
Kami pulang ngampus sore hari. Ujian emang udah selesai dari siang, tapi kami nongkrong sebentar haha hihi sama teman sekelas. Saling mengucap salam perpisahan untuk liburan panjang esok hari.
Lola udah baikan kayaknya. Udah bisa cekikikan gila sama aku dan Nita. Semakin siang kondisi Lola semakin membaik. Nita pamer tiket pesawat.
"Lihat gaes, sugar dedyku ngajakin liburan ke Bali... Haaa lihat ini..." kata Nita sambil ngelihatin chat pacarnya sama kita. Aku dan Lola heboh menanggapi.
"Seriusan?? Wih, mantap dahh," kataku.
"Enak bener deh jadi Nita," kata Lola. Nita pun pulang dijemput langsung sama sugar dedynya. Bahkan motornya disuruh bawa Lola sampai dia selesai liburan.
Aku dan Lola berjalan berdua menuju parkiran. Rico nongkrong dekat parkiran. Memandang tajam kearahku. Dia sekarang gak pernah godain atau macam macam. Aku sedikit lega.... Lola sibuk banget dengan hpnya bahkan hampir nubruk motor di parkiran.
"Lol kamu konsen dikit donk. Asik banget chatnya," kataku. Lola nyengir saja. Mukanya nampak girang bukan main.
"Heleehhh chat sama pacar rupanya, orang mana sih? Sampai sekarang belum mau go public juga?" tanyaku kepo. Lola tertawa.
"Kamu akan pingsan kalau tahu orangnya," katanya sok misterius. Aku tertawa.
"Emang siapa? Dia artis?" tanyaku nambah kepo. Lola cuma tersenyum miring. Masih mau main rahasia rupanya. Ah.... Bodolah besok besok aku juga pasti tahu.
Kami berpisah di parkiran. Katanya Lola ada perlu sebentar. Gak langsung pulang kekosan. Aku mau pulang sebentar. Ganti baju dan bawa beberapa barang penting, lalu cuss pulang.
Sampai di kos Farel menunggu. Aku sudah menghela nafas kasar. Kenapa dia datang setelah Hector pergi sih? Felingnya bagus banget tu anak.
"Pergi!! Aku udah gak ada urusan sama kamu!" kataku. Suasana sepi hedeeehhh gimana ini.....
"Kenapa celingukan hah!! Cari adikmu yang berengsek itu? Atau cari selingkuhamu si Vano itu. Mulutmu bilang benci, tapi mau dicium!!" teriak Farel di depan mukaku. Aku kaget. Darimana dia tahu Vano menciumku?
__ADS_1
"Kenapa mukamu shok? Kamu pikir kamu tidak dalam pengawasanku? Kamu pikir cuma papamu yang jagoan itu yang bisa main awas mengawasi? Dasar wanita murahan!!! Sok gak mau dicium tapi nyosor sama pria lain!!!" teriak Farel. Matanya berkilat marah. sesaat aku bingung mau ngomong apa. Dari siapa dia tahu? Apa ada temanku yang berkhianat?
"Kenapa diam!!! Dasar Jal lang!!! Sini aku hajar kamu!!" kara Farel sambil mendekat kearahku. Aku mundur kebelakang sampai pintu kosan Nita.
"Iya, Vano lebih baik daripada parasit kaya kamu!! Dia ada buat aku. Saat aku ada masalah dan disakiti sama cowok gak beradap kaya kamu!!" teriakku gak kalah keras. Dia mendekat dan menampar pipiku. Entah keberanian dari mana kutampar pipinya balik. Farel mengarahkan tinjunya kearahku. Kutangkap tangannya dan kutendang dadanya. Badannya yang kurus kering membuat dia terhuyung kebelakang. Dia terlihat kesakitan.
"Dasar jal lang!! Berani kamu hah!!" Farel semakin meradang. Kembali akan menyerangku. Aku ambil sapu di depan kamar Nita. Kupukul kepalanya dengan sapu. Darah merembes dari keningnya. Ujung sapu itu ternyata terdapat paku kecil yang lancip untuk tempat tali gantungan sapu.
"Anj jing!!! Kubunuh kamu!!" ancam Farel. Matanya berkilat mengerikan. Aku ketakutan. Segera berlari kemotorku dan tancap gas. Farel sempat mengejar sampai halaman, tapi terhenti di depan gerbang. Aku meliriknya dari kaca sepion. Dia datang tanpa motornya lagi. Ntah dengan apa.
