Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Zee Vano 2


__ADS_3

Aku selesai mandi. Mereka asik masak berdua sambil bercanda. Aku muak melihat mereka. Ngapain sih cewek itu kesini? Kuambil kunci motor dan pergi tanpa pamit. Aku nongkrong di cafe dekat kampus. Baru mau pesan minuman Vano datang dengan motornya.


“Bisa pulang sebentar? Rita harus mengukur tubuhmu,” kata Vano datar. 


“Ngapain dia harus mengukur tubuhku?” tanyaku gak kalah datar.


“Kalau gak mau ya sudah, pakai saja baju pentas untuk resepsi kita nanti. Pulang sekarang atau terserah kamu. Rita pulang satu jam lagi,” kata Vano dingin.


Aku akhirnya pulang kerumah. Beriringan dengan Vano. Rita mengukur tubuhku dengan teliti. Dia juga tanya ada request khusus untuk gaunku saat resepsi.


“Gak ada, terserah kamu aja gimana mau bikin,” jawabku asal. Rita mengangguk. Ada kesedihan yang susah disembunyikan diwajahnya.


"Kenapa bukan kamu saja? Yang jadi mempelai wanita?" tanyaku kubuat sesantai mungkin. Vano langsung pasang kuping. Rita tersenyum. Aku emang sengaja melakukannya dihadapan mereka berdua.


"Aku tidak bisa memaksakan cinta Mbak. Kalau bisa aku juga tidak ingin orang yang kucintai mengejar cinta orang lain tanpa terbalas," jawab Rita.


"Mas Vano gak salah, aku yang memintanya menerima ciumanku,-"


"Jangan jelaskan apapun pada orang yang tidak mau mendengar Rit!" potong Vano. Selanjutnya hanya keheningan. Suasana sangat canggung tercipta. Rita meminta Vano membelikan boba. Vano berangkat tanpa bicara sepatah pun.


"Aku sedih untuk pertengkaran kalian, percayalah Mas Vano hanya melihatmu bahkan saat dia masih remaja. Aku memaksanya menerima ciumanku. Aku sedih karena patah hati, dia hanya menghiburku dengan menuruti keinginanku. Cintaku pada Mas Vano memang harus berhenti," jelas Rita sedih.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Keyakinan kami berbeda Mbak. Vano tumbuh dalam keyakinan islam, sedang aku adalah pemeluk kristen sejak lahir. Itu sebabnya Tante Winda begitu menentang kedekatan kami. Beliau bahagia karena akhirnya Vano memperistri kamu," jelas Rita panjang lebar. Aku manggut manggut.


"Maaf Mbak, maafkan Rita. Aku janji akan melupakan Vano. Terima dia Mbak, terima kakakku dengan sepenuh hatimu. Dia hancur kau tolak terus," kata Rita sambil menggenggam erat tanganku. Kami berpelukan.


"Rayu dia mbak, dia kalau ngambek agak lama, tapi aku yakin bucinnya sama kamu masih banyak," kata Rita sambil tersenyum, kemudian pamit pulang.


"Gak pamit Vano? Lha bobanya gimana?" tanyaku. Rita cuma tersenyum. Kemudian berlalu dengan ojek online yang sudah dia pesan.


Vano pulang celingukan mencari Rita, tapi tidak sepatah katapun terucap. Dia lebih memilih menelepon Rita kemudian masuk kamar.


“Aku lapar No,” kataku sebelum dia masuk kamar.


“Ada makanan dimeja makan,” jawab Vano dingin.


“Aku mau nasi goreng bikinan kamu,” kataku.


“Aku capek,” kata Vano masuk kamar. Aku mengikutinya ke kamar.


“Trus aku makan apa?” kataku. Aku gak nyaman dengan sikap dinginnya. Aku mau Vano yang biasanya. Yang hangat dan pemaksa. Jafilah caper dan manja dikit.


“Terserah, bikin nasi goreng sendiri. Atau beli diluar banyak,” Jawab Vano sambil naik ke tempat tidurnya. Aku bengong dekat tempat tidurnya. Semenit…. dua menit….. tiga menit…. sampai lima menit aku masih dikacangin. Sebel juga aku. Akhirnya keluar kamarnya. Ambil kunci motor cari nasi goreng diluar. 


Baru buka pintu Vano nongol di belakangku.


