Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Pamit


__ADS_3

Sore menjelang. Aku duduk menghadap pantai. Menunggu sun set yang indah. Cakrawala didepan sana sudah menguning. Sang mentari bersiap tidur di peraduannya bekasurkan awan yang lembut. Bersiap esok hari menampakkan garangnya. Garang yang menjadi sumber kehidupan untuk semesta. Farel duduk di sampingku.


"La, kita jadian yuk," kata Farel. Aku tertawa.


"Kita masih bocah Rel. Baru naik kelas dua SMP," jawabku.


"Ya gak papa. Cinta monyet aja dulu," kata Farel gak mau kalah.


"Aku rasa kita terlalu kecil buat jadian Rel, temen deket aja dulu. Sahabatan seperti sekarang enak," kataku. Farel cemberut.


"Kan cuma cinta monyet Laa... gak ngapa ngapain juga kok. Papamu tadi udah ngancam aku." katanya Lagi. Aku tertawa. Pantas saja tadi Farel ngobrol lama sama Papa. Hihihihi Papa emang gitu. Lembut di dalam tegas diluar. Padahal Papa gak ada ngomong apa apa sama aku, tapi ternyata udang ngancam Farel.


"Siapa coba yang berani macem macem dengan anak AKBP Revan Aji Pratama. Bisa patah leherku," kata Farel. Aku ketawa ketawa aja.


Dia mengangkat jari kelingkingnya. Aku tersenyum sambil menautkan jari kelingkingku.


"Kamu pacar pertama aku," kata Farel sambil tersenyum ceria.


"Kamu juga," jawabku. Kami kemudian tertawa bersama. Menikmati sisa sore dengan bergurau apa saja dibibir pantai yang indah.


Pacaran yang seperti apa??? Aku gak tahu. Akan tetapi aku sudah janji untuk pacaran sehat pada dua orang yang sangat berarti dalam hidupku. Mama dan Mbah Kung.


Aku menjalani hari hari seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari 'jadianku' dengan Farel. Mama ketat mengawasiku. Tapi dengan aku jadian dengan Farel banyak temen temen yang suka membully aku menjauh. Farel selalu menjadi pembelaku disekolah.


***


Setahun kemudian.....


Liburan sekolah menuju kelas tiga kali ini sepesial. Aku ditunjuk menjadi salah satu penari yang menyambut presiden.


"Ini kesempatan baik untuk kita. Ayo kita buktikan. Latihan yang sunguh sungguh Nak." Kata Bu Joyo.

__ADS_1


Aku pulang berlatih di jemput Farel. Ini latihan final kami sebelum tampil minggu depan. Dia udah boleh bawa motor sendiri sekarang. Aku masih proses merayu sama Mama. Hihihihi


"Jajan krepes dulu di depan pendopo," kataku sambil naik boncengannya.


"Dasar manusia krepes," kata Farel mengejek. Aku ketok kepalanya yang pakai helm. Dia malah ngakak.


"Gak sakit bodoh," kata Farel santai. Aku tertawa.


"Yang ini sakit. Yakin aku!" kataku sembil mencubit pinggangnya. Dia mengaduh dan membalas memukul kepalaku yang juga pakai helem.


"Aduh!!" reflek aku menutupi kepalaku dan mengaduh. Bodoh, padahal gak sakit. Kami tertawa ngakak setelahnya.


Ini kali pertama aku boleh pergi berdua sama Farel. Biasanya selalu ada pendamping entah Mama atau Mbah Kung. Kami masih takut melakukan kontak fisik berlebih. seperti yang di lakukan teman teman kami saat pacaran. Jadilah seperti ini.... Pacaran, tapi tabok tabokan. Gak ada manis manisnya. Hahahaha.....


Pulang kerumah ternyata ada tamu. Mobil yang sama dengan beberapa tahun lalu. Hahhh... keluarga Vano. Yakin aku.


"Masuk yuk!" ajakku pada Farel.


"Itu pasti Vano dan orang tuanya. Biasa paling makan malam disini nanti," jelasku. Farel hanya mengangguk. Beberapa kali dia sudah dengar cerita keluarga Vano yang makan malam disini. Atau kami yang berkunjung kerumahnya untuk makan malam disana.


"Kapan kapan lah La, aku gak enak," kata Farel kemudian pulang menuju rumahnya.


