
Ada yang kamu sembunyiin Rel?" tanyaku di jalan.
"Gak, emang apa yang bisa aku sembunyiin dari teman, sahabat, sekaligus pacar. Kamu ini terlalu banyak pangkatnya di hati aku," kata Farel sambil mengelus dengkulku. Aku jadi malu gimanaaa gitu.
Aku mulai mencari informasi sekolah seni di kota sebelah. Juga meminta ijin pada Mama.
"Di kota ini aja La, kota sebelah terlalu jauh. Kamu harus kos juga. Mama gak bisa lihat kamu setiap hari Sayang," kata Mama.
"Ayo lah Ma, cuma Jogja gak jauh dari sini. Nanti tiap minggu Lala pulang. Lagian nanti Farel juga mau kuliah disana," kataku memohon.
"Ooowww kamu mau disana karena gak mau pisah sama Farel...??" Mama menatapku lebih dalam.
"Ya bukan itu juga Ma.... tapi disana pasti ada tantangan baru. Tantangan yang belum pernah Lala dapat disini. Lala udah bosen disini," kataku meyakinkan. Mama tersenyum. Tidak mengatakan apapun. Ihhh suka gitu deh.... sok misterius kaya Papa.
***
Aku tahu akan ada kejutan malam nanti. Besok adalah ulang tahun ku yang ke 17. Mama pasti sudah menyiapkan kue dan masuk kamar nanti malam. Belum malam aku sudah senyum senyum saja. Berangkat tidur dengan senyum dibibir.
Aku terlalu bersemangat. Sampai sampai mata ini segar saja. Aku main hp. Buka aplikasi tok tok. Tanpa tersa justru sudah tengah malam. Sampai setengah satu belum ada orang masuk kamar. Aku buka pintu sepi sepi saja. Haahhh sepertinya aku yang terlalu berharap lebih. Mama kan pelupa. Dia pasti lupa. Sudahlah.... tidur saja.
Pagi tiba. Aku bangun dan keluar kamar. Sepiii.... sepertinya semua orang memang sedang sibuk. Aku menuju ruang makan. Bahkan Mbah Marni juga gak ada. Aku ambil minum tiba tiba.....
"Happy Brithday!!!!" teriak Mama dan Hector. Satu satu bermunculan dari belakangku termasuk Mbah Marni. Mama bawa kue dan lilin. Lagu ulang tahun mengalun.
"Ini hadiahmu," kata Hector sambil meletakkan bungkusan besar. Aku agak cemberut. Udah kode kode minta motor. Ehhh malah dikasih kado.
"Buka dong!!" perintah Mama bersemangat. Aku membukanya. Berisi mainan vespa anak anak berwarna merah.
"Memang berapa umurku Maa?? Masih diberi vespa anak anak!!" kataku sebal sambil cemberut. Mama sama Hector nyekikik saja. Kami sarapan dengan tenang.
Aku bersiap kesekolah. Mau pakai sepatu di teras. Mataku terbelalak melihat apa yang ada dihalaman.
"Tidakkkk!!!!" seruku sambil berlari. Aku melihat vespa merah dengan banyak pita pink. Kuncinya bahkan tertancap disana. Aku lompat lompat sangking girangnya. Mama datang langsung kupeluk.
__ADS_1
"Makasih Ma.... makasih banyakkk!!!" kataku girang sekali.
"Ingat, cari SIM dulu baru boleh di kendarai dijalan raya." pesan Mama.
Farel datang menjemputku. Langsung mupeng lihat hadiah ultahku.
"Waa Tante Putri jahat dehhh.... kalau Lala udah punya motor sendiri, gak mau bonceng aku dia," komentar Farel. Mama tertawa.
"Ya nanti di bocorin bannya. Trus masih bisa boncengan sama kamu," jawab Mama santai. Aku berangkat hari itu masih dibonceng Farel.
***
Waktunya pulang tiba. Aku berlari secepat mungkin keluar gedung sekolah. Tora dan teman temanku sudah membawa plastik berisi air dan tepung. Gila!!! Mereka mau ngadonin aku jadi pisang goreng mungkin.
"Jalan Rel!!!!" perintahku pada Farel yang sudah menunggu. Sialnya Farel justru bengong sesaat. Membuat jarakku dan Tora semakin dekat.
