Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Budak Cinta


__ADS_3

Aku tahu benda itu alat kontrasepsi dari merek yang tercetak pada kemasannya. Farel gelagepan. Mukanya panik. Aku langsung menyadari ada yang tidak beres dengan Farel sekarang. Dia mencoba mengambil benda itu. Aku berkelit mempertahankan.


"Lala!! Kembalikan!!" kata Farel keras kepadaku. Aku terkejut. Farel tidak pernah membentakku seperti ini. Dia cepat merampas benda itu dari tanganku.


"Kamu ngapain aja Rel? Kamu udah gituan sama cewek lain?" tanyaku. Air mata merembes tanpa permisi.


"Bukan begitu La.... aduh ini gimana. Ini punya temenku. Kemarin kamarku dipakai dia. Dan mungkin tertinggal. Aku baru tahu ada beginian di kamarku," jelas Farel. Aku cuma tajam menatapnya. Sejujurnya aku gak percaya.


"Emang kamu percaya aku seburuk itu? Kamu udah jadi pacarku lama aja aku belum pernah cium lho," lanjut Farel meyakinkan. Benar, bahkan kami belum pernah berciuman. Farel mendekat tangannya melingkar dipinggangku.


"Sekarang aja yuk ciumannya," ajaknya sambil mendekat kearahku. Udara panas menerpa wajahku. Bersumber dari nafas Farel yang semakin mendekat. Aku memejamkan mata. Sekelebat aku teringat ciuman Vano dulu.... siaaalll!!! Kenapa harus Vano disaat saat seperti ini.


Suara lengkingan gitar listrik mengagetkan kami. Hp Farel berbunyi. Sekilas kulirik nama cewek tersemat. Farel mengangkat panggilannya diluar kamar. Jauhh sekali sampai aku tak bisa mencuri dengar percakapannya.


"Dari siapa?" tanyaku sama Farel begitu dia kembali.


"Teman nanyain tugas. Sampai dimana kita tadi?" tanya Farel intens menatapku. Entah kenapa aku jadi gak nyaman. Aku bukan dukun, tapi aku tahu Farel berbohong.


"Sampai waktunya nganterin aku pulang. Ayo!!" ajaku sambil keluar dari kamarnya.


Sampai di kosku Farel sempat memegang tanganku.


"Aku tunggu sampai kamu siap. Untuk ciuman pertama kita," katanya. Aku gelagepan. Ingin kukatakan bahwa ciuman itu tidak akan menjadi ciuman pertama..... tapi aku terlalu pengecut. Akhirnya hanya bisa tersenyum dan pergi berlalu masuk gerbang. Aku merasa... buruk.


***


Aku beneran pindah kos di tempat Nita. Dibantu Farel dan Nita. Langsung kenalan sama penghuni disana. Dua dari fakultas musik dan dua dari tari. Waaa enak deket teman sejurusan. Bisa minta tolong tugas. Hihihi. Mereka ramah dan asik.


Kos ini gak ada induk semangnya. Depan kost langsung gerbang. Belakangnya sawah. Hanya satu lantai dan semua sudah full. Aku menempati kamar disamping Nita. Paling ujung mepet pagar. Yang kutahu dari Nita disini bebas sopan juga mirip punya Farel. Dua senior dari musik sering bawa cowok nginep di kamar mereka. Itu yang kudengar dari Nita.

__ADS_1


"Yang tadi pacarmu La?" Tanya Mbak Desi, kakak tingkat.


"Iya Mbak," jawabku.


"Anak kuliahan juga? Anak mana?" tanyanya lagi.


"Anak Universitas Gajah," kataku menyebut kampus Farel.


"Mantaaapp!! Bocah berotak encer itu bisa masuk sana," kata Mbak Rani. Aku manggut manggut. Emang Farel itu otaknya lumayan encer. Bahkan dia udah dipinang bea siswa sejak awal masuk kuliah.


Satu lagi penghuni kost datang. Cewek dengan tubuh padat berisi dan tinggi. Lola namanya. Satu angkatan denganku dan Nita.


"Lala.... jadi pindah kesini?" tanya Lola dengan girang. Aku emang cukup dekat dengannya.


"Jadi dong, aku gabut bener sama kosanku yang lama," jelasku. Lola manggut manggut.


