencicipi dengan lidahnya dengan ahir minggigit kecil lehernya dengan gemas, Sangat aneh arsen sama sekali tidah dapat bergerak untuk menolak atau menyambut cumbuan adik iparnya, yang dilalakukan hanya berdiri memaku serta menikmati sentuhan istri dari adiknya.


Satu persatu pakaian Arman di lucuti dengan sangat lihai, ia menyadari ini sebuah kesalahan tapi dirinya tidak mampu memberotak, Arman hanyut dalam buai rasa yang sangat memabukan.


"Ahhh... Ahhh... Awwhhh.. Sthhh..


Dirinya terkejut saat tiba-tiba Edel sudah menyentuh senjatanya yang sudah tegak berdiri mengelusnya serta mengurutnya dengan pelan menciptakan gelayai aneh dan rasa baru bada dirinya, selanjutnya Edel berjongkok lalu mengecup kebanggaan para pria itu, menjulurkan lidah mencicipi rasa itu, tanpa di buga sebelumnya Edel memasukan ujung bulat srperti topi tentara, benda berurat itu kedalam mulutnya.


"Ini besar sekali,"


"Aku anggap itu pujian"


" Apakah akan muat di mulutku?"


"Tentu saja.. Apa kau mau menghi sapnya untukku?". Edel hanya menanggapi dengan anggukan kepala


Arman meraih kepala Edelweis mengumpulkan rambut panjang gadis itu dalam genggamannya sedangkan Edel sudah memulai Aksinya mencucup, menjilat menghi sap seperti tengah menikmati permen, Arsen melayang terbang ke nirwana dengan kegiatannya sungguh dirinya benar-benar dimanjakan dengan kegiatan nikmat itu


,Ahhhh...


Hanya lolongan raungan dan teriakan yang pria itu lakukan sebagai cara melampiaskan rasa nikmat pada dirinya ia tak ingin ini berakhir. Kepalanya mendongak dengan mata terpejam

__ADS_1


"Ooowhhhh"... Erangan panjang terdengar berat menyudahi permainan lava putih nan hangat itu tumpah ruah di mulut seksih Edelweis.


"Ya seperti itu Edel kau benar benar pandai". Arman menyeringai puas.


__ADS_2