
Ingin memperbaiki rumah tangganya itu lah yang akan di lakukannya kini. Edel sudah sadar sejak beberapa jam yang lalu, kebenarannya Edel pingsan karna tekanan darahnya yang rendah dan kelelahan dalam beberapa hari ini, tubuh penuh luka cambukan itu perlahan memudar bahkan beberapa sudah tak terlihat karna di obati dengan dosis yang tepat. Arsen memasuki ruang rawat istrinya "Sayang!". Panggilnya pelan nyaris seperti bisikan, Edel hanya bergeming tak merespon sedikitpun panggilan Arsen.
Arsen menghampiri istrinya dan berlutut di samping brankar rumah sakit, "Aku bersalah aku mengakui dosa-dosaku, aku akan menerima semua hukumanku, kau boleh memotong kedua tangan ini yang telah lancang melukaimu aku bersedia melakukan apapun asal kau mau memaafkanku, ku mohon! "Arsen menghiba dengan bersimpuh takberdaya mengatupkan kedua tangannya memohon pengampunan, semoga saja dengan ini Edelweis masih mau memaafkannya.
"Ceraikan aku! " Akhirnya kata itu meluncur dari mulut Edelweis tanpa mengalihkan tatapannya, terus terang Edel juga terluka melihat Arsen mmemohon sampai bersimpuh. Tapi nyatanya ia tak kuasa untuk terus melanjutkan rumah tangga yang menurutnya sudah tak sehat.
"Tidak. Tidak Edel itu tidak akan pernah terjadi, aku mencintai dirimu tidak mungkin aku melepaskanmu, itu sama saja dengan aku membunuh diriku sendiri". Arsen bangkit dan menarik kursi untuk ia duduki.
"Jika kau mencintaiku tidak mungkin kau menyakitiku sampai sejauh ini Ars," Edel kembali terisak sungguh meskipun dirinya membenci dan kecewa kepada lakilaki di hadapannya tapi tidak di pungkiri cintanya masih tersisa tidak peduli bila semua orang mengatainya bodoh,
"Lalu harus dengan apa aku membalas semua luka yang berikan kepadaku Ars? "
"Terserah, terserah kau saja aku akan menerimanya sungguh aku tidak keberatan jika kau harus melukaiku"
"Bagai mana dengan kekasihmu itu, bisa saja dia mengandung anakmu"
"Dia bukan kekasihku! "
__ADS_1
"Apa aku harus menyebutnya simpanan begitu"
"Aku sudah memutuskan semua hal yang berkaitan dengannya, karna memang aku dan dia tidak memiliki hubungan yang lebih dari lakilaki berengsekj dan jallang".
"Kau itu Pria terburuk yang pernah ku temui"
"Ya itu memang aku"
"Jika Luna hamil kau akan menikahinya bukan? "
"Ck. Dia adik kelasku waktu SMA dulu, aku tidak menyangka kalau seleramu begitu buruk". Edel mengusap kasar air matanya.
Pintu ruang rumah sakit terbuka dengan sangat kasar, Papa Chanda masuk dan lansung mengayunkan bogem mentahnya kewajah menantunya itu "Sudah aku katakan jika kau tidak menginginkan putriku kau bisa mengembalikannya kepadaku".
Papa Chandra terus menghajar Arsen, tanpa ada perlawanan sedikitpun, mencambuknya dengan ikat pinggang yang sengaja ia bawa dari rumahnya. "Beginikan caramu melukai putriku?" Arsen hanya memejamkan mata tanpa mengatakan apapun, yang ia lakukan hanua menikmati setiap rasa sakitnya. Edel membiarkan Papanya ia tidak mencegah sama sekali, sampai Arman dan kedua orang tuanya tiba melerai kekacawan yang ada.
Amarah masih saja berkobar di diri Chandra, Ayah mana yang akan menerima saat putri yang ia lindungi dan ia kasihi di sakiti dengan orang lain sungguh Chandra merasa gagal telah menikahkan putrinya,
__ADS_1
"Papa gagal, maaf Edel Papa lalai". Di peluknya tubuh putrinya, rasanya sakit melihat beberapa luka sabetan di tubuh darah dagingnya. "Ceraikan putriku"
"Papa Arsen mohon jangan meminta hal mustahil kepadaku, aku mencintai Edel Pa".
"Putri yang ku besarkan dengan penuh kasih sayang, putri yang selalu ku banggakan setiap saat, kau tidak tau Arsen begitu aku sangat lama menunggunya untuk hadir kedunia. bahkan aku melukai beberapa hati agar aku dapat melihatnya bahagia, aku bahkan mengadaikan harga diri dan nyawaku hanya untuk menyaksikannya tetap hidup"
"Apa kesalahannya? kurang baik apa putriku?, biar ku ingatkan beberapa kebaikannya Anakmu hidup dengan air susunya, ia menyayangi putramu seperti darah dagingnya, putriku menjadi istri yang baik dan penurut untukmu, tapi apa balasanmu seperti ini Arsen aku menyesal menikajkan putriku denganmu, kau sendiri yang meminta putriku, ku kira kau adalah pria yang tepat tapi tapi.... " Papa Chandra tidak mampu melanjutkan kalimatnya tetlalu sakit baginya mengetahui madalah dalam rumah tangga putrinya, tidak hanya hati yang yang dilukai menantunya juga fisik dari putrinya sendiri menjadi terluka, inilah kehancuran seorang ayah yang sesungguhnya.
"Arsen bersalah Pa!, Arsen mohon maaf", Arsen terus memohon.
"Arya maaf aku meragukan kedua putramu, bahwa mereka adalah anak anakmu, tidak ada pada diri mereka sipat yang kau miliki untuk memuliakan wanita, aku sangat mengenalmu, tadinya aku berpikir akan sangat beruntung jika putramu menjadi menantuku, tapi untuk pertama kalinya aku salah dalam memprediksi sesuat". Papa Chandra menatap sahabatnya sedang Arman hanya menundukan kepala mengerti maksuh mertua dari adiknya.
"Chandra, aku pun bahkan selalu bertanya tanya mengapa anak-anakku bisa se berengsekk itu, aku mohon maaf untuk semua hal, bahkan aku malu hanya untuk mengankat wajah di hadapanmu". Arya sangat malu dan menyayangkan tindakan putranya.
"Papa!, Aku ingin pulang"
"Ya kita akan pulang.
__ADS_1