
Usai sarapan kami bersiap pergi ke pantai. Vano menjadi pengemudi, aku duduk di sampingnya. Mama dan Papa duduk di belakang sambil saling berhimpit mesra. Perjalanan dua jam lebih hanya terisi suara Mama kebanyakan. Aku masih malas banyak bicara, entah lah…. aku masih malas sama Papa.
Kami tiba di pantai. Papa langsung ambil satu payung sewaan. Dan memesan beberapa es kelapa muda yang sepertinya memang menyegarkan. Mama mengajak Vano berbelanja seafood. Sepertinya memang sengaja meninggalkan aku berdua dengan Papa. Mama menyadari kemarahanku dengan Papa. Wanita yang melahirkan aku itu memang peka sekali.
“Kamu masih marah sama Papa Nak?” tanya Papa mengawali percakapan. Aku diam saja mengawasi deburan ombak yang berlarian tanpa henti.
“Maaf, Papa pasti terlihat egois sekali di mata kamu,” kata papa sambil mendekatkan diri kearah aku duduk. Merangkul pundakku dalam rengkuhan tangannya yang kokoh.
“Papa ambil semua resiko yang akan terjadi setelah menyerahkan kamu pada Vano secara sepihak. Papa hanya ingin kamu dijaga dengan baik, dan tidak ada hal buruk yang menimpa kamu lagi.” kata Papa.
“Tapi Papa menciptakan masalah baru buat Lala, Pa. Papa tahu betapa tidak cocoknya Lala dengan Vano? Kami sering berdebat sejak kecil. Sekarang malah aku harus hidup dengan Vano!” jawabku kesal.
“Papa tahu, Nak. Papa tahu kalian sering berdebat sejak kecil. Tapi Papa juga tahu kalau Vano menyukaimu sejak dia masih kecil juga. Vano yang kau anggap menyebalkan itu sebenarnya hanya cari perhatian. Tidak ada pria lain yang menunggu perhatianmu sesabar Vano. Tidak ada pria lain yang berani memintamu langsung pada Papa seberani Vano,-”
“Mantu nomor satu..!" potongku pada kalimat Papa yang terus memuji Vano. Papa tertawa.
“Sebenci itu kamu sama dia? Lalu bagaimana kalian menjalani hidup selama ini berdua?” tanya Papa belum berhenti tawanya.
“Bagaimana? mau Lala ceritakan? Ceritanya pasti mengecewakan Papa, Karena Lala berusaha membuat Vano menyesal memilih Lala dan menceraikan Lala sebelum pernikahan resmi digelar," kataku jujur pada Papa. Beliau geleng geleng kepala.
“Apa Vano masih bersabar denganmu?” tanya Papa. Aku mengangguk pelan. Iya, dia sabar sekali. Seolah stok sabarnya segunung. Padahal aku sudah berusaha jadi orang yang menyebalkan.
__ADS_1
“Bukankah itu menunjukkan besarnya rasa cintanya padamu, Nak? Papa tahu dicintai itu enak. Lebih enak daripada mencintai. Itu sebabnya Papa menjodohkan kamu sama Vano, setidaknya Papa menitipkan kamu sama orang yang benar benar mencintaimu,” kata Papa.
Beliau kemudian bercerita kalau Vano pernah ketahuan membawa fotoku di asrama. Vano rela dihukum karena mengakui cintanya padaku tepat di hadapan Papa.
"Papa sudah menyuruhnya berhenti mencintaimu saat di asrama. Vano dengan tegas bilang dia tidak bisa. Papa memberinya hukuman berat saat itu. Dia menerimanya dengan senang hati," kata Papa bercerita.
"Papa kira dia akan kapok, ternyata tidak. Rasa cintanya padamu bahkan masih utuh sampai dia lulus dan bertugas disini," kata Papa menerawang jauh.
"Tapi Lala gak cinta Pa, Lala gak bisa nerima dia sebagai suami," kataku masih ngeyel.
“Terima dia, Nak. Bukankah ciuman juga tidak akan terjadi kalau dua belah pihak tidak menginginkannya? Apalagi cumbuan sampai seperti itu," kata Papa sambil nyengingis. Melirik leherku yang sebenarnya sudah aku tutupi dengan banyak foundation. Aku jadi malu sendiri. Gila!!! mata Papa tajam sekali ternyata.
