Kutukan Pengantin Hamil

Kutukan Pengantin Hamil
Aku istri orang


__ADS_3

Arsen menatap tangannya yang baru saja menampar istrinya seluruh tubuhnya gemetar dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya, "Apa yang telah ku lakukan?" Kemudian berlari keluar menyusul istrinya yang kini telah mengendarai mobil sendiri dengan sekejap mobil ktu hilang di pandangan matanya.


"Edel hanya sedang butuh waktu sendiri, akan lebih baik jika aku membiarkannya terlebih dahulu lalu setelahnya aku akan memohon maaf, dia tipikal orang yang bermurah hati pasti mau memaafkanku" Arsen berjalan menuju dapur mendekati lemari pendingin mengambil air putih dan manuangkannya dalam gelas dan meneguknya hingga tandas. Hawa tubuhnya terasa panas berusaha ia redam tapi tetap amarah menguasai dirinya, Arsen melirik kembali tangan yang dengan lancang menyentuh wajah istrinya sampai terluka sungguh dirinya menyesal tidak dapat mengendalikan diri dan terpancing makian istriny, padahal wajar saja istrinya marah saat mengetahui suaminya bermain gila dengan wanita lain tapi saking saja ego Arsen terlalu tinggi, tanpa sadar tangan itu mencengkram kuat gelas kosong yang sedang di pegangnya meluapkan amarah pada dirinya sendiri, buku buku jarinya menonjol pucat menandakan kuatnya genggaman itu


Pyaaarrr...


Gelas itu pecah berhamburan bahkan telapak tangan itu terluka saat meremukan pecahan gelas, tangannya mengepal erat menggenggam beberapa serpihan kaca sampai darah segar mengucur dari genggaman itu. "Tangan ini yang telah melukaimu Edel, aku telah menghukum tangan ini".


Suasana rumah begitu sepi hanya ada beberapa pelayan yang melintas mengerjakan pekerjaan mereka. Arsen membiarkan luka di tangannya terbuka ia ingin menunggukan pada istrinya bahwa ia telah menghukum tangan keparat ini.


"Kemana Kya dan Jass? " Arsen bertanya pada pelayan yang melewati dirinya.


"Menginap di rumah Tuan Chandra, tadi beliau menjemput mereka atas permintaan Nona, Tuan"


"Ya dudah kau kembalilah bekerja".


Arsen menaiki anak tangga menuju kamarnya, darahnya berceceran mengikuti setiap langkah tuannya, tapi saat membuka pintu dirinya di kejutkan dengan kondisi kamar yang nampak seperti korban bencana semua berantakan beberapa perabot pecah dan sudah di pastikan Edel lah dalang dari ini semua, ia memasuki kamar yang suni itu membaringkan tubuhnya yang lelah, ia butuh tidur mengkin dengan tidur semua akan selesai, ia berharap saat ia bangun semuanya akan baik baik saja.


Arsen terbangun pukul sepuluh malam,


"Edel! " dirinya bermimpi Edel pergi. Ia panik tidak mendapati Edel, Arsen mencari dengan membabi buta keseluruh sudut rumah namun yang di carinya tak kunjung terlihat.


"Pelayan!! " beberapa pelayan menghampirinya.


"Kemana istriku? "


"Nona belum kembali sejak Nona pergi" Semakin gusar saja Arsen.


Arsen segera meraih ponselnya menghubungi istrinya tapi bunyi ponsel terdengar di ruangan itu pertanda Edel tidak membawa ponselnya. Ya dirinya baru ingat jika ponsel istrinya pemicu pertengkaran yang berakhir dengan tamparan. Bukan ponsel lebih tepatnya isi dari ponsel itu, di bukanya ponsel istrinya mengecek satu persatu applikasi di ponsel itu untuk memastikan siapa yang mengirimkan rekaman menjijikan itu, sebuah nomor tidak di kenal.


"Siall.. Ini pasti ulah jallang itu"


Arsen pergi mengendarai mobilnya, perih ditangan ia abaikan, tujuannya hanya satu ke Apartemen Luna, dengan asal Arsen memarkinkan mobilnya melompat keluar dengan berlari Arsen menuju unit Luna berada.


Brakk Brakk


"Kau datang? kau merindukanku sayang?".


Setelah pintu terbuka arsen langsung menerjang tubuh Luna menghimpitnya kepintu mencekik leher itu dengan sangat kencang, "Aku sudah memperingatkanmu jallang! tapi ternyata kau sangat bebal". Amarah tercipta jelas di wajah tampan itu.

