Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Zee Vano


__ADS_3

"Laa... kam..... ups.... sorry...." suara Lola. Membuka pintu kamar saat aku dan Vano masih berciuman. Dia kembali menutup pintu. Aku meronta kasar, tapi Vano belum berniat melepaskan ciuman kami. Bahkan tidak peduli sudah ketahuan Lola. Semakin erat membelengguku dalam pelukannya. Otot tubuhnya mengeras menahan penolakanku. Aku merasakan tubuhnya semakin berotot saja daripada dulu. Lidahnya sudah lincah menari nari dalam rongga mulutku. Aku menyerah. Ikut menikmati ciumaanya yang panas.


Betapa hidup ini aneh... Farel lah yang menjadi pacarku selama bertahun tahun. Tapi orang ini yang menjadi pengambil ciuman pertamaku.


"Manis, bibirmu masih manis seperti yang dulu," komentar Vano mengakhiri ciumannya. Aku terdiam ngos ngosan mengatur nafas.


Dia tersenyum manis. Lekat memandangku dengan matanya yang dalam.


"Kenapa lidahmu masih kaku? Kau juga belum bisa mengatur nafas. Apa..... kau belum pernah dicium selain aku? Baji ngan itu belum pernah menciummu?" tanya Vano. Aku menampar pipinya cukup keras. Dia terima saja tidak menolak. Justru nyekikik mirip orang gila. Aku jadi....merasa berdosa.... Dia yang udah nolongin aku, malah sekarang aku menamparnya. Bodoh!!! Tidak aku ralat, aku tidak merasa berdosa sama sekali. Aku bingung dengan otakku sendiri.


"Pergi dari kamarku sekarang!!" kataku sebal.


"Tidak, suka suka aku. Aku mau tinggal disini sampai pagi," katanya menyebalkan.


"Memang siapa yang mengizinkanmu!!!" teriakku sebal.


"Aku tidak perlu ijin darimu. Kau kehilangan kebebasanmu Nona... usir aku, aku akan langsung telepon Pak Revan dan menceritakan apa yang aku lihat," ancamannya membuat aku bungkam. Papa akan memotong Farel hidup hidup jika tahu kelakuannya padaku.


Vano tersenyum menyebalkan. Di matanya nampak kekecewaan. Dia pasti kecewa dengan bungkamku. Yang menunjukkan aku masih membela Farel.


"Jadi..... siapkan selimut untukku. Aku juga butuh bantal. Kasurmu ini cukup untuk berdua," katanya santai sambil melepas jaket dan sepatunya. Berbaring nyaman di kasurku. Edan!!!


Aku mengambil bantal cadangan di lemari.


"Jangan harap!!! Silahkan tidur disini. Aku tidur di kamar Lola!!!" kataku sebal. Menuju pintu dan menarik hendelnya.


"Berani keluar dari sini, aku telepon Pak Revan sekarang!!" ancam Vano. Aku menutup pintu kamarku dengan gemetar. Menjatuhkan diri kasar di sampingnya. Dia nyekikik menyebalkan.


Aku mencoba tidur tapi tidak bisa. Pikiranku berputar putar pada Farel. Aku harus apa??? Benarkah aku tega melaporkannya? Tapi yang dia lakukan sudah sangat layak dilaporkan. Tidak, Farel tidak seburuk itu. Dan aku tidak tega terjadi apa apa sama dia. Aku..... tidak sanggup hidup tanpa Farel. Tidak terbiasa tanpa kehadirannya.


Vano bangkit mengecek aku yang membelakanginya. Aku langsung pura pura tidur. Vano merapikan rambutku dengan sayang. Mengecup pipiku pelan sekali.​


"Selamat malam Sayang," katanya kemudian menjatuhkan diri di belakangku. Memeluk pinggangku dengan erat. Sialan!!!! Sekarang aku terjebak dengan makhluk menyebalkan ini.

__ADS_1


***


Aku terbangun karena aroma teh yang diseduh. Teh hijau faforitku. Vano ternyata suda bangun. Mengaduk dua cangkir teh dalam gelas plastik yang ada di kamarku.


"Pagi Po, ternyata faforit kita sama. Aku juga suka teh hijau merek ini," kata Vano sambil senyum. Aku melengos saja. Melihat jam dinding kamar. Masih pagi... baru jam 5 pagi, tapi dia sudah ribut bikin teh. Sok rajin!!


"Pulanglah, kau sangat mengganggu disini," kataku pedas. Dia tertawa.


"Aku mau lihat lihat kampus seni. Jadi aku yang akan jadi sopir pribadimu nanti," katanya. Haaaahhhh hari yang panjang untuk kuliah..... Ditemani makhluk menyebalkan ini.


