Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Saudara


__ADS_3

Ketukan pintu menyadarkan lamunanku pada kenangan Farel.


"Hector mana?" tanya Vano saat aku mambuka pintu.


"Tidur, habis minum obat diare tadi," jawabku.


"Aku bawain obat juga. Aku panik waktu kamu bilang Hector sekarat," kata Vano terlihat beneran panik. Membuat aku tertawa. Aku menutup mulutku saat melihat Hector menggeliat. Vano menarikku ke teras kos.


"Tawamu itu bisa menggetarkan dunia," kata Vano.


"Ini untuk Hector kalau masih diare. Ada suplemen kesehatan juga," lanjut Vano sambil menyerahkan bungkusan berlogo apotik 24 jam.


"Terimakasih," jawabku. Ternyata Vano ini lumayan perhatian juga.


"Aku pulang dulu, selamat malam," kata Vano kemudian berbalik. Entah kenapa aku memegang tangannya.


"Gaa.... gak mampir dulu?" tanyaku bodoh. Vano tersenyum.


"Kamu mau aku temani?" tanyanya berbalik menautkan kedua tangan kami.


"Tidak, aku hanya ...... kau..... ya sudah sana pulang," entah mengapa aku jadi malu dan salah tingkah. Vano kesulitan menahan tawa. Pipinya menggenbung mukanya merah padam.


"Pulang sana!!" usirku sekali lagi. Dia malah ketawa ngakak. Menyebalkan!! Aku langsung berbalik masuk kamar.


"Sepertinya aku sudah cukup mempesona sekarang," kata Vano sebelum pergi. Aku langsung menutup kamarku. Entah kenapa jantungku serasa memompa darah lebih keras. Aku sampai memegangi dadaku.


"Lain kali aku ajak kencan Po, saat ini aku sibuk sekali. Mimpikan aku ya Po," teriak Vano seperti orang gila. Bodohnya aku juga tertawa dengan tingkah bodohnya.


***


Seminggu lebih berlalu. Hector masih anteng di kosanku. Entah kapan mau pulang. Tapi dia gak terlalu menganggu, justru membantuku bersih bersih kos. Juga membuat aku gak kesepian karena putus dari Farel. Mantan pacarku itu juga sama sekali tidak terlihat. Aku bisa konsen buat ujian semester dua ini.


"Po, nanti kamu ujian terakhir kan?" tanya Hector pagi ini setelah dia olah raga lari muter komplek. Membangunkan aku yang masih bergelung manja dikasur.


"Iya, kenapa?" tanyaku sambil menggeliat dikasur. Aku emang jarang bangun pagi. Justru pagian Hector bangunnya. Entah kenapa.... Aku gak suka bangun pagi.

__ADS_1


"Cuma mau ngingetin knalpot tanda tutup mulutku belum ada lho ya.... transfer uang doang juga boleh. Nanti aku milih sendiri," kata Hector. Aku menghela nafas. Pagi pagi udah kena denda ini. Kuambil hp dan buka M banking.


"No rek?" tanyaku singkat. Hector langsung girang bukan main.


"Makasih 'Mbak' Lala cantik, ihhh kalo gitu cantiknya semakin terlihat," kata Hector sengaja menegaskan kata 'Mbak'. Membuat aku agak mual sebenarnya.


"Janji tutup mulut. Jangan bilang apapun soal kos disini. Juga..... Kelakuan Farel," pesanku pada Hector.


"Amanlah, walaupun aku ingin sekali menghajar mantan pacarmu itu. Aku tungguin disini sampai seminggu lebih, tapi gak nongol juga itu monyet," kata Hector geram. Aku mengulum senyum. Ternyata dia adik yang sedikit berguna. Dia udah bisa belain aku dan jagain aku.


"Udah gila kamu Po? Mandi sana daripada senyam senyum gitu. Aku merinding lihat senyumanmu. Hiiii...," kata Hector cari bahan buat kita berantem lagi. Aku bangun dari kasur dan memeluknya erat.


"Makasih udah dukung aku," kataku. Hector balas memelukku.


"Sama sama Po, walaupun aku benci bilang ini, tapi kamu tetep sodara yang aku sayangi. Aku gak rela kamu digebugin. Jangan bucin lagi. Kamu harus move on dari Farel, oke?" kata Hector sambil mengelus rambutku. Aku mengangguk dalam pelukannya.


"Dah, waktunya mandi," kataku sambil melepas pelukan. Aku baru menyadari kalau Hector ini tambah jangkung dan kekar badannya.


Kudengar Lola muntah muntah lagi. Dia sering masuk angin akhir akhir ini. Mungkin karena banyak kegiatan. Udah lagi ujian semester, dia lagi asik asiknya pacaran. Sering minjem motorku atau motor Nita buat ke tempat pacar. Sampai sekarang dia belum mau go public sama kita tentang pacarnya.


