Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Cerita Vano


__ADS_3

Mbak Nana datang siang itu. Mama dan Hector langsung pamit pulang. Sore hari Vano datang.


"Kau mau jalan jalan Po? Aku ambilkan kursi roda kalau mau," tawar Vano. Sepertinya ide bagus. Aku bosan di dalam kamar.


"Aku bisa bangun dan jalan jangan cari kesempatan!!" kataku saat Vano akan mengangkat tubuhku.


"Oh yaaa aku lupa kalau kamu gak lumpuh," jawab Vano gak kalah menyebalkan.


Aku dibawa Vano ke taman rumah sakit. Nyantai sambil menikmati suasana sore hari.


"Apa yang terjadi pada Lola? Kenapa Papa dan kamu ada dirumah sesaat setelah aku dicekik Lola?" tanyaku. Vano menghela nafas.


"Kau sungguh ingin tahu sayang?" tanya Vano.


"Sayang sayang!!! Panggil namaku Va... ni... la. Bukan juga Po. Itu nama kesayangan Hector. Kamu gak boleh ikut ikutan!!!" Kataku. Vano tertawa.


"Kalau aku gak boleh panggil Po, aku panggil saja Sayang. Itu panggilan kesayanganku untukmu," kata Vano ngeyel.


"Gak boleh, aku gak mau dipanggil sayang sama kamu!!" kataku sebal.


"Mau aku ceritakan, atau masih ribut panggilan?" tanya Vano.


"Ya ceritakan!! Kamu yang ribut cari gara gara!!" kataku tambah ngegas. Vano memandangku dengan tatapan sayang. Semakin hari aku semakin tak kuasa menolak cintanya. Dilihat dari sisi mana pun dia mencintaiku. Aku???? Entahlah..... aku masih menganggapnya menyebalkan. Tidak mau menjalin hubungan lebih dengannya.


"Ayo ceritakan!! Malah bengong!!" kataku masih ngegas. Vano seperti tersentak dari lamunannya.


"Hari hari seru menunggu kita sayang," katanya sambil tertawa.


"Haaa??? Apa maksudnya?" tanyaku aneh.


"Aku dan Papamu pergi kekantor polisi untuk bertemu Hector dan Mamamu...." Vano memulai kisah.


Flash back on...


Awalnya Vano menduga pembunuhnya mengikuti Farel sampai kekosan Lala. Kemudian menghabisi Farel di sawah belakang kamar Lala. Kemudian memasukkan mayatnya ke dalam kamar Lala yang paling dekat.


"Namun rekaman cctv disekitar kos menunjukkan kalau Farel datang dengan ojek, tanpa diikuti siapapun. Kemudian tak pernah balik. Hanya Lala yang terlihat balik." kata Revan.

__ADS_1


Itu menunjukkan kalau pencabut nyawanya kemungkinan ada dikos sebelumnya. Vano dan Revan menanyai mendetail setiap orang. Nihil.... semua memiliki alibi yang kuat.


"Dua senior musik masih ada di kampus, dua lagi juga ada di kampus. Nita punya alibi bermalam dengan pacarnya dibhotel dekat pantai. Lola ada di warung. Cunduk menthul itu benar benar tidak menguntungkan Lala," kata Vano di mobil sama Revan. Mereka sampai kantor polisi.


Hector dan Putri sudah menunggu disana. Vano segera memutar flash yang diberikan Hector.


"Benar, Lala tepat waktu pulang ke rumah. Ini bisa jadi bukti kuat," Revan bersemangat.


"Aku rasa pembunuhnya orang yang hafal benar dengan suasana kosan. Dan dia tahu dimana aku meletakkan kunci kamar Lala," Hector nyahut.


"Kunci kamar Lala?" tanya Revan.


"Iya, aku balik siang hari. Paginya aku bilang sama Lala. Dia bilang suruh ngeletakin kunci di bawah keset." Kata Hector.


"Siapa saja yang tahu kunci itu ada disitu?" tanya Vano.


"Hanya tiga ciwi itu. Lala, Nita, dan Lola aku rasa," kata Hector.


"Telepon Lala apa dia sempat membuka kamar!!" perintah Revan pada Vano. Vano sigap mengeluarkan hpnya. Lama tidak terangkat.


"Ine bilang dia baru saja menelepon Lala. Panggilannya terputus karena teman Lala datang," kata Putri masih sambil berbalas chat dengan Ine.


Dua polisi beda generasi itu langsung lari menuju mobil. Sekarang mereka menyadari siapa pembunuhnya. Cewek tinggi besar yang mampu menyeret tubuh Farel dari belakang kamar kos ke dalam kamar Lala. Dia juga mengetahui bahwa kunci kos ada di bawah keset. Mengunci tubuh farel didalam kamar setelah menancapkan cunduk menthul yang tentunya ia tahu benar ada sidik jari Lala.