Dia beneran ingin mengantarku. Sudah duduk di depan kos sambil main hp. Anita menghampirinya.


"Tidur sini Mas?" tanya Nita.


"Iya, agak terganggu dengan suara de sah han," jawab Vano tanpa malu. Nita tertawa.


"Kalau Lola sama Lala udah biasa denger. Udah jebal kuping mereka," kata Nita. Semalam memang pacarnya datang. Yah.... tau sendirilah Nita ngapain sama pacar di kamar.


"Nebeng dong... lumayan hemat bensin pulang pergi," Nita komen sambil berlari membuka pintu belakang. Lola bengong sejenak, tapi ikut idem.


"Kalian satu kelas?" tanya Vano.


"Iya dong, kita ini bestiean," jawab Nita.


Kami mampir sarapan di warung nasi uduk langganan. Vano ikut anteng sarapan di sampingku. Mengambilin bawang goreng dari piringku dengan santai. Seolah kami teman akrab. Aku mendelik saja gak mau protes dan malas protes. Nita dan Lola melihat interaksiku dengan Vano sedikit shok.


Rico datang dengan muka masam. Duduk di samping Nita tanpa permisi. Akan tetapi matanya lekat mengawasi aku dan Vano bergantian. Vano kepedasan. Minumnya sendiri sudah habis. Dengan santainya mengambil minumku dan meminumnya. Nita tertawa sambil geleng geleng.


"Kalian emang akrab yaa.... udah berbagi bawang goreng, tidur sekamar, sekarang berbagi minum. Apa ..... Mas Vano ini sejenis selingkuhanmu dari Farel La?" tanya Nita cari masalah. Iya, cari masalah.


"Ow, maunya selingkuh cuma sama pria model gini ya Roro Ayu Vanila. Haaa emang dasarnya murah dapat pacar ya model murah.... yang mahal kaya aku malah gak selera!" kata Rico ngajak ribut.


"Siapa yang murah brow?" tanya Vano santai.

__ADS_1


"Apa aku harus menjelaskan?" Rico balik nanya. Vano mengangguk mantap.


"Iya, siapa yang murah? Vanila? Wanita disampingku ini?" tanya Vano.


"Jelas lahhh siapa lagi?" jawab Rico meninggi. Aku berdiri langsung memukul hidung Rico dengan tanganku. Dia terjengkang dari kursi. Lola dan Nita langsung menjerit berdiri.


"Wow, itu kurang keras Sayang," komentar Vano santai. Rico berdiri hidungnya berdarah.


"Hah dasar wanita bar bar!!! Kau tidak pantas menyandan nama Roro di depan namamu!!! Aku mau visum. Aku laporkan pemukulanmu ini!!!" kata Rico beranjak pergi.


"Hei Brow, tunggu sebentar. Kau bisa melapor kebagian kriminal. Temui aku!!" kata Vano sambil melempar kartu nama. Diterima Rico dan membacanya.


"Haaa Ipda Zee, kau seorang polisi?? Bagus!! Aku juga bisa melaporkanmu sekalian!! Aku tidak takut!!!" kata Rico kemudian berlalu.


Vano membayar semua sarapan kami, termasuk sarapan Rico yang lupa dibayar.


"Aku merasa lucu. Membayari sarapan orang yamg sudah menghinamu," kata Vano sambil membuka semua pintu mobilnya.


"Silahkan masuk Nona Nona!" katanya santai. Kami yang masih shok terkejut dan masuk juga.


Vano benar benar mengantar sampai depan fakultas. Dia menahan tanganku saat aku mau turun.


"Aku akan mengatasi fansmu itu di kantor. Jangan khawatir," katanya. Aku mengangguk menarik tanganku dari genggamannya. Akan tetapi dia menggenggamnya lebih kuat.


"Telepon aku kalau kelasnya sudah berakhir. Aku akan jemput. Aku sudah menyimpan nomerku di hpmu," lanjut Vano.


Aku menghela nafas. Banyak sekali kejutan dihidupku dari semalam. Juga makhluk menyebalkan yang terus menempel. Pusing.... aku pusing. Vano sekilas memberikan kecupan di pipiku. Aku terkaget sampai melompat dari kursi. Lagi lagi aku kecolongan sama dia.


"Sekali lagi nyelong menciumku akan aku laporkan sama Papa!!" ancamku. Dia tersenyum.


"Iya, iya mari saling lapor," ancam Vano balik. Aku membanting pintu mobilnya dengan kasar.


Di kelas masih diintrogasi dua sahabatku. Aku harus cerita mendetail soal Vano untuk memuaskan rasa kepo mereka. Haaaa aku mau heling.

__ADS_1


__ADS_2