Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Leging yang tertukar


__ADS_3

Sore hari aku pergi ke sanggarku yang dulu. Itupun harus ijin dulu sama CEO pabrik beneran sambil mengiba iba. Bilang kangen sama Bu Joyo. Setelah perdebatan sengit, akhirnya aku diijinkan.


Bu Joyo masih mengajar. Beliau sudah terlihat sepuh sekali. Tapi semangatnya masih sama. Tersenyum saat melihatku masuk pendopo. Aku mengeluarkan sampurku ikut menari bersama anak anak sanggar ini. Kangeeenn sekali dengan suasana latihan menari seperti ini.


"Lala apa kabar?" tanya Bu Joyo saat sesi latihan selesai.


"Baik Bu.... Lala kangen..." kataku sambil memeluk beliau. Bu Joyo menepuk nepuk punggungku. Sambil mengusapnya beberapa kali. Beliau ini guru tari terlamaku. Entah mulai dari kapan aku masuk sanggar beliau. Yang jelas dari aku mulai bisa mengingat, sampai aku lulus SMK.


"Enak kuliah di Institut Seni?" tanya beliau. Aku mengangguk.


"Kalau dulu aku menyebut SMK xx adalah surga bagi para pecinta seni, maka kampusku kali ini adalah surga tertinggi untuk para pecinta seni tradisional. Kami diberi wadah, diberi tempat, diberi fasilitas untuk berseni dengan baik Bu," kataku mengambarkan. Bu Joyo tersenyum. Kami duduk berdua. Menikmati suasana magrib di pinggir pendopo.


"La, kamu mau nari dalam keraton? Akan ada upacara peringatan Sultan naik tahta. Kayaknya mereka kurang penari, tapi kamu harus bolak balik kesini dan kampus. Tarian ini tarian sakral. Latihannya pun harus hari tertentu." jelas Bu Joyo.


"Beneran Lala boleh nari Bedhaya?" tanyaku girang. Memebak tarian yang di maksud. Bu Joyo mengangguk mantap. Tanpa berpikir lama aku mau. Sudah tahu betul tarian apa yang akan ditarikan. Tarian impian para penari dikota ini. Termasuk aku. Aku girang bukan main. Masalah jarak??? Gak masalah.... bukankah harus ada pengorbanan ditiap tindakan??


***


Aku dibawa Bu Joyo masuk keraton bertemu dengan pelatih tari disana.


"Kamu Cucu dari almarhum Cakrajiya bukan? Anak dari Raden Revan," tebak pelatih tari. Aku mengangguk dan tersenyum. Beberapa kali aku mengikuti Mbah kung dan Mama menghaduri pertemuan rutin yang mereka ikuti.


"Padahal itu saat saya masih kanak kanak, tapi anda masih mengingat saya Bu," kataku sambil senyum malu. Beliau juga tersenyum.


"Wajahmu tidak banyak berubah Nduk, mirip sekali dengan Ibumu," kata Beliau sambil mengelus mukaku. Aku diterima oleh tim tari tanpa banyak pertimbangan. Gelar bangsawan turunan dari Mbah Kung menjadi nilai plus untukku.


Aku ikut latihan tari Bedaya sekali sebelum kembali kekampus. Benar benar bukan tarian biasa. Suasana sakral dan magis sangat kental terasa. Bahkan saat latihan pun sangat terasa. Para niaga (tukang gamel) ditunjuk khusus dan hanya orang orang tertentu. Deg degan dan menyenangkan. Ini adalah pencapaianku lagi dalam bidang menari.


***


Saatnya aku kembali setelah liburan semester berakhir. Sama seperti emak emak lain, Mama memberiku bekal banyak untuk dikos. Mulai dari beras, camilan faforit, lauk cepat saji, sampai serantang penuh soto Mbah Mar.


"Maa aku cuma ke kota tetangga. Gak usah selebay ini," protesku.

__ADS_1


"Lebay apanya. Ini kamu butuhkan untuk dikos nanti," Mama ngeyel. Dia memang pimpinan tangguh di perusahaan, tapi tetap emak emak rempong di rumah. Hector tertawa sinis melihat depan motorku penuh dengan makanan Mama.


"Ape Luu!!!" kataku sambi melorok. Dia justru tertawa ngakak.


Tante Ine datang. Memberikan beberapa bungkusan nitip sama Farel.


