
"Astagaaa... Apa yang terjadi? Edel..." Arman celingukan mencari Edelweis namun tak mendapati wanita itu, tempat yang sekarang juga berbeda dengan tempat sebelumnya, Arman menyadari satu hal tubuh bagian bawahnya basah.
"Sial ternyata hanya mimpi,, tapi mengapa terasa begitu nyata, sampai seperti ini, ini benar benar memalukan di umurku yang memasuki angka 37 harus mimpi basah layaknya remaja yang baru berumur 17 tahun". Arman mengerutu kesal saat beranjak menuju kamar mandi. "Edel adalah jelmaan iblis betina".
...
Di meja makan hanya ada Edel, Kyara serata Jasson saat Arman menghampiri ketiganya.
"Selamat pagi tuan putri". Arman mengecup pipi putrinya dengan sayang. "Selamat pagi Jagoan". Diacak dengan gemas rambut Jasson.
"Pagi Papi". keduanya menjawab beriringan.
Tapi lidah Arman serasa kelu dan mendadak bisu tak sanggup mengucapkan kata selamat pagi pada adik iparnya mengingat hal memalukan yang ia alami saat bangun tidur. Begitupun denga Edel yang tampak acuh mengoleskan Slai pada roti untuk kedua anaknya.
"Kemana Papa dan Mama? "
"Oma dan Opa pergi keluar kota Pi...." Kyara yang menjawab sambil memakan sarapannya, pipinya menggembung menggemaskan karna penuh dengan roti.
"Lalu kemana Daddy kalian?".
"Daddy sudah berangkat ke kantor pagi pagi sekali karna ada pekerjaan Mommy yang bilang". Kali ini Jasson yang menjawab. tatapan Arman ia Alihkan kepada adik iparnya dengan memicingkan mata menanyakan kebenarannya.
"Ku tahu dirimu bukan orang bodoh Edel. Sangat tidak mungkin jika kau mempercayai alasan konyol itu".
"Hmm... Lebih baik diam dan makanlah sarapanmu". Edel menyodorkan piring yang telah di isi roti berslai kacang kesukaan Arman, tanpa sengaja dirinya melakukan hal kecil yang mengentuh hati Pria itu.
"Ah hari ini aku merasa menjadi seorang suami". kelakarnya dengan wajah jenaka. Edel sama sekali tidak perduli ia memakan sarapannya sesekali menanyakan sekolah kedua anaknya.
__ADS_1
"Hari ini biar Papi yang mengantar kalian".
perbincangan hangat terjadi di meja makan sepintas tidak ada yang salah dengan keluarga itu mungkin hanya setatus yang rumit saja. "Andai mereka benar benar miliku".
...
Sedangkan di sebuah Apartemen terdapat dua orang sedang bertengkar. Ya Arsen menyambangi Luna, dirinya sedikit terusik dengan ancaman wanita itu yang akan membocorkan keburukan Arsen kepada istrinya.
"Aku tidak ingin mengakhiri hubungan kita Arsen apapun yang terjadi. "
"Tidak Luna ini semua salah, aku tidak ingin melanjutkat ini kita harus menyudahinya".
"Aku tidak mau"
"Aku tidak membutuhkan persetujuanmu," Arsen melangkah akan meninggalkan tempat itu namun dengan segera Luna meneriakinya
"jangan coba coba mendekati istriku atau kau akan mati di tanganku Luna". Setelah mengatakan itu Arsen pergi meninggalkannya.
"Lihat saja jika aku tidak bisa bersamamu maka dia juga akan meninggalkanmu."
...
"Arsen pulang lah sekarang ini penting" tanpa menunggu jawaban suaminya Edel memutuskan sambungan telepon dan kembali menangis, meremat ponselnya sendiri.
Anak anaknya sengaja Edel antarkan ke rumah kedua orang tuanya bahkan dirinya membawakan mereka beberapa baju di maksudkan agar Kyara dan Jasson menginap di rumah kakek neneknya.
"Bisa kau jelaskan tentang ini?" saat Arsen tiba di rumahnya Edel melempar ponsel yang menyala menampilkan rekaman video yang dimana pemeran prianya adalah Arsen sendiri. Tubuh Arsen mematung jantungnya terasa berhenti berdetak ketakutannya kini sedang menjelma menjadi nyata.
__ADS_1
"Dari mana kau mendapatkan ini? "
"Itu tidak penting."
"Aku bisa jelaskan."
"Tidak. Kau perlu menjawab pertanyaanku."
"Kau mengenal wanita iblis itu?" Arsen hanya bergeming tanpa menjawab pertanyaan istrinya, pandangan matanya sayu penuh penyesalan. Edel tau diamnya Arsen adalah memang suami mengenal jalaang itu.
"Apa kurangnya aku Ars?" kini air mata itu meluncur tak dapat di bendung.
"Tidak ada"
"Lalu apa kesalahanku sampai kau menghukumku seperti ini" kali ini bukan hanya air mata yang turun tapi juga tubuhnya luruh ke lantai bersamman dengan hancurnya hati.
"Maafkan aku, Aku bersalah".
"Apa dengan maaf semua selesai Ars, Aku pernah memaafkan satu kesalahanmu di masa lalu tapi kau membuat kesalahan yang lebih parah". Cukup sudah Edel tidak bisa bertahan dengan laki-laki ini.
Tiba tiba amarah dalam diri wanita itu berkobar Emosinya mendokbrak kewarasan jiwanya
"Berapa kali kau tidur dengannya? dua, tiga, atau kau tak menghitungnya karna terlalu sering?, ku kira kau seorang Ayah yang baik, suami yang sempurna dimata semua orang tapi semua yang kau tunjukan selama ini hanya kepalsuan. Kau berlakon menjadi Pria terhormat dan berwibawa memerankan kisah rumah tangga impian, apa sebutan yang pantas untuk Pria yang tidak cukup dengan satu wanita, Cuih ternyata suami yang kumiliki sangat murahan, sungguh menjijikkan".
"Plakkk "
Tamparan keras mendarat di pipi cantiknya, Kepalanya bahkan sampai menoleh, saking kerasnya sampai sudut bibirnya mengeluar segar dan mungucur sampai ke dagu,rasanya sakit dan panas menghantam wajahnya dan tamparan itu memang melayang sekuat tenaga di karnakan Arsen tidak terima dengan ucapan wanita itu. "Haaaa haaa". Bukan tangis yang terdengar melainkan tawa menyedihkan menyayat hati. Dengan penggung tangannya Edel menyeka darah di area dagunya. "Terima kasih, aku tak akan melupakan ini". Dengan cepat menyambar tasnya dan berlalu.
__ADS_1