Kedua polisi itu sampai di rumah Vano. Suasana rumah sepi, tapi ada jejak sepatu orang dari luar. Mereka pelan mengendap. Mengintip kedalam rumah. Melihat Lala yang terbaring lemah dan Lola yang menyiapkan tali tambang dengan sarung tangannya.


Flash back off


"Jadi... Farel terbunuh di sawah belakang kosku? Kemudian diseret masuk kamar.... benar.... Lola tahu persis cunduk itu ada sidiku, karena baru saja kami kelas make up. Aku sendiri yang melepas cunduk itu dari rambutku," kataku pilu. Semua yang terjadi seperti mimpi untukku. Aku kembali terisak. Rasa perih di dadaku begitu menyayat. Aku bahkan belum percaya Farel sudah tiada. Juga Lola pelaku utamanya.


Vano mengelus rambutku dengan sayang. Duduk di kursi samping kursi rodaku.


"Sayangnya kami tahu cunduk mentul itu bukan luka utama penyebab Farel meninggal. Dia tewas karena pukulan batu dikepalanya. Kemudian diseret Lola ke kamarmu. Sengaja meninggalkan ceceran darah agar dicurigai orang lain. Dia mengira kamu yang akan jadi tersangka. Dia lupa kalau kami hebat dan teliti." kata Vano.


"Bodohnya aku justru membocorkan cctv rumah yang membuktikan aku tidak bersalah. Kemudian dia datang untuk membunuhku dan menjadikan aku kambing hitam," kataku penuh penyesalan. Vano melirik kearah kanan. Menghentikan elusan tangannya dirambutku.


"Papamu datang, jangan bilang kau sudah tahu cerita persisnya. Itu melanggar SOP. Aku bisa habis dimarahi," kata Vano sambil melihat arah kedatangan Papa.

__ADS_1


"Kalian disini? Sedang apa?" suara Papa.


"Jalan jalan, Lala bosan dikamar," jawabku santai.


***


Hari kelima pagi. Aku sudah diijinkan pulang. Aku ternyata langsung pulang ke Solo. Tiga jam menempuh perjalanan dengan mobil Vano yang dipinjam Papa.


Mobil memasuki halaman rumah. Aku heran dengan keramaian yang ada di rumah.


"Emang mau ada acara apa?" tanyaku sambil menoleh ke Papa.


"Nanti kamu juga tahu. Ayo bicarakan didalam," kata Papa. Mama memelukku dan menciumi pipiku.


"Langsung masuk kamar yaa... tukang rias segera datang," kata Mama.


"Tukang rias?" tanyaku heran dan bingung. Papa menggandengku masuk kamar. Sekilas aku melihat ruang tamu rumah dihias dengan dekor bunga sederhana.


"Kau tahu apa kesalahanmu Nak?" tanya Papa ketika aku sudah masuk kamarku.Tidak.... sidang atas nama aku baru akan digelar Papa.


"Pindah kos tidak bilang bilang," kataku takut.


"Lalu?" tanya Papa menakutkan.


"Tidak bilang kalau Farel berubah," kataku pelan sekali.


"Lalu?" Papa masih belum puas.


"Lala tahu Lala banyak salah Pa, tapi maafkan Lala. Lala janji gak akan ngulangin lagi," kataku mengiba.


"Kesalahanmu bahkan hampir menjadikanmu tersangka, dan yang terburuk kamu bisa mati. Kau pikir hati Papa tidak sakit? Anak yang Papa sayangi sepenuh hati diperlakukan kasar oleh orang lain. Di tampar berkali kali, dirampok, difitnah, bahkan hampir dibunuh!! Jika Papa dapat menggambarkan rasanya, bahkan lebih sakit dari luka apapun yang pernah Papa terima," kata Papa tepat di depan mukaku.


"Dan yang paling menyakitkan putriku sendiri bungkam atas apa yang dia alami. Tidak membagi kesedihannya. Kenapa? Kau tidak percaya pada kami Nak?" tanya Papa.


"Lala cuma.... gak mau Papa dan Mama sedih. Lala,-"


"Apa? Karena kamu terlalu bucin sama Farel? Hingga bertahan dalam hubungan toxic?" tanya Papa telak membungkamku. Hening.... aku gak berani menjawab.

__ADS_1


"Sekarang Papa akan bertindak sepihak. Kamu terima itu sebagai hukumanmu. Panggil tukang riasnya," kata Papa pada Mama yang ada di belakang Papa.


__ADS_2