__ADS_1


"Ars... Ars" Luna kesulitan berkata dirinya hampir kehabisan nafas, air mata sudah bercucuran bahkan mulutnya terbuka dengan lidang yang menjulur, sedetik kemudian tubuhnya melayang di hempas Arsen membentur lantai.


Uhuk... Uuhuukkk...


Luna terbatuk batuk sembari memegagi lehernya yang tercekak lima jari, lehernya bahkan berlumur darah berasal dari telapak tangan Arsen. Sudah di pastikan luka tangan Arsen pasti parah namun pria itu mengabaikannya.


"Ini peringatan terakhir! jika sekali lagi kau berulah aku tidak akan mengampunimu". Arsen berlalu, tujuan selanjutnya adalah kediaman mertuanya pasti Edel ada di rumah Papa Chandra pikirnya.


...


"Apa yang terjadi Arman? mengapa aku memakai bajumu?"


"Semalam kau mabuk"


"Ya aku tau, maksudku mengapa bisa aku di sini? "


"Kau tidak ingin pulang, maka aku putuskan membawamu ke tempatku"


"Dimana pakaianku? "


"Sudah ku buang"


"mengapa kau membuang pakaianku? "


"Arman!.."


"Hmmm"


"Apa semalam kita tidur bersama? "


"Iyaa"


"Kita tidak melakukan apapun kan? "


"Maksudku kita hanya benar benar tidur".


"Apa kau tak mengingatnya semalam kita melakukan apa? " Edel menggelengkan kepalanya lemah. Tanpa di sadari Edel Arman menarik sudut bibirnya singkat


"Tenang saja Edel aku tidak akan akan memarahimu seperti kejadian 7 tahun lalu, lagi pula semalam aku sangat menikmatinya".

__ADS_1


Edel memelototkan matanya dan membuka mulutnya selebar mungkin, wajahnya kini merah padam entah karna terkejut, malu atau marah tapi yang jelas bagai mana bisa duda siallan itu berkata tanpa aling aling.


"Kau bersihkan dirimu tetlebih dahulu, setelah itu baru kita bicara"


"Baiklah". Edel memasuki kamar mandi tapi disaat ia akan menutup pintu kamar mandi Arman berteriak


"Edel jangan terkejut dengan jumlah tanda ke pemilikan di tubuhmu, maaf aku terlalu bersemangat, sudah tujuh tahun aku tidak menyentuh wanita".


"Astagaaa" setelah membuka habis pakaiannya Edel tidak langsung mandi, dirinya mematung berdiri di depan cermin, ia tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini, siapa yang patut di salahkan, ia membenci Arsen karna telah mengkhianatinya tapi apa ini dirinya juga mengkhianati pernikahan mereka, meskipun ia melakunnya dalam keadaan tidak sadar. Tapi yang lebih gila lagi dirinya melakukan penghianatan dengan kakak iparnya sendiri, ia mencoba mengingat kembali kejadian semalam yang di ingatnya adalah saat ia mencium paksa kakak iparnya tapi Arman menolaknya dengan paksa pula Edel merobek bajunya sendiri lalu dengan tidak tahu malunya Edel mengatai Arman dengan sebutan pria impoten setelanya Astaga bahkan Edel malu untuk mengingatnya lagi.


Lamunannya buyar saat Arman mengetuk pintu dan memberiakn pakaian ganti yang telah Arman pesan sebelumnya dari aplikasi online.


Tiga puluh menit Edel membersihkan diri


"Duduk, makan lah dulu baru kita bicara. "


Edel hanya menurut dan mengikuti perintah duda tampan itu, menghabiskan makananya dalam diam. Setidaknya kakak iparnya itu baik memberinya makan dan pakaian yang layak


"Ehemmm"


Edel berdehem untuk memusnahkan kecanggungan.


"Begini... Kita sudah sama sama dewasa, aku hanya ingin bilang Dua orang yang berlawanan jenis berada dalam satu kamar pasti melakukan hal yang iya-iya maksudku meskipun aku tidak mengingat semuanya tapi kita sudah melewati batas jadi jadi" Edel gugup.


"Bahasamu terlalu berbelit belit. Apa maumu? "


"Lupakan.. Lupakan semua hal yang terjadi di antara kita tadi malam".


"Tidak semudah itu"


"Kau mau menuntutku, bahkan kau bukan seorang perjaka lagi".


"Ya aku menuntutmu karna aku seorang duda"


"ya kau duda, lalu apa masalahnya? "


"kau harus bertanggung jawab"


"Tapi aku istri orang, tidak mungkin aku menikahi seorang duda"

__ADS_1


"Bagai mana jika kau hamil? "


"Ha-ha-hamil".


__ADS_2