“Mana kuncinya aku temani!” katanya ketus. Kami pun berboncengan naik vespa merahku. Dia benar benar gak makan. Cuma pesan teh hangat saja.


"No, aku mau ngomong boleh?" tanyaku karena teringat tempat latihan yang diributkan temanku.

__ADS_1


"Apa?" jawab Vano sambil sibuk melihat hpnya.


"Aku dan teman temanku bingung cari tempat berlatih. Kami harus latihan tari, tapi gak punya tempat. Aku boleh ngajak teman temanku latihan di rumah kamu?" tanyaku agak takut takut. Vano tersenyum. Senyum pertama yang kulihat minggu ini.


"Kamu gak perlu ijin untuk apa yang kamu mau lakukan di rumahmu," jawab Vano. Dia selalu mau berbagi apapun denganku, sedang aku seperti tidak menerimanya. Aku merasa…. Sedikit jahat.


“No aku minta maaf,” kataku.


“Buat?”


“Buat semua kata kataku,” jawabku.


“Kenapa harus minta maaf kalau itu yang kamu rasakan?” tanya Vano. Aku terdiam. Dia benar, kenapa aku harus peduli seperti apa sikapnya padaku kalau aku jujur gak cinta sama dia? tapi kenapa aku sakit sekali diperlakukan dingin sama Vano?


“No, aku mau kamu bersikap biasa. Jangan dingin ketus gini. Aku suka Vano yang jahil, cerewet, dan pemaksa,” kataku. Vano diam memandangku. 


“Kamu mau aku bersikap memujamu, padahal perasaanku jelas tidak terbalas?” tanya Vano padaku. Aku diam, mengaduk ngaduk nasi goreng didepanku.


“Kenapa bilang lapar kalau dari tadi nasimu cuma diaduk?” lanjut Vano. Dia berdiri dan membayar.


“Ayo pulang!” ajak Vano.


“No….” kataku di motor sambil menyandarkan kepalaku di pundaknya.


“Mana helmmu La?” tanya Vano menyadari aku gak pakai helm.


“Ini…” kataku sambil menggerakkan dengkul. Helmku aku cantolin di dengkul.


“Ya enggak lah, aku gak mau pakai helm, udah malam juga… gak ada polisi yang bakalan nilang,” kataku.


“Pakai helm bukan karena takut ditilang polisi La. Helm itu alat keselamatan. Gak lucu kalau kepalamu terbentur padahal kamu cuma berkendara gak jauh dari rumahmu. Sesuatu yang seharusnya bisa dihindari, malah terjadi cuma karena malas pakai helm.” ceramah Vano panjang kali lebar. Aku lupa kalau emang gak ada polisi lalu lintas, tapi aku dibonceng seorang polisi juga. hihihihi. Aku pun dengan rela hati pakai helmku lagi.


Aku memeluk erat Vano. Udara dingin membuat pelukan ini terasa hangat. Tanpa kusadari Vano mengarahkan motor bukan pulang kerumah. Kami berkendara jauh entah kemana. Aku rela dibawa kemanapun asal bisa berdekatan seperti ini.


“Po, jangan tidur lho,” kata Vano.


“Aku masih melek No,” jawabku sambil mengeratkan pelukan.


“Tahan sebentar lagi ya. Kita hampir sampai pantai,” kata Vano. Aku langsung menegakkan duduk.


“Pantai????” kataku agak kaget. Dari gerakan helmnya aku tahu Vano mengangguk.


Kami berhenti disebuah pantai. Aku baru tahu kalau pantai di malam hari itu asik.


“Kamu gila No, pulang jam berapa nanti sampai rumah?” tanyaku sambil takjub memandang deburan ombak yang berkilat karena cahaya bulan. Vano tersenyum.


“Aku kalau gak gila gak akan bisa menikahi cewek yang gak cinta sama aku,” kata Vano cukup perih kudengar.


“Ngerusak suasana ah,” kataku protes.


“Aku mengatakan fakta Po,-”

__ADS_1


“Panggil aku Sayang, kalau panggil Po aku kaya lagi jalan sama Hector!” potongku pada perkataannya. Vano bengong sesaat kemudian tertawa.


“Kau menyuruhku terus bucin sama orang yang gak cin,-” kali ini perkataan Vano terputus bukan karena aku memotong kata katanya, tapi karena aku mel lumaat bibirnya yang cerewet itu. Vano menanggapi ciumanku dengan panas.


