
Pagi hari aku terbangun karena aroma masakan. Siapa yang masak? Papa? Aku keluar kamar untuk melihat. Ternyata Vano masak nasi goreng. Aku gak tahu kalau dia bisa masak.
"Kamu yakin itu gak bakalan bikin sakit perut??" tanyaku sambil mengambil air minum. Dia tersenyum, sebenarnya terlihat sexy sekali saat memasak seperti ini, tapi aku gak mau mengakuinya.
"Pagi cantik, mulutmu masih bau liur, tapi sudah berani mengejekku," kata Vano santai. Dia menyodorkan sesendok penuh nasi goreng di depan mulutku.
"Cobalah, kau akan sayang menelannya," kata Vano penuh percaya diri. Aku membuka mulutku. Dia menjejalkan semua nasi goreng itu. Aku jadi kesulitan mengunyah. Pipiku menggembung penuh. Aku kesal menatapnya tanpa bisa berkata apapun. Dia tertawa senang.
"Benarkan kau susah menelannya..... hahaha lucu sekali. Kamu imuy mengunyah dengan mulut penuh seperti itu," Vano senang sekali melihat ekspresiku.
"Kau punya nyawa berapa Ipda Vano? Berani menyuapi putriku dengan cara seperti itu," kata Papa sambil bersandar di depan pintu kamar Vano. Mukanya acak acakan khas bangun tidur. Rupanya mereka tidur sekamar semalam. Vano cuma nyengir dan melanjutkan masaknya.
Kami sarapan dengan tenang. Masakan Vano cenderung enak. Aku gak suka mengakuinya.
"Ada cctv saat Lala pulang kerumah. Hector otw membawanya kesini. Waktunya tidak akan cukup jika Lala yang membunuh. Dia sampai rumah tepat waktu." kata Papa.
"Ayo selsaikan sarapan ini dengan cepat," kata Vano bersemangat.
"Dan cabut setatus anaku jadi tahanan kota," sambung Papa. Mereka makan dengan cepat.
"Memang apa artinya?" tanyaku bingung. Belum nyambung juga dengan pembicaraan mereka.
"Artinya banyak kemungkinan Sayang, tapi Papa jamin secepatnya kau bebas dari tuduhan," kata Papa yakin.
Mereka buru buru menyelsaikan sarapan dan mandi. Bahkan Papa pakai kamar mandi dikamarku agar tidak antri dengan Vano. Aku tertinggal makan sendiri dimeja makan.
"Kamu bereskan sisa sarapan. Jangan mau enaknya saja. Sudah makan nasi goreng spesialku gratis. Cuci piring sana," kata Vano menyebalkan. Dia mandi cepat sekali. Tanpa disuruh pun aku sudah beres beres padahal.
"Kenapa mulutmu penuh dengan kata kata menyebalkan. Apa matamu gak bisa lihat aku udah mulai beres beres," jawabku sengit. Vano justru tertawa.
__ADS_1
"Karena aku suka melihatmu marah marah. Kamu cantik walau pun lagi marah. Dan kamu akan memikirkanku terus karena aku menyebalkan," kata Vano. Aku sudah buka mulut mau jawab. Keduluan suara Papa yang keluar dari kamarku.
"Ayo berangkat Nak, kalau kau masih mau merayu Putriku, kutinggal saja," kata Papa. Mereka pun berangkat setelah Papa mencium pipiku.
Aku beres beres rumah mungil ini biar gak dikira numpang gratisan. Nyapu, ngepel, dan semua yang aku bisa. Pekerjaan rumah yang sebenarnya malas sekali aku lakukan. Hpku berbunyi, telepon dari Lola.
"Kenapa Lol?" jawabku.
"La, apa kabar? Gimana perkembangan kasusmu?" tanya Lola.
"Aku gak tahu Lol, tapi mereka tadi pagi membahas cctv rumahku. Katanya waktuku tidak akan cukup untuk membunuh. Aku sampai rumah tepat waktu. Kemungkinan aku bebas dari tuduhan," jelasku girang. Hening.... aku melihat hpku. Masih tersambung kok.
"Halo, Lol, kamu masih disana?" tanyaku karena terlalu hening.
"Iiiiii... iya aku disini. La, bisa minta share loc lokasi mu sekarang. Aku perlu ngomong sesuatu sama kamu. Aku butuh bantuan kamu," kata Lola.
"Aku jelaskan nanti waktu ketemu. Gak bisa di jelaskan di telopon. Kirim lokasinya," kata Lola. Aku kepo dengan masalahnya. Kukirimkan lokasi rumah Vano.
