
Saat Arsen kembali kedalam kamar dia melihat istrinya yang tengah berbaring membelakangi sisi kosong ranjang itu, Arsen mengetahui istrinya itu belum benar benar tertidur dirinya menyadari apa yang di katakannya tadi terlalu berlebih, dengan perlahan dirinya naik ke atas tempat tibur mendekap tubuh ringkih nan rapuh itu.
"Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud menyakitimu aku terlalu keras saat berbicara".
Hening...
"Ku mohon bicaralah jangan seperti ini". Edel membalik tubuhnya pun dengan wajah basah berlumur air mata.
"Ars... " Suaranya tercekat tak mampu membendung sesak di dadanya membayangkan kemungkinan bahwa suami menyembunyikan hal lain di belakangnya.
"Aku akan selalu memaafkanmu kecuali satu hal, Penghianatan".
"I..ituuu tidak mungkin sayang. "
"Jika itu terjadi maka akan aku pastikan tiket menuju Nerakamu telah kau genggam".
Arsen bergetar seluruh tubuhnya bereaksi mendengar kalimat istrinya yang kental akan sebuah ancaman. Bisa di katakan bukan ancaman tapi sebuah kutukan yang menghunus tajam tepat sasaran. Tidak tidak ini jangan sampai terjadi semuanya harus di hentikan sesegera mungkin, keringat dingin mengucur di seluruh tubuh Pria tampan itu.
Melihat reaksi suaminya jelas Edel bukan orang bodoh yang hanya bisa berpura pura tidak tau apa apa, dirinya peka dan mulai mempersiapkan diri dengan kemungkinan terburuknya.
"Aku sungguh mencintaimu Sayang".
"Cinta saja tidak cukup untuk menjalin hubungan tetap baik".
"Sungguh neraka akan tercipta jika kau meninggalkanku, jadi tetaplah di sampingku apapun yang terjadi".
"Kau ingin mengetahui satu hal Ars.. "
__ADS_1
"Tentu"
"Dengarkan ini jika kau benar benar mencintai diriku kau harus memiliki nyali!"
"Maksudmu... " Arsen mulai gusar menanti kalimat istrinya
"Ketahuilah Otakku ini di ciptakan dengan istimewa".
"La.. Lalu" Semakin cemas saja dirinya mendengar istrinya berkata datar dan tanpa riak Ekspresi di mimik sembabnya.
"Otakku ini terkutuk saat kau melukaiku, seumur hidup aku akan mengingatnya". Edel segera beranjak dari hadapan suaminya.
Selepas kepergian wanitanya Arsen terdiam memaku di tempatnya mencermati kata kata istrinya. "Aku harus mengakhiri semuanya, sebelum semuanya terlambat". Ia segera mwraih ponselnya dan menghubungi Luna mengatakan ingin mengakhiri semuanya.
***
Byuuuurrrr
Tanpa pikir panjang Edel menceburkan dirinya kedasar kolam berdiam diri di sana merendam dengan air dingin bermaksud menenangkan hati dan tubuhnya, mengingat kejadian tadi, dan mencoba meraba diri barangkali dirinya melakukan kesalahan, namun nihil hasilnya dirinya sudah sebaik mungkin menjadi istri, menuruti semua keinginan suaminya patuh dan tunduk namun rasanya itu tidak cukup, pelayanannya menyenangkan suami juga sudah maksimal lalu di mana kurang dirinya. Mungkin saja dirinya tidak kekurangan apapun tapi kelebihan bisa jadi, pecemburu dan posesif misalnya sesuai yang di katakan Arsen tadi.
"Astagaa... Apa yang di lakukan Edel di dalam kolam itu? kenapa lama sekali? apa mungkin dirinya tidur atau jangan jangan tenggelam? ". Arman segera berlari menuju kolam itu bermaksud ingin menceburkan diri untuk meraih adik iparnya. Namun urung saat Edel muncul ke permukaan.
"Apa yang kau lakukan?".
"Berendam. "
"Kau ingin membuat putriku menjadi seorang yatim".
__ADS_1
"Pergilah jangan menggangguku... Aku muak melihatmu". Edel berdiri sebelum menenggelamkan tubuhnya kenbali
'Sial dia begitu seksih'
'Ya Tuhan aku bereksi, Juniorku benar benar berdiri melihat sebagian tubuh basahnya, aku sembuh dari impoten sepertinya' wajah Arman merah padam menikmati reaksi tubuhnya yang lain sudah 7 tahun lamanya ia menggap dirinya sebagai pria impoten adakah yang lebih baik dari ini.
"Kenapa kau masih di sini? kau ingin berenang juga?".
jika kau mengijinkan tentu saja aku tidak menolak akan sangat menyenankan berenang denganmu, siall otak kotornya berkelana. Arsman menggelengkan kepalanya mengusir hal mesum di benaknya.
"Aku bukan orang yang mudah patah hati, setelah bertengkar lalu menenggelamkan diri".
"Kau jangan membual".
"Aku tidak membual ini fakta aku mendengarnya sendiri tadi".
"kau menguping Ya?"
"Tidak... hanya saja kalian kurang totalitas saat bertengkar".
"Ku ingatkan jangan terlalu ikut campur masalah orang". muak lama lama mendengar celotehan Arman Edel naik dari kolam renang bermaksud meninggalkan Pria Dewasa itu.
"Jika kau lelah dengan Adikku ceraikan saja dia, jangan bunuh diri atau menyiksa dirimu sendiri, ingan Kya masih membutuhkanmu". Edelweis berhenti dari langkahnya menengok kebelakang tapi yang terjadi Arman membuang pandang dengan wajah memerah melihat tubuh basah menggairahkan adik iparnya.
"Dasar Duda sialan". Edel cepat cepat menghilang takut Arman memakinya habis habisan.
Arman tergelak dengan sebutan itu tawanya susah untuk di hentikan 'Apa katanya tadi Duda sialan?, Itu makian atau pujian untukku mengapa aku merasa senang'.
__ADS_1
.