Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
SMK


__ADS_3

Untuk Lala,


Selamat ulang tahun... selamat panjang umur cucu Mbah yang jago menari. Tetaplah menari walaupun Mbah tidak selalu bisa menemani. Tetap indah dengan tarian tradisional, walaupun Mbah tahu banyak bullyan yang datang padamu. Buktikan bahwa tidak semua penari adalah wanita nakal yang sanggup dibeli. Semangat cucu Mbah yang cantik.


Surat pendek dari Mbah yang membakar semangatku untuk tetap menari. Mbah memang tahu aku sering dibully. Mereka menganggap penari adalah wanita mur@h@n. Bahkan di usiaku yang masih belia.


"Kau dibully Nak? Siapa yang berani membullymu?" tanya Papa dengan nada tidak santai. Kedua orang tuaku tidak tahu aku sering dibully di sekolah. Hanya Farel dan Mbah Kung yang tahu.


Aku menjelaskan singkat tentang pembullyanku. Papa terlihat tidak senang sama sekali.


"Kau tahu pembullyan bisa ditindak pidana??!! Kau bisa melawan mereka. Papa akan,-" kata kata Papa terhenti karena remasan tangan Mama di tangannya. Hal yang selalu Mama lakukan untuk meredam emosi Papa. Mama menepuk pundakku.


"Semangat untukmu Nak, Mama juga bangga kamu bisa menari. Jangan hiraukan omongan orang. Kami sekeluarga mendukungmu," kata Mama. Aku memeluk Mama dengan erat.


Setiap kali aku merasa patah, aku mengingat surat Mbah Kakungku. Setiap kali aku merindukannya, aku akan menari. Bagiku menari adalah cara agar aku dekat dengan Mbahku. Penuntas rinduku karena tak lagi bisa memeluknya. Aku yakin beliau menyaksikan semua tarianku dari surga.


***


Aku lulus SMP dengan nilai yang gak bagus bagus amat. Beda dengan Hector yang selalu jadi juara kelas. Aku tahu diri, walaupun orang tuaku tidak pernah membanding bandingkan kami. Hihihihi.


"Mau sekolah dimana?" tanya Mama minta pendapatku.


"Boleh Lala ambil sekolah di SMK xx?" tanyaku agak takut. Sekolah itu SMK dengan jurusan yang berbeda dari yang lain. SMK jurusan seni. Termasuk seni tari.


"Boleh saja!! Kenapa tidak?" kata Mama ceria.


"Lala boleh melanjutkan sekolah sesuai keinginan Lala. Kamu mau ambil jurusan seni tari?" tanya Mama. Aku mengangguk cepat.


"Mama gak masalah aku ambil seni? Gak ambil bisnis buat nerusin mebel nanti?" tanyaku pada Mama. Beliau justru tertawa.


"Dengar Nak, bisnis tetap bisnis. Entah nanti siapa yang akan melanjutkan. Sekolah itu hak kamu. Terserah mau ambil apa. Mama akan mendukungmu," kata Mama. Aku girang bukan main. Beberapa teman sanggarku tidak di ijinkan sekolah jurusan tari. Tidak mentereng katanya. Tapi aku dengan mudah dapat ijin.


Aku masuk SMK dengan tes khusus. Juga di barengi beberapa piangam yang kudapat saat kompetisi menari. Tidak sulit. Aku langsung diterima sebagai salah satu siswi jurusan tari.


"Gimana Rel, diterima?" tanyaku pada Farel. Dia mendaftar disebuah SMA favorit dikota ini. Farel manggut manggut sambil nyengir.


"Hebat!!!" kataku sambil melompat girang. Kami toss gaul ala kita. Tepuk atas tepuk bawah senggol pipi benturin kening. Tos yang kami ciptakan dari jaman SD. Hahaha.


Aku memulai sekolah di SMK dengan ceria. Temannya satu server semua. Gak ada yang membully aku sebagai penari, karena kami satu kelas penari semua. Hahahaha.


Aku baru menyadari kalau kita dibully atau kita diremehkan, itu bukan karena kita jelek, tapi memang kita yang salah masuk lingkungan. Lingkungan yang satu frekuensi akan menerima kita dengan baik. Soo jangan pernah takut di bully. Dibully ya tinggalkan. Gitu ajah....


***


Tiga bulan berlalu....

__ADS_1


"Dijemput lagi?" tanya Tita, teman sebangku ku saat SMK. Aku mengangguk. Kami berjalan bersama menuju gerbang sekolah.


"Yang lain nunggu angkot, kamu enak nunggu sopir pribadi," kata Tita lagi. Aku tertawa. Iya, Farel kini mirip sopir pribadi. Tiap hari antar jemput sekolah, bahkan eskul saja kadang dia masih jemput. Hihihihi. Kami sedikit diberi kebebasan saat SMK.


Motor Farel berhenti tepat di depanku dan Tita. Dia tersenyum dan menyerahkan helemku.


"Duluan ya Tit," pamitku pada Tita. Dia tersenyum dan melambai.


"Gimana sekolah baru?" tanya Farel dijalan.


"Enak, menyenangkan." jawabku.


"Ada yang bully gak?" tanyanya lagi.


"Gak ada yang bully. Semua temanku baik sekarang," kataku. Farel manggut manggut.


"Mampir kerumah temenku sebentar yaa!" ajak Farel.


Temannya Farel cowok semua. Asik main hp saat kami datang.


"Pacarmu Rel?" tanya temannya. Farel mengangguk dan mengenalkan aku pada temannya.


"Farel sukanya yang bening bening yaa. Disekolah suka yang bening, yang dibawa ini juga bening..... ups," kata temannya sambil menutup mulutnya.