***


Farel datang besok malamnya. Makan malam bersama trus sibuk dengan laptopnya. Aku nongkrong di depan kamar sama Nita dan Lola.


"Kok keluar kamar? Bukanya pacarmu datang?" tanya Lola.


"Iya itu dia sibuk ngerjain tugas," kataku sambil nunjuk kamar. Lola dan Nita manggut manggut.


"Pacaran sehat kayaknya.... gak kayak kamu." kata Lola sambil nunjuk hidung Nita. Yang ditunjuk cuma nyekikik. Motor datang memasuki gerbang. Nita langsung girang. Berlari kearah cowok tadi. Tanpa canggung mereka berciuman di depan aku dan Lola.


"Bentar ya geng, mau ngetap oli pacar," kata Nita berlalu masuk kamarnya. Aku agak shok, tapi mencoba bersikap wajar. Aku tahu Nita rusak, tapi gak nyangka serusak ini.


"Pacarnya yang ngasih uang jajan, yang biayain kuliahnya lebih tua lagi," bisik Lola padaku. Aku cuma manggut manggut.

__ADS_1


"Udah ah, mau masuk. Jangan lupa pakai headset, kalau gak mau kupingmu tercemar hihihihi." Lola tertawa dan masuk kamar. Aku jadi ngikut masuk kamar.


Benar saja. Belum ada setengah jam sudah terdengar dess ahan dari kamar Nita. Awalnya aku coba tidak hiraukan. Farel juga menyadarinya. Dia terlihat gelisah. Sejujurnya aku iya. Kami berpandangan dalam diam. Farel mendekat. Mengendus rambutku. Kemudian turun kepipiku. Mengecup pelan. Aku memejamkan mata. Lagi lagi teringat Vano dan segala ciumannya. Aku merasa berdosa pada Farel. Saat bibir Farel hampir menyentuh bibirku, aku berpaling. Farel nampak kecewa.


"Kolot kamu La.... dengar yang dilakukan kamar sebelah. Sudah pasti lebih dari ciuman. Kamu pasti tahu itu!" kata Farel sebal.


"Bukan begitu Rel, tapi aku,-"


"Udah lah. Kolot ya kolot. Kamu bikin moodku anjlog. Udah aku mau pulang aja!!" potong Farel sambil mengemasi laptop dan barang barangnya. Berlalu pergi tanpa melihatku.


Aku memandanginya dari pintu kamarku. Ada rasa bersalah yang menelisip. Bagaimana aku jelaskan ciuman Vano pada Farel? Sekarang Farel malah salah sangka dikira aku kolot. Haaaaa aku bingung sendiri.


Farel benar benar ngambek. Tidak membalas pesan dan mengangkat telponku. Aku jadi merasa bersalah. Tiga hari tanpa pesan dan suara Farel itu terasa sepi. Aku sudah terbiasa sekali dengan kehadirannya. Apalagi sekarang. Hidup jauh dari orang tua, hanya ada Farel yang bisa aku andalkan.


Aku berencana mendatangi kostannya besok. Minta maaf, kalau perlu aku cium duluan biar gak ngambek lagi. Akan tetapi dia datang sendiri ke kosku malam ini. Aku girang bukan main.


"Udah gak ngambeg?" tanyaku ceria saat Farel turun dari motornya.


"Enggak asal kamu bayarin makan malam aku selama seminggu ini," jawab Farel dengan nada kesal. Aku tersenyum.


"Bahkan untuk satu bulan pun aku mau, asal pacarku ini gak ngambek," gombalku pada Farel. Dua temanku mencieh cieh.


"Bucin juga ternyata yaa," komentar Lola.


"Farel itu sudah seperti diriku sendiri. Aku terbiasa dengan kehadirannya sejak masih kanak kanak. Tiga hari jauh darinya membuatku kebingungan. Seperti hilang sandaran," kataku menjelaskan. Mereka baru tahu kalau Farel itu teman masa kecilku, sekaligus pacar pertamaku.


Kami makan malam berdua. Menceritakan apapun selalu nyambung dengan Farel.


"La, aku akan jadiin kamu istri. Aku akan hidup sama kamu sampai aku mati. Kamu gak boleh macam macam ya... gak boleh nakal," kata Farel saat kami berpisah di gerbang kosanku. Hatiku berbunga bunga. Ini seperti lamaran tak resmi begitu?? Haaa senangnyaaa....

__ADS_1


__ADS_2