Saat aku asik menyiram tanaman depan, hpku berbunyi lagi. Ada telepon dari tante Ine. Air mataku sudah deras menetes. Tanganku bergetar mengangkat telepon. Diujung sana juga langsung terdengar isakan.
"Tante...... turut berduka...." aku tidak sanggup melanjutkan kata kataku. Tante Ine juga belum berhenti terisak.
"Tante..... bukan Lala pelakunya...... Lala ninggalin Farel dia masih ........ hidup," kataku getir. Hening cukup lama, kukira aku akan dapat makian.
"Turut berduka juga untukmu Nak, tante tau bukan kamu pelakunya. Tidak ada yang percaya kamu pelakunya. Tante berharap papamu bisa segera menemukan orang yang bertanggung jawab atas ini," isakan pilu Tante Ine kembali terdengar. Ah, ternyata aku masih dipercaya, bahkan oleh keluarga korban. Andai aku disampingnya aku ingin memeluk erat tanteku itu. Kami sama sama terisak tanpa mampu berkata kata. Panggilan berakhir saat terdengar bel rumah dibunyikan. Pasti Lola datang.
"Ta....tante, Lala tutup dul... Dulu. Ada tamu, mungkin teman Lala. Dia janji mau kesini tadi," jelasku sambil terisak. Tante Ine pun menutup teleponnya.
Lola datang naik ojeg.
__ADS_1
"Ini rumah siapa?" tanya Lola begitu aku membuka pintunya.
"Rumah Vano," jawabku singkat.
"What, kau tinggal serumah dengan Mas Vano?" tanya Lola terkejut.
"Sama Papaku juga lagi, gak cuma berdua. Lagian mereka selalu pergi berdua. Aku sering disini sendiri," jawabku. Lola manggut manggut. Aku persilahkan dia masuk.
"Kalau dikampungku udah digeruduk warga sama pak RT kayak kamu ini. Belum nikah tinggal serumah, tapi gak tahu juga kalau papamu seorang AKBP," kata Lola. Ada nada sinis diucapannya. Aku mencoba mengabaikannya.
"Kepo banget sampai tahu pangkat papaku," kataku sambil tertawa. Aku tidak pernah memberi tahu pangkat papa pada siapapun. Lola lasti cari tahu sendiri. Aku mengambilkan jus kotak dan camilan yang ada dikulkas. Vano itu planner sekali ternyata. Walaupun lajang, tapi kulkasnya full stok. Sampai sayuran juga ada beberapa. Pantas sih, dia bisa masak enak kok.
"Gimana punya kabar? Apa yang bisa aku bantu?" tanyaku. Kuperhatikan perut Lola membesar. Apa dia makin gendut? Sekilas aku ingat perkataan Hector. Apa benar Lola hamil??
"Laa, aku mau pulang kampung. Ada urusan. Boleh aku minjem uang kamu? Agak banyak sih," kata Lola sambil menunduk. Mengagetkanku pada lamunanku sendiri.
"Urusan apa?" tanyaku. Lola terlihat gugup. Namun dia berhasil menguasai mimik setelah beberapa kali menarik nafas panjang.
"Maaf aku belum bisa cerita, tapi bisakah kamu membantuku?" tanya Lola. Sekilas aku teringat Farel. Juga kata kata Papa tentang ATM berjalan. Lola juga masih punya hutang sama aku. Walaupun jumlahnya tidak banyak seperti Farel dulu.
"Berapa?" tanyaku.
"10 juta," jawab Lola mantap. Aku shock. Untuk apa uang sebanyak itu? Aku gak mau diomelin Papa lagi. Apalagi aku tahu oersis kalau papa mengawasi rekeningku.
"Maaf Lol, aku tidak pegang uang lagi setelah kejadian ini, tapi aku masih ada 500 ribu cash kalau mau," alasanku. Padahal aku masih pegang hasil mebel. Lola tajam menatapku. Ada kemarahan dimatanya. Sedikit..... mengerikan....
"Kkaamu...mau?" tanyaku agak takut. Aku belum pernah melihat Lola dengan ekspresi seperti ini. Dia mengangguk. Aku kekamar untuk mengambil uang.
Saat aku kembali Lola sudah diarea dapur. Aku menyerahkan uang itu padanya. Dia menerimanya. Aku berbalik mau duduk di sofa depan tv. Tiba tiba Lola menjambak rambutku. Pisau dapur melintang tepat didepan leherku. Dia sudah pakai sarung tangan karet.
__ADS_1