"Muntah muntah lagi Lol?" tanyaku saat kami sama sama keluar dari kamar mandi. Dia cuma mengangguk lemas. Mukanya pucat sekali.


"Nanti masih ada ujian teori terakhir, sayang kalau gak masuk," jawab Lola. Aku mengangguk akur. Iya sih nanti kami masih satu ujian. Kami beriringan masuk kamar.


Tiba tiba Lola berpegangan pada dinding dan ambruk begitu aja. Aku memeganginya, tapi dia terlalu tinggi dan besar.


"Torr.... Sentorr..... Nita... tolongin... ini Lola pingsan!" teriakku. Mbak Desi datang lebih dulu, tapi tenaga kami tetap kalah berat dari tubuh Lola.


"Ditidurin lantai dulu La, dia ini besar banget. Gak kuat," kata Mbak Desi. Sempoyongan kami berdua menahan tubuh Lola membaringkannya pelan di lantai. Hector dan pacar Nita keluar kamar masing masing. Mereka kemudian membopong tubuh Lola kekamarnya.


"Hadeeehh untung ada cowok selain aku," kata Hector sambil ngos ngosan.


Aku langsung ambil minyak kayu putih. Nita berusaha menyadarkan Lola. Setelah beberapa menit Lola sadar. Tangan kakinya kugosok minyak.


"Buatkan teh hangat Tor!" perintahku pada Hector. Dia kemudian ke kamar dan kembali tak lama dengan secangkir teh hangat. Kuminumkan pelan pelan pada Lola. Dia meminumya hampir seperempat gelas.

__ADS_1


"Udah sarapan?" tanya Nita. Lola menggeleng.


"Aku beliin kalau gitu," kataku cepat sambil menggandeng tangan Hector.


"Mbak Lola mungkin ada pingin sarapan apa gitu Mbak?" tanya Hector.


"Aku pingin oseng daun pepaya di warung Merah," jawab Lola. Aku dan Hector bergegas membelinya.


Aku sudah beres beli sarapan di warung Merah. Sarapan pilihan kedua selain nasi uduk dekat kampus. Warung ini sebenarnya enak, tapi berlawanan arah dari kampus. Jadi kami jarang kesini.


"Kayaknya Mbak Lola nyidam deh," kata Hector aneh aneh.


"Mulutmu Tor, Lola beda sama Nita. Pacar aja baru punya satu ini. Dia gak penganut pergaulan bebas," jawabku.


"Tapi aku perhatikan dia sering muntah pagi kan, trus tadi aku sempet ngelirik ada banyak obat pelancar haid di kamarnya. Dua hari yang lalu dia minta antar aku beli rujak, padahal kamu sama Mbak Nita aja belum pulang ngampus. Dua hari yang lalu dia juga kaya orang mabok kan?" Hector sok detektif. Benar juga sebenarnya. Lola bahkan muntah di kampus, kemudian ijin pulang duluan. Tapi kalau dia hamil, aku gak percaya. Lola itu anak baik baik kok.


"Haaa dari mana kamu tahu itu obat pelancar haid?" tanyaku.


"Lah, teman cewekku di SMA ada yang konsumsi itu kalau lagi haid. Aku pernah diajak muter muter cari itu. Nyarinya sambil nangis nangis. Sial aku dikira nganiaya dia sama orang orang. Padahal dia cari obat buat mens," jelas Hector. Aku tertawa ngakak. Emang ada ada aja tingkah adik beda satu tahun ini.


Sampai di kosan aku melirik meja Lola yang ada di samping pintu. Benar..... ada botol jamu pelancar haid dan banyak obat sejenis. Aku baru melihatnya sekali ini di kamar Lola. Biasanya dia gak ngeluh masalah haid kok. Aneh memang. Ahhh..... bodolah mungkin hanya pikiran Hector yang mengada ada.


Selesai urusan Lola aku berangkat ngampus. Lola tetap maksain ngampus juga. Kami baru pakai sepatu saat Hector bilang kalau pagi ini dia mau pulang kerumah.


"Gak nanti siang aja bareng aku?" tanyaku. Dua sahabatku setia nungguin aku ngobrol bentar sama Hector. Aku nanti siang juga pulang kerumah. Ini hari terakhir ngampus sebelum liburan semester.


"Gak, aku ada janjian sama temanku sebelum jum'atan berangkat," jawab Hector. Aku manggut manggut.


"Ya udah, hati hati ya di jalan," kataku.


"Jangan lupa, nanti kalau jadi TNI boking aku ya ganteng, selamat jalan," kata Nita. Hector langsung pura pura muntah sambil ketawa ketawa.


"Hati hati di jalan Tor," Lola ikut ngasih salam perpisahan.


"Makasih... Mbak Lola jaga kesehatan yaa," jawab Hector. Lola mengacungkan ibu jarinya.

__ADS_1


"Kuncinya taruh mana?" tanya Hector lagi padaku.


"Bawah keset aja," jawabku santai. Kami bertiga langsung cuss ngampus.


__ADS_2