Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Pertengkaran


__ADS_3

Kami makan malam di angkringan dekat rumahnya


"Gak pingin makan ditempat yang agak berkelas Po?" tanya Vano. Aku menggeleng saja. Kami makan nasi kucing dan kawan kawannya dengan tenang. Usai makan malam Vano ngajak aku kencan nonton bioskop.


"Gak, aku capek!" tolakku.


"Ayolah.... ini kencan pertama kita Sayang," rayu Vano membuat aku muak. Aku muak tiap dia ngmanggilku 'Sayang'. Mau aku tegur nanti malah semakin menjadi. Dia senang menjadi menyebalkan di mataku. 


Dia tetap melajukan mobil menuju mall dekat rumahnya. Kami naik kelantai paling atas dan masuk gedung bioskop. Ada beberapa pilihan filem. lagi lagi kami berdebat karena beda selera filem. 


"Aku mau nonton drama, pokoknya itu atau pulang!" kataku gak mau kalah. Vano mengacak acak rambutmu dengan gemas. Akhirnya Vano mengalah dengan pilihan filemku. kami nonton drama filem romantis dan Vano sibuk menguap.


"Noo.... bangun ihhh ayo pulang!" kataku sambil mengguncang guncang bahunya. Sepanjang filem manusia ini malah ngorok!! Benar benar manusia menyebalkan!! Vano mengerjabkan matanya pelan.


"Hei, kenapa nangis Sayang?" tanya Vano sambil mengusap pipiku. Aku malah baru sadar aku masih punya sisa air mata habis nonton filem happy ending tadi.


"Gak papa cuma terharu," jawabku ikut mengusap pipiku. Vano tertawa.


"Terharu dengan artis yang dibayar? Mereka dapat bayaran kamu dapat nangisnya doang," ejek Vano. Aku cemberut lalu menabok lengannya.


Pulangnya, giliran aku yang tertidur dimobil. Ini memang udah dini hari. Vano menggendongku begitu sampai rumah.


"aku bisa jalan No," kataku sambil mengantuk. Samar kulihat Vano tersenyum dan tetap menggendongku kekamar. Meletakkan tubuhku dengan hati hati dikasur yang nyaman. Aku sedikit baper dengan perlakuannya yang lembut. Vano tidak segera berlalu dari kamarku. Dia mencium bibirku dengan penuh kelembutan. Tanpa sadar aku membalasnya. Vano semakin berani. Dia menciumi seluruh mukaku dan leher. Tangannya tidak tinggal diam menelusup dibalik kosku dan mengelus perutku. 


"Nooooo!!!!" aku protes sambil mendorong tubuhnya. Tidak bergeming. Vano justru semakin berani. Dia seperti menghisap leherku dan meremas benda kenyal yang ada di dadaku. Tanpa kusadari aku men nde esah. Sekujur tubuhku merinding hebat.


"Kau mau sekarang sayang?" tanya Vano dengan suara berat. Aku menggeleng cepat. Mataku sudah berat, aku mau tidur nynyak malah diganggu seperti ini.


"Pergi sana!!! aku mau tidur," kataku sambil mendorong tubuh Vano lebih kuat. Dia benar benar menyingkir dari kamarku. Aku langsung jatuh kealam mimpi.

__ADS_1


***


Pagi hari aku kembali mencium bau masakan. Ini cowok emang hobi masak kayaknya. aku keluar kamar. Benar saja, Vano lagi masak. kali ini dia masak makanan berat. Nasi dengan tumis bayam kaleng dan telur dadar. Terlihat enak memang, tapi aku malas memujinya.


"Apa itu enak?" tanyaku sambil bersandar pada wastafel. 


"Enak dong, mau coba aku suapi lagi?" tanya Vano sambil tersenyum.


"Gak!" jawabku cepat. Dia senyum senyum melihat kearah leherku. Entahlah... sudah gila mungkin. Aku diam saja nonton dia masak.


"Kamu masih liburan semester?" tanya Vano. Aku mengangguk.


"Dua hari Lagi aku masuk." kataku. Kami sarapan dengan tenang. Vano kemudian mandi dan berangkat kerja. Dia bawa baju baju kotor kami untuk dilaundry. Aku merasa benar benar beban buat dia. Semua pekerjaan rumah dia yang urus. Bahkan baju kotor dan bersih bersih rumah juga dia.


Aku masuk kamar mau mandi. Batapa terkejutnya aku melihat leherku penuh tanda merah. Vano yang melakukannya semalam? sial! bagaimana cara menutupinya hummm? Dia melanggar janjinya. Bukankah katanya dia menungguku sampai aku siap? kenapa begini? Usai mandi aku telepon Vano.


"Apa yang kau lakukan pada leherku?!!!" teriakku begitu telepon tersambung.