“Papa iihh…” kataku malu sambil berdiri. Papa ikut berdiri dan menggandeng tanganku.
Kalau dipikir pikir Papa itu egois padaku, tapi sangat egois sama Vano. Menerima cinta Vano, padahal tahu aku tidak mencintainya. Menyuruh Vano berjuang sendiri merebut hatiku yang sudah mengakar membencinya. Entahlah…. Vano pun sebenarnya tidak terlalu buruk dijadikan teman. Dia orang yang mau menerimaku apa adanya. Bahkan saat aku sudah bersikap menyebalkan padanya. Apa harus aku mencoba menerimanya? Mencoba mencintainya juga?
Vano dan Mama nyusul main air. Kami main air seperti lupa umur. Menikmati liburan dadakan ini dengan suka cita. Makan siang di resto dekat pantai dengan menu seafood yang nikmat. Vano mengupaskan udang goreng untukku agar aku gak repot memakannya.
“Makasih,” kataku girang.
“Nikmati, aku tahu kamu bodoh dan tidak sabaran. Aku takut kepala udang ini kamu telan dan melukai mulutmu.” kata Vano masih menyebalkan. Emang dasarnya dia itu menyebalkan!!! Aku mendelik sama Vano. Mama tertawa ngakak.
__ADS_1
“Ayolah No, Papa udah promosiin kamu dengan gencar, kamu masih bresikap seperti itu. Bersikap yang manis mulai sekarang," Papa komen. Vano tersenyum malu.
Usai makan siang kami langsung pulang. Papa sempat tidur dijalan. Beliau langsung mau pulang ke Solo setelah ini. Jadi simpan tenaga dijalan. Benar saja, sampai rumah Vano mereka pamit pulang. Aku dan Vano langsung terkapar di kamar masing masing.
Aku bangun sudah hampir magrib. Kamar Vano tertutup rapat. Kulihat di dapur gak ada nasi, padahal Mama udah beli seafood banyak tadi. Sebagian ditinggal disini. Aku pun inisiatif menanak nasi dan bikin sambel bawang nyontek di youtube. Vano keluar kamar saat aku berisik ngulek sambel.
"Wow wow… kamu mau satu komplek tahu kamu lagi ngulek sambel Sayang," katanya sambil tertawa. Aku menatapnya sebal. Dia gak tahu apa aku pingin belajar jadi istri. Vano mengambil lap kain dan melipatnya. Menyelipkan dibawah cobek. Benar saja suara ulekannya teredam.
"Kamu ini koki apa polisi sebenarnya?" tanyaku sambil melanjutkan ngulek. Vano tertawa.
"Aku cuma hobi masak. Dulu aku sering ngerecokin juru masak di panti. Entahlah… masak itu menyenangkan untukku," kata Vano.
"Panti? Panti apa?" tanyaku sambil berhenti ngulek. Pegal juga ternyata ngulek seperti ini. Apalagi buat aku yang jarang pegang alat dapur. Vano mengambil ulekan dan menggantikan aku. Tangannya cekatan memanaskan sedikit minyak di atas teflon.
"Orang tuaku salah satu donatur panti asuhan kecil. Menampung beberapa anak terlantar. Aku tumbuh besar bersama anak anak panti itu Sayang," kata Vano. Aku manggut manggut.
"Dan aku tahu aku sebenarnya juga anak angkat untuk kedua orang tuaku. Walaupun mereka tidak mengatakannya. Rasanya sedikit sakit. Tahu tapi tak diberi tahu, penasaran juga dengan keluarga kandungku," lanjut Vano getir. Aku melongo sesaat.
"Iya, aku anak pungut yang beruntung mendapat curahan kasih sayang mereka," kata Vano lagi sambil melihat mukaku. Aku tahu dia tidak percaya diri. Dia jadi melow. Entah kenapa aku memeluknya. Vano membalas pelukanku dengan mengusap punggungku.
"Kamu hebat sejauh ini. Gak perlu minder begitu. Entah anak pungut atau anak kandung mereka tetap menyayangimu. Dan aku menilaimu dari pribadimu, terserah mau anak apapun aku gak peduli," kataku sambil bersandar nyaman di dada Vano. Dia mengecup rambutku dengan sayang.
__ADS_1
"Terimakasih, kau membuat rasa percaya diriku berlipat Sayang," kata Vano.