Tora melemparkan plastik berisi air yang dia pegang. Farel sempat membalikkan posisiku. Dia yang basah kuyub menerima air itu. Aku cuma kecipratan doang. Teman temanku mendekat. Habislah aku sama Farel ditepungin. Farel berusaha melindungiku dari tepung dan air yang mereka lemparkan. Dia lebih parah dari aku bopengnya. Hahahaha.
"Enaknya punya pacar Tor," kataku sambil nyengir.
"Bucin kamu Rel," kata Tita pada Farel. Farel cuma senyum senyum aja. Tangannya masih memelukku dari belakang. Menghalau beberapa temanku yang berusaha mencorengi pipiku.
Seperti biasa mereka akan minta makan makan. Aku bawa aja mereka kerumah. Mama tadi berpesan kalau Mbah Marni masak banyak buat cecunguk cecunguk itu emang.
"Waaa mantap ini La..." komentar Idah setelah melihat meja makanku penuh hidangan makanan.
"Sikat!!!" kataku sambil masuk kamar. Mandi bentar biar gak digoreng Mbah Marni dikira pisang. Hihihihi. Farel sudah datang kerumah saat aku selesai mandi. Dia juga udah bersih mandi di rumahnya sendiri.
Hector pulang sekolah langsung jadi pusat perhatian.
"Adikmu La?" tanya May. Matanya lekat mengawasi Hector masuk kamar.
"Bukan. Anak tukang kebon," jawabku asal.
__ADS_1
"Edan kamu adik sendiri gak di akuin," kata Idah. Aku nyengingis saja.
Yang di bicarakan keluar kamar, ikut nimbrung makan tanpa ekspresi.
"Salam kek, apa kek, tekek kek," kataku nyindir.
"Laper," jawab Hector singkat. Mata May mengikuti Hector sampai menghilang masuk kamar. Dengan piringnya yang penuh nasi dan lauk.
"Cool banget sih...." katanya dengan mata berbinar. Aku mau muntah.
Teman temanku pulang hampir magrib. Kami cekikikan ngerumpi, ngemil, sambil nonton filem. Dahlah.... pokoknya happy banget hari ini.
Farel juga pamit pulang setelah menyerahkan kotak berukuran sedang kado ulang tahunku.
"Makasih Rel. Repot repot amat sih. Tapi aku suka," kataku jujur. Dia tersenyum. Mengacak rambutku pelan.
"Semoga suka hadiahku. Aku pulang yaa," kata Farel sambil berlalu melintasi halaman.
Sampai kamar aku membuka hadiahnya. Tiga buah cunduk mentul berkilap dalam kotak panjang. Waaaa..... ini indah. Aku mengambilnya satu. Aku tahu ini benda mahal. Bukan cunduk mentul biasa. Ukirannya tersendiri dan indah. Aku memasangnya satu di rambutku. Kemudian memfotonya.
'Makasih ya... ini bagus.' Kukirim beserta foto ke nomer Farel.
Kejutan ulang tahunku masih berlanjut. Mama menyerahkan buku tabungan dan kartu ATM atas namaku.
"Mulai sekarang Mama cabut uang sakumu. Mama akan kasih hasil keuntungan mebel ke kamu. Yang akan kamu kelola sendiri. Entah untuk jajan atau bayar spp dan semua keperluanmu." jelas Mama. Hector langsung protes. Dia juga mau ATM.
"Tapi syaratnya, kamu harus bantuin Mama sepulang sekolah. Mulai sekarang, kamu kerja di mebel Mama sepulang sekolah," lanjut Mama. Membuat Hector gak jadi minta ATM. Aku membuka buku tabungan. Saldo yang masuk ternyata banyak sekali untuk ukuran pelajar. Mau gak mau aku jadi pegawai Mama habis ini.
Mama mempekerjakanku sebagai buruh lepas. Ngamplas kayu yang mau dipelitur.
"Perlakukan dia sama dengan yang lain. Jangan di beri keringanan apapun. Gajinya lebih banyak dari gajimu. Pak En, jangan sungkan," perintah Mama pada supervisor pengamplasan. Heleehhhh kerja kerja kerja.... walaupun hanya tiga jam tiap harinya. Aku membantu di mebel mulai jam dua siang sampai jam lima sore. Kadang lanjut ke sanggar sampai habis magrib. Pulang ngerjain pr dan tidur.
Kegiatanku yang padat membuat aku sekarang jarang bertemu Farel. Walaupun kadang dia main kerumah minggu siang atau nganterin aku kesanggar.
__ADS_1