"Maksudnya? Kamu punya pacar lain Rel?" tanyaku.


Aku heran saat Farel mengeluarkan bungkus rokok dari dalam tasnya.


"Kamu ngerokok Rel?" tanyaku heran.


"Di SMA kalau gak ngerokok gak keren La. Lagian cuma ngerokok. Jangan bilang Bunda," kata Farel. Aku menatap kepulan asap yang keluar dari mulut Farel.


Sampai di rumah semua orang gak ada. Hector belum pulang, sibuk les tambahan karena dia kelas tiga SMP sekarang. Mbah Marni entah kemana. Aku jadi gabut mau ngapain sore sore gini.


'Rel, temenin nonton filem dong.' Pesanku pada Farel. Tak lama pesan terbalas.


'Oke meluncur.' Balas Farel. Aku membukanya saat Farel sudah ada di rumah.


Kami nonton filem horor. Kali ini benar benar horor sampai aku ketakutan. Bahu Farel kujadikan penutup.


"Waaa!!! setanya keluar Rel setannya keluar!!!!" kataku sambil bersembunyi di balik tubuhnya. Farel diam mematung. Beberapa saat kusadari hembusan nafas Farel di kupingku. Kusadari pipi kami saling tempel. Aku mengangkat wajahku. Pandanganku langsung bertemu matanya. Heninggg.... mata kami terkunci satu sama lain.


"La.... ciuman yuk," ajak Farel. Membuat pipiku merah seketika. Jarak wajah kami semakin dekat. Aku mencengkeram sandaran sofa semakin kuat. Apa rasanya..... dicium cowok??? Aku mulai memejamkan mata. Tiba tiba bayangan Vano mencium pipiku terlintas. Haaa.... kenapa dia memenuhi pikiranku saat seperti ini. Menyebalkan!!!


"Buadalahhhh...... mau mesum yaaa??" Hector muncul mengagetkan. Kami bubar jalan. Farel menjatuhkan diri di karpet. Aku duduk tegak lagi disofa.

__ADS_1


"Siang siang mesum. Dasar!!! Pokoknya aku mau hamburger di Makdi buat ongkos tutup mulut ya Po!!!" kata Hector melangkah masuk kamarnya.


"Emang siapa yang mesum? Kamu lihat apa emang?" Farel masih mencoba membela diri. Hector gak peduli tetep masuk kamar. Aku spechless. Dapat ciuman enggak kena porot iya. Rasanya aku ingin membuang adikku itu.


"Kita coba lain waktu," bisik Farel sambil tersenyum. Membuatku tambah kikuk.


***


Aku punya geng baru di SMK. Terdiri dari lima orang koplak yang duduk paling belakang. Aku, Tita, Tora, Idah dan May. Jangan kira Tora gagah. Dia cewek yang terperangkap dalam tubuh cowok. Hihihi setiap tingkahnya membuat kami ngakak. Gerakan tarinya kadang lebih gemulai dari kami yang cewek tulen. Dia murid kesayangan guru tari kami.


Hari ini terakhir kami masuk sebelum semester dua. Ujian sudah kami lewati. Besok tinggal terima rapot. Hari santai yang bikin heppy.


"Pak pop ice coklat lima di plastik yak!" perintah Tora pada penjual es langganan kami. Kalau di plastik harganya lebih murah dari di cup. Isinya juga lebih banyak. Karena itu kami lebih memilih di plastik. Hihihihi menejemen kantong pelajar.


Warung itu berada di sebrang sekolah agak menyamping.


"Nanti temenin aku ketemuan sama cowok dong," kata Tita.


"Dimana?" tanyaku.


"Siapa?" tanya May. Bersamaan.


"Nanti dia datang kegerbang sekolah," kata Tita.


"Kebiasaan deh cari kenalan gak jelas," kata Tora.


"Emang kamu jelas?" tanya Tita balik.


"Enggak, aku sejenis makhluk astral," kata Tora sambil mencebikkan bibirnya. Kami semua ketawa.


"Yang penting ganteng sendiri ya Mas," komen penjual es.


"Ganteng??? Dia cantik kali," komentar Idah. Kami nyekikik lagi.


Aku melihat cowok tingak tinguk di depan gerbang sekolah.


"Tit, Tit, yang itu bukan?" tanyaku sambil menyenggol bahu Tita. Perhatian kami teralih pada cowok yang sedang melepas helem itu. Rahang kami sama sama terbuka. Cowok itu..... maaf maaf punya jerawat penuh diwajah. Agak maju juga bibirnya. Tora langsung tertawa lemes.


"Makan noh.... makan. Lumayan kalau butuh buto buat pentas gak usah make upan," cerocos Tora sadis. Kami cekikikan lagi.


"Lah kok beda sih..... difoto ganteng kok!!" Tita gak terima sambil menunjukkan hpnya. Kami ikut kepo. Mengerubungi hp Tita.


"Iya bener ganteng, tapi ternyata efek kamera," kataku sambil nyekikik. Teman temanku manggut manggut. Tita kalang kabut. Gak mau nemuin cowok itu.


"Ra kamu yang temuin. Pp ku kan kita berlima. Dia gak tahu yang mana Tita yang asli. Pliss Tor, kamu temenku. Ya ya ya," kata Tita melas. Ide yang benar benar gila muncul dikepala Tita.

__ADS_1


Kayaknya lucu juga kalau Tora yang ngaku jadi Tita. Aku pun ikut semangat mendorong dorong Tora.


"Dasar!!!.... Giliran brocel dikasih aku. Kalau mulus diembat sendiri," Tora bersungut sungut. Tapi berjalan juga kearah cowok tadi. Hahahaha.


__ADS_2