Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Perampokan


__ADS_3

Aku membawa dua sahabatku itu ke warung penyetan. Makan sambel bawang dan ayam. Hummmm rasanya memang menggigit lidah.


"Eh, jam tangan baru ini," kataku sambil mengelus pergelangan tangan kiri Lola. Yang elus malu malu.


"Pemberian orang spesial?" tanya Nita yang otaknya gak jauh jauh dari cowok ganteng. Lola makin salah tingkah. Aaaaa tebakan Nita bener kali ini.


"Besok balik lagi kesini Nit, ada yang perlu ditagih juga makan makan jadiannya," kataku sambil menyenggol sikut Nita di sampingku.


"Bulan depan deh.... Aku belum bayar kos," kata Lola jujur. Dia emang yamg paling sederhana diantara kami. Aku jadi merasa berdosa nagih makan makan.


"Anak mana?" tanyaku mengalihkan topik. Lola cuma senyum senyum gak jelas.


"Ihhh sok misterius dehh," kataku sambil cekikikan.


"Belum go public La," timpal Nita. Kami ngakak bertiga. Baru kali ini aku dengar Lola pacaran. Biasanya dia anteng saja dan santai dengan setatus jomblonya.


Aku sedang berlatih tari sendiri di kamar. Besok ujian tari Bali. Aku belum puas tadi. Kurang lirikan. Mataku emang sipit susah buat membuka besar mirip penari Bali. Aku mengarahkan pandangan pada dua sisi depan dan samping. Sampai memasang stik bekas ice cream di depan cermin dan mengawasi gantungan handuk di samping. Itu cara paling mudah untuk mendapat lirikan ala Bali yang terkenal.


Tiba tiba rambutku ditarik dari belakang. Tubuhku sampai ikut tertarik kebelakang. Farel!


"Farel sakit!!" kataku sambil memegangi kepalaku.


"Aku mau uang sekarang La!!! Aku butuh uang sekarang," bisik Farel mengerikan. Dia terlihat kacau. Aku melihat banyak sayatan di tangannya. Tubuhnya juga kurus. Dia mengambil hpku.


"Transfer sekarang. Aku mau lima juta!!" perintah Farel sambil mengacungkan hpku tepat didepan mukaku.


"Lepas dulu Rel," jawabku merintih. Dia malah membantingku ke lantai. Mengutak atik hpku sebentar.


"Tulis pinnya!" perintah Farel sambil mengacungkan hpku lagi. Dia sudah membuka M banking.


"Buat apa Rel?" aku mengulur waktu. Dia menampar pipiku.

__ADS_1


"Cepat!!" perintah Farel lagi.


Aku masih shok. Dia menarik kerah bajuku dan bolak balik menamparku. Aku teriak. Nita dan Lola sampai di depan kamarku.


"Farel!!! Lepasin Lala!!" hardik Nita. Farel menindih dadaku dengan lututnya. Tangannya erat mencengkeram leherku.


"Kalian berani mendekat dia semakin tercekik!!" Kata Farel. Nita dan Lola Mundur. Mereka menatap nanar padaku.


"Cepat Laaa!!!" bentak Farel padaku. Aku merasakan sesak di dadaku. Kepalaku berputar karena suplai oksigen yang menipis. Kuketik nomer pin dengan cepat. Farel mengambil alih hpku kemudian melemparkanya tepat di mukaku. Kemudian berlalu pergi entah dengan apa. Aku gak dengar motornya tadi. Aku tersengal, Nita mendudukanku. Lola mengambilkan minum. Suasana kos emang lagi sepi. Cuma ada kami bertiga kali ini.


"Minum La, minum," kata Nita menyodorkan minum. Aku masih ngos ngosan mengatur nafas. Kuminum semua air itu. Nita memelukku. Aku langsung nangis bombay gak berhenti berhenti.


Nita sampai kebingungan menenangkanku. Dia telepon Vano dari hpku. Vano datang dengan terburu buru. Memeluk tubuhku yang lemas di atas kasur.


"Tenanglah sayang. Tenang," katanya memeluk erat tubuhku. Nita menceritakan sekilas apa yang terjadi. Vano terlihat menahan geram, namun tetap lembut mengelus kepalaku. Aku menangis di dada Vano sampai tertidur.


Aku bangun tengah malam. Vano sudah tidur di sampingku. Lapar.... aku merasa lapar sekali. Benar saja aku melewatkan makan malam. Saat aku mau bangkit tanganku ditarik Vano. Aku jatuh tepat diatas dadanya.


"Mau kemana?" tanya Vano dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ayo cari makan di luar. Aku juga belum makan malam," ajak Vano.


"Maaf merepotkan," kataku sungkan. Dia juga melewatkan makan malam gara gara aku.


"Jangan diucap, bagiku kamu gak pernah ngerepotin aku