"Kau janji menunggu sampai aku siap!! Lalu apa ini?!!" tanyaku masih ngegas. Vano malah tertawa ngakak.


"Apa janjiku? ingat ingat dengan benar?" tanya Vano santai.


"Tidak melakukan hubungan suami istri sebelum aku mau!!" kataku percaya diri.


"Yap!! benar 'hubungan suami istri' bukan cumbuan. Kamu masih perawan sayang, apa mau aku buktikan?" tanya Vano dengan ceria. Aku meremas udara didepanku seolah meremas muka Vano. Harusnya kubuat perjanjian tidak boleh menyentuhku sama sekali. Haaaa dasar Vanooooo. Manusia menyebalkan dari kecil. Dan sayangnya kini menjadi suamiku!!!


"Aku agak sibuk Sayang. Sampai ketemu dirumah yaa," kata Vano mengakhiri sambungan telepon kami sepihak. Aku membanting hpku di sofa. Kesal bukan main.


***

__ADS_1


Ada telepon dari Nita. Kemungkinan dia belum tahu apa yang terjadi padaku dan Lola. Dari awal liburan semester sampai sekarang dia sibuk nginep sama pacarnya di Bali. Dihubungi aja gak pernah bisa, kecuali seperti sekarang ini. Dia yang menghubungi duluan. Aku gak mau ngrusak liburannya. Jadi bungkam saja tentang apa yang terjadi selama liburan semester ini. 


"Dimana La? Masih di Solo?" tanya Nita.


"Iya," jawabku bohong. Aku belum berminat memberi tahu pernikahan konyolku dengan Vano. Kami ngobrol ngalor ngidul sebelum pacarnya mengganggu.


"Udah dulu ya La, pacarku minta ne ne nn," kata Nita sukses membuat bulu kuduku merinding. Teringat cumbuan Vano dini hari tadi. Di ne ne nn????? Apa rasanya???? Haaaa kenapa aku jadi mesum gini sih??????


"Halo, La? Kamu masih disana? Ahhhh sayang sebentar aku masih teleponan. Awwwhhh..... emmm," suara erotis lainnya terdengar. Aku semakin panas dingin saja. Kumatikan sambungan telepon setelah mengumpat. Kenapa orang orang yang kutelepon semuanya menyebalkan! Pasti gara gara tanda dari Vano yang jumlahnya puluhan ini. Bikin sial saja hari ini!!


***


Sore hari aku gabut lagi. Gak ada teman, gak punya kegiatan. Kubuka laptopku. Ada beberapa tarian yang menurutku cukup menarik. Aku mencoba menarikannya. Tarian belly dance, atau biasa disebut tari perut. Cukup unik dan menarik. Agak berbeda dengan tari tradisional yang sering aku tarikan. 


"Wow, kau sexy Sayang," komentar Vano mengagetkanku. Dia sudah berdiri di depan pintu entah dari kapan. Manari mengalihkan duniaku. Membuat aku tidak menyadari dia sudah pulang.  Aku menghentikan tarian itu sesaat. Vano mendekat mau menciumku, aku mengelak.


"Aku berkeringat," tolakku.


"Kalau gitu ayo mandi bersama! Aku bersemangat sekali memandikanmu," ajak Vano bersemangat.


"In your dream!" kataku pedas.


"Ya sudah aku mandi sendiri," kata Vano kemudian masuk kamarnya. Aku masih melanjutkan tarian itu. Vano memberikan tepuk tangan saat tarianku selesai.


"Katanya mau mandi," kataku.


"Mana bisa aku mandi kalau ada bidadari sedang menari dirumahku. Catatannya, jangan tarikan itu untuk orang lain. Aku cemburu.... tarian itu terlalu sexy," kata Vano serius.


"Haaa sejak kapan kamu punya hak cemburu? Kau tidak punya hak cemburu karena aku tidak mencintaimu. Ini hidupku, kau tidak punya hak mengaturnya!" kataku pedas. Vano mendekat merengkuh pinggangku dengan kasar. Aku mencoba mengelak, tapi belitan tangannya begitu erat.

__ADS_1


"Sejak aku berjabat tangan dengan papamu dan mengucapkan ijab qobul itu, aku bahkan punya hak lebih dari cemburu! Aku punya hak atas tubuhmu, hidupmu, dan semua yang berhubungan denganmu! Kau belum terlalu tua untuk mengingatnya. Kita nikah kantor dua bulan lagi. Resepsi empat bulan lagi. Sebagai informasi tambahan yang harus kamu tahu. Kamu juga punya janji untuk belajar menerimaku sebagai suami. Mulailah belajar untuk mencintaiku mulai dari sekarang," kata Vano cukup tegas. Dia sepertinya agak tersinggung dengan kata kataku. Mengecup bibirku sekilas dan benar benar berlalu masuk kamar.


__ADS_2