Aku masuk rumah menyalami tamu. Terpaksa juga menyalami Vano. Dia tidak segera melepas jabatan tangan kami. Senyum meringis menunjukkan gigi rapi putihnya. Aku menyentak tanganku dengan kasar. Jabatan tangan itu terputus juga. Menyebalkan memang.


"Lala gak boleh gitu deh sama Mas Vano," mama menegurku. Emang nyebelin dalan tahap akut. Dia yang jahil, aku yang ditegur. Papa lekat memperhatikan Vano.


Rupanya mereka datang untuk menitipkan Vano pada Papa.


"Dia akan masuk sidang pantukhir nanti. Ada kisi kisi tidak Van?" tanya Om Dedi.


"Ya masih sama kayak kita dulu to Ded, aku juga gak bisa bantu atau kasih kisi kisi. Aku cuma instruktur disana," jawab Papa.

__ADS_1


"Iya, nanti titip Vano disana. Kalau nakal jewer aja," kata Om Dedi.


"Pasti. Kalau nakal kamu tahu sendiri hukumannya bukan cuma jewer," jawab Papa. Om Dedi dan Papa kemudian tertawa bersama. Makan malam seperti dulu dulu berlanjut dengan bincang bincang ringan. Aku terlalu malas mengikutinya. Mbah Kung juga sudah ijin masuk kamar. Aku idem mau masuk kamar juga. Tidur dan mimpi indah.


Vano menghentikan aku yang akan masuk kamar. Mencengkeram erat tanganku yang bergantung di hendel pintu.


"Aku mau pamit. Aku... akan jarang terlihat ikut makan malam nanti," kata vano sambil menatapku. Mukanya terlihat sungguh sungguh.


"Trus?" jawabku singkat. Berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Tidak bisa... Dia mencengkeram begitu kuat.


"Aku minta maaf kalau selama ini selalu membuat kamu sebel," kata Vano kemudian. Aku menatapnya heran. Dia tahu aku sebel, tapi terus melakukan hal hal yang menyebalkan. Dasar aneh. Tiba tiba wajahnya mendekat. Mengecup pipiku singkat. Bibir dingin menempel di pipiku beberapa detik. Aku tersentak mundur kebelakang. Kami saling pandang dalam beberapa lama. Dia tersenyum.


"Baumu sama dengan namamu. Aku suka," katanya kemudian pergi meninggalkan aku yang masih terbengong. Ini..... pertama kalinya ada cowok yang mengecup pipiku selain Papa dan Mbah Kung. Farel saja belum pernah melakukannya. Haaa kenapa jadi panas, malu, aneh gini?? Malam itu aku terjaga. Susah tidur karena teringat ciuman singkat Vano. Aku merasa bodoh sekali.


***


Hari pementasan tiba. Kami akan nari Gambyong. Tarian khas penyambutan tamu penting. Dengan kostum khas berwarna hijau kuning. Tarian ini ciri khasnya pada gerak kaki, lengan, juga kepala. Pandangan mata yang mengikuti ujung jari saat menari. Gendhing Pareanom akan mengawali tarian kami.


Tubuhku sedikit gemetar juga saat menari. Nervous dikit. Ada kebanggaan bisa nari di depan presiden. Hihihi sombong dikit lah. Dan aku yakin Mbah Kung melihatku menari dengan bangga. Gendhing mulai mengalun..... Dan kami mulai lembut menari.


Nalika nira ing dalu


wong agung mangsah semedi....


Kami penari dituntut untuk menari dengan luwes, kenes, kewes, dan trenggel. Pakaian kuning dan hijau menandakan kesuburan dan kemakmuran. Dengan sanggul gelung gedhe dan wajah yang dirias secantik mungkin.


Tepuk tangan mengakhiri tarian kami. Kulihat Bapak Presiden juga tepuk tangan. Aaaa sekali lagi aku merasa puas menari. Ada kepuasan tersendiri saat selesai menari dan mereka yang menonton memberikan apresiasi.


"Kita tos dulu tos dulu," kata temanku ribut setelah penampilan kami. Kami pun membentuk lingkaran dan mengacungkan tangan ketengah.


"Sanggar xxx sukses, jaya, terbaik!" kata kami sambil melonjak.

__ADS_1


Seperti biasa Mbah Kung menemaniku dengan senyum bibibirnya. Kesehatan beliau akhir akhir ini agak terganggu, namun masih semangat sekali menemaniku menari. Dimanapun, kapanpun.


__ADS_2