"Nitip ya La, terus bujuk Farel biar mau pulang. Suruh dia telepon Bundanya. Jangan telepon kalau minta uang aja," kata Tante Ine panjang lebar. Aku bengong. Jadi selama ini Farel masih diberi uang sama Tante Ine, tapi dia ngaku gak pernah dikasih uang lagi???


Hampir tiga jam aku mengendarai motor. Akhirnya sampai di depan kosku. Nita dan Lola ngobrol cantik di depan kost. Bersiap kuliah pagi.


Mereka gak tiap minggu atau liburan pulang. Katanya enak liburan di kos dari pada di rumah.


"Pulang kampung Mbak," ejek Lola sambil melihat kardus mama.


"Iya, dari desa Mbak saya ini," kataku kubuat semedok mungkin. Membuat dua orang sahabatku ini ngakak.


Aku masuk kamar dan menata ransel untuk bersiap kuliah. Menurunkan kardus mama dan titipan dari Tante Ine.


"Udah pada sarapan?" tanyaku pada Lola dan Nita.


Kami sarapan nasi uduk yang terkenal murah meriah dan enak.


"Lala, sarapan juga?" sapa Riko. Aku cuma manggut manggut dengan mulut penuh nasi. Dua temanku smsudah saling sikut. Riko duduk di bangku depanku tanpa permisi.


"Kemarin pulang kampung La?" Tanya Riko sambil menatap piringnya.


"Iya, kalau gak pulang bisa diomelin ibu negara," jawabku. Riko tersenyum.


"Anak mami rupanya," komentar Riko.


"Bukan anak mami, tapi anak yang disayang mami. Jadi kalau gak pulang pasti dicariin," koreksiku. Dia tersenyum dan manggut manggut.


"Nanti pulang jam berapa? Boleh mampir kosmu? Aku-," pertanya Riko langsung kupotong.

__ADS_1


"Gak, nanti pacarku marah," potongku cepat.


"Ow, udah punya pacar?" tanya Riko. Ada kecewa dimatanya.


"Udah dong, aku kan cantik," jawabku sok centil. Dua temanku cekikikan.


Kami akan membayar sarapan kami, tapi dicegah sama Riko.


"Udah Buk, sarapan mereka aku yang bayar," kata Riko pada ibu penjual. Aku ngeyel mau bayar sendiri. Dua temanku malah langsung gak nolak.


"Makasih Kak Riko.... besok lagi boleh kok," kata Nita. Aku jadi kebingungan sendiri.


"Udah jangan sungkan. Masuk kelas sana," kata Riko sama aku.


"Makasih ya Kak buat traktiran sarapannya," kataku akhirnya. Riko tersenyum manis.


"Sama sama Raden Ajeng Vanila Jean Alie," kata Riko menyebutkan gelar kebangsawananku. Membuat dua temanku menoleh kepo.


"Reden Ajeng?" Komentar Lola sambil melihatku.


Muka mereka sudah kepo maksimal. Aku cuma senyum sebel sama Riko. Darimana sih dia tahu ada gelar itu?


Dikepoin lah aku di ruang ganti sama Nita. Pagi ini jam kami nari. Ganti leging, pakai jarik, dan setagen. Jadilah kami bertiga berhimpit di sini.


"Kamu ada keturunan bangsawan? Kok gak pernah cerita?" tanya Nita kepo. Lola nyimak sama keponya.


"Bukan gelar tinggi kok. Yaa ceritanya mendiang mbahku itu anak selir, papaku otomatis punya gelar Raden. Lha aku anaknya juga mewarisi gelar itu. Udah gitu aja. Aku malah asing kalau dipanggil gitu," jelasku. Mereka manggut manggut.


"Enak ya La jadi kamu, udah cantik, kaya, anak bangsawan lagi. Pantes Kak Riko ngejar kamu," kata Lola.


"Hahahaha gak gitu juga kali. Semua orang pasti punya masalah Lol. Gak mungkin enak mulus gitu aja," jawabku sambil ganti leging, tapi kok ada yang aneh. celana legingku mirip celana aladin. Longgar sekali.


"Kebalik Laa itu legingku, pantes ini leging gak masuk dikakiku," kata Lola sambil menunjuk leging yang dia pakai cuma sebatas lutut.

__ADS_1


"Kamu kayak pepes nanti kalau pake leging Lala," kata Nita. Kami bertiga cekikikan di ruang ganti. Posturku dan postur tubuh Lola emang beda jauh. Aku kecil krempeng, Lola tinggi besar cenderung gendut.


__ADS_2