“Hummm apa ini seperti sebuah pernyataan cinta gak resmi?” tanya Vano. Aku diam saja.


“Ucapkan sekali saja dengan mulutmu Vanila, kalau kau mencintaiku!” kata Vano sambil menggenggam tangan kiriku.


“Apa itu penting? Biasanya wanita yang cerewet dengan pernyataan, kenapa malah kamu yang cerewet?” tanyaku. Vano cemberut mulutnya sampai maju beberapa senti. Lucu sekali. Aku tertawa melihatnya.


“Kau tertawa? kau menertawakan pertanyaanku?” tanya Vano nyolot. Dia mau beranjak dari tempat duduknya. Aku menarik tangannya.


“Aku mencintaimu Ipda Zee Vano Arkansah Putra,” kataku sebelum dia benar benar beranjak.


“Aku juga mencintaimu Vanila Jean Aliee,” senyum terkembang dari bibirnya yang tipis.


Kami menghabiskan malam di pantai yang sepi. Ditemani ombak dan debaran jantung kami yang saling mengakui perasaan. Juga bercerita entah dengan apa yang ada dipikiran. Dia juga bercerita tentang Rita. Sepupu yang jatuh cinta padanya. Vano sendiri tidak bisa membalas perasaan Rita.


"Andai dia mau berpindah keyakinan, aku mungkin akan menerimanya, tapi keyakinan itu dari dalam hati. Tidak bisa dipaksa juga karena cinta. Tuhan bukan atas nama cinta, tapi cinta atas nama Tuhan. Jika Tuhan atas nama cinta, maka seberapa lama cinta itu akan bertahan didunia yang fana? Lalu benarkah mereka yang memeluk Tuhan atas nama cinta sanggup bertahan? Padahal cinta mereka sudah kandas?" cerita Vano kemudian menghela nafas. Aku terkesima dengan cara pandangnya.


"Dia terluka saat tahu aku menikahimu. Menangis sampai gak berhenti. Dia bilang mau menciumku untuk terakhir kalinya… terakhir kalinya dan dia rela melepas rasa cintanya. Dan…. Maaf, aku mengabulkan permintaannya," kata Vano sambil menggenggam tanganku yang ada di pangkuannya. Aku manggut manggut. Aku percaya padanya.


Kami kemudian bercerita tentang apa saja. Tentang masa masa aku membenci Vano juga.


“Musuh yang menjadi suami, tidak buruk juga,” kataku. Vano tertawa.


“Aku yakin bisa mengambil cintamu sayang, aku tahu juga kamu mencintaiku,” katanya penuh percaya diri.


“Kenapa begitu?” tanyaku.


“Karena aku tak pernah mendapat tamparan walaupun aku menciummu untuk pertama kalinya,” katanya sambil nyengingis. Aku menabok lengannya.


“Ayo pulang, ini sudah dini hari, besok aku yakin akan susah membangunkanmu untuk berangkat kuliah,” kata Vano sambil merentangkan tangannya membantuku berdiri.


Kami sampai rumah dini hari. Tidur berpelukan sejenak, kemudian memulai aktivitas masing masing.


“Mau aku antar ngampus?” tanya Vano di halaman.


“Gak, aku pulang malam, ada tugas dari dosen, kami akan mengadakan pertunjukkan sendratari. Kau boleh melihatnya kalau mau,” kataku. Vano mengangguk.


"Aku akan menggantikan Mbah mu untuk menonton tiap pertunjukkan mu Sayang,” janji Vano. Aku tertawa.


“Jangan mengobral janji palsu, aku tahu benar kesibukanmu, aku sering dapat janji palsu dulu dari papa,” kataku. Vano tersenyum.


“Kalau begitu aku tambah akan aku usahakan sangat,” Vano gak mau kalah. Aku mengambil tangannya dan menciumnya.


“Berangkat dulu Kak Vano,” pamitku. Vano bengong dengan wajah bodohnya. Lucu sekali, tapi sayang waktuku gak banyak pagi itu. Kutinggalkan saja dia. Aku cuss tancap gass dengan motorku.


Sampai kampus kulihat hapeku. Ada pesan dari Vano.


‘Terimakasih sudah menerimaku Sayang. Terimakasih untuk panggilan Kakaknya. Itu manis sekali.’ tulis Vano. Aku senyum senyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2