Air mata tumpah memenuhi mukaku tanpa terbendung. Kami yang selalu rukun dari kanak kanak, sekarang baku hantam mirip musuh bebuyutan. Aku berhenti sebentar di pinggir jalan. Menghapus air mata yang sampai mengaburkan pandanganku. Sekarang aku mau kemana? Aku bingung sesaat. Aku takut balik lagi kekosan. Pulang saja lah..... aku pun memacu vespa merahku menuju rumah.
***
Aku sampai rumah udah malam, tapi rumah dalam keadaan sepi. Kucari Mbah Marni gak ada. Aku mandi dan mencari makanan. Gak ada juga. Ya sudah bikin mie instan saja. Aku baru makan dua sendok terdengar mobil Papa. Aku berlari ke ruang tamu. Haaa menyebalkan.... Lagi lagi aku melihat kedua orang tuaku berciuman di halaman. Panas sekali. Berasa masih muda mereka.
"Astaga.... Vano aja kalah hot lho sama Papa," komentarku sambil geleng geleng kepala.
"Vano?" Papa berkomentar. Mati!! Aku keceplosan. Papa tajam menatapku. Aku merinding kedinginan.
"Aaaaa eeemmm maksud Lala..... emmmm," aku kebingungan cari alasan. Mama senyum senyum. Mencium pipiku sejenak.
"Jadi siapa saja yang udah nyium anak gadis Mama? Kamu player juga ternyata. Pacaran sama Farel, tapi ciuman sama Vano juga. Hahahahaha," Mama ngakak sambil berlalu.
"Bukankah mirip kamu Dek, pacarnya siapa ciumannya sama siapa," kata Papa sambil mencium pelipisku. Mama ngakak lagi.
"Lupakan masa lalu Mamas, aku cuma milikmu," kata Mama sambil menggelayut dilengan Papa.
__ADS_1
"Hector mana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Kalau masih membahas ciuman aku bisa disidang Papa. Kami bercengkrama sebentar sambil aku menghabiskan mie instanku. Dua orang tuaku itu baru saja pulang dinner berdua. Haaa mereka dinner, aku makan mi instan. Mengesedihkan!! Kami kemudian pergi tidur.
***
Pagi datang. Mbah Marni seperti biasa masak soto kalau aku pulang. Kami sarapan sambil bercanda. Hector pulang tengah malam kemarin.
"Kalian lebih akur sekarang," komentar Mama pada aku dan Hector. Benar juga, kami belum berantem bahkan saat sarapan udah mau selesai begini. Sepertinya tinggal berdua kemarin membuat kami tahu dan sama sama memahami.
"Lala sih jarang cari masalah duluan. Anak laki lakimu itu yang suka cari gara gara," jawabku.
"Ow, jadi aku penyebab semua keributan? Beneran Po aku penyebabnya? Knalpotku baru aku pasang lho," Hector mengingatkan knalpot hasil tutup mulut dari aku. Sial. Aku diam pura pura gak dengar. Aku tahu benar aku sedang diancam. Adik gak ada akhlak!!!
"Ow, knalpot itu dari Mbakmu? Pantas saja saldomu gak berkurang, padahal knalpot itu mahal," Papa berkomentar. Aku dan Hector sama sama terkejut.
"Papa ngawasin rekening kami?" tanya Hector. Papa cuma tersenyum misterius.
"Lalu hasil sogokan apa itu? Sampai kamu mau memberikannya La?" tanya Papa padaku. Mati!!! Aku mau bilang apa? Hening sejenak.... Papa dan Mama sama sama menunggu jawabanku.
"Apa berhubungan dengan Vano?" tanya Mama sambil senyum senyum. Haaa ini justru menyelamatkan aku dari segala hal yang aku sembunyikan. Aku mengangguk pelan. Mama tertawa ngakak.
"Ini kalau kita mantu Lala, mempelai prianya siapa Pa?" tanya Mama.
"Kak Vano lah!!" sahut Hector cepat. Papa diam menatapku. Aku jadi salah tingkah sendiri.
Mbah Marni bilang ada Vano di ruang tamu, ingin bertemu Papa dan aku.
"Panjang umur kakak ipar," kata Hector sengaja menggodaku. Aku dan Papa datang menemuinya. Dia sedikit keren dengan baju berlogo polisi di dada kiri. Dia datang dengan seorang temannya yang sepertinya juga polisi.
__ADS_1
"Selamat pagi Pak Revan, saya Ipda Zee dari polsek B. Saya membawa surat pemeriksaan untuk anak anda saudari Vanila," kata Vano sambil lekat menatapku. Deg...... lututku lemas..... Apa yang terjadi??