
6 Tahun kemudian
Rumah tangga Arsen dan Edelweis berjalan dengan harmonis meskipun perdebatan sering terjadi di antara mereka tapi semuanya mampu di lewati dengan apik tanpa harus berkepanjangan. Keluarga kecil itu tinggal serumah dengan kedua orang tua Arsen, mertua Edel sangat berperan besar dalam membesarkan kedua cucunya itu, sedangkan Arman tinggal di Apartemen hanya sesekali saja pulang ke rumah orangtuanya untuk berkunjung atau hanya sekedar melihat putrinya.
Sudah beberapa tahun berlalu tapi Arman masih betah menyandang gelar seorang duda, bukan dirinya tidak ingin menikah lagi atau memulai sebuah hubungan dengan seorang wanita hanya saja dirinya selalu digentayangi masa lalu yang pelik untuk di selesaikan.
"Okay... Hari ini Papi akan pulang kerumah hanya karna Kya merindukan Papi" Arman sangat bersemangat karna putri kecilnya sedang merindukan dirinya. Ya meskipun hubungan Edel dan Arman terkesan tidak berhubungan baik tapi Arman selalu mengutamakan keinginan buah hati satu satunya.
...
Bak pepatah mengatakan semakin tinggi pohon maka semakin kencang pula angin yang menerpa, begitu juga dengan keadaannya saat ini Arsen sering kali pulang terlambat, larut malam atau malah hampir menjelang pagi terang saja hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan dan perasangka di diri istrinya.
"Ars... Apakah malam ini kau akan makan di rumah? aku masak makanan kesukaanmu". Saat menutup panggilan Edel menghembuskan nafas lelah, lagi dan lagi Arsen menghabiskan waktu malam di luar rumah.
"Kyaaaa... "
__ADS_1
"Berisik ini rumah bukan hutan".
"Aku hanya memanggil putriku, memangnya kenapa jika aku berteriak? ".
"Cih.. Putrimu...." belum sempat Edel menyelesaikan ucapannya terdengar teriakan Kyara yang nyaring sambil berlari dan menubruk tubuh jangkung Arman.
"Papiii... bawa apa? "
"tentu saja mainan untuk kesayangn Papi, Jasson di mana? Papi juga membawa pesawat untuknya." Arman mengecupi wajah imut gadis itu.
"Bilang saja jika kau ingin ku cium juga, aku akan berbaik hati memberikannya" matanya melirik istri dari adiknya itu. "jujur saja kau nampak seperti menginginkan kecupan pertemuan dari ayah anakmu".
"Amit-amit.. " pun Edel berlalu dari sana.
,,,
__ADS_1
Saat makan malam tiba semua orang berkumpul mengelilingi meja makan. Tapi sebelum memulai memakan hidangan Jasson memecah keheningan. "Mom apa Daddy malam ini tidak makan malam di rumah lagi?". Semua mata tertuju pada diri Edel seakan di sini dirinya menjadi tersangka utama ketiadaan suaminya, sebisa mungkin Edel memutar otak mencari alasan yang tepat kata lembur terlalu sering ia gunakan memang begitu keadaannya.
"Hmmm.. Jasson lebih baik makan sekarang saja ini sudah terlalu malam, mungkin Daddymu terjebak macet, Ayo makan nanti Oma temani tidur ya". Untung saja ibu mertua Edel peka dengan keadaan.
'Ada apa dengan hubungan mereka makin kesini malah terasa aneh, aku beberapa kali berkunjung kesini tapi tidak bertemu dengan Arsen dengan dalih pekerjaan kantor, padahal aku tahu betul jam pulang kantor bahkan tidak ada pekerjaan yang bermasalah akhir akhir ini, dan tunggu dulu dari tadi Papa diam saja apa dia mengetahui sesuatu aku mulai curiga' Arman terus saja berperang dengan pikirannya tapi tidak menghentikan dirinya mengunyah makanan.
...
"Kau itu kenapa Ars makin kesini aku semakin tidak mengenalmu? ".
"Kau terlalu membesar besarkan semua hal Edel, Aku lelah aku butuh istirahat jika kau ingin berdebat simpan saja untuk hari Esok".
"Apa yang kau sembunyikan dariku Ars?... Apa aku memiliki salah tolong katakan jangan seperti ini, kasihan anak anak selalu menanyakanmu kau pulang larut dan pergi bahkan sebelum matahari terbit, apa kau melakukan semua ini untuk menghindariku?". Luruh sudah air mata wanita itu tangisnya tidak dapat ia bendung. "Bahkan tadi pagi aku melihat kemeja yang kau rendam di kamar mandi menyisakan noda warna merah di bagian dadamu, tidak mungkin jika kau ingin mengatan jika itu noda sauskan" ...
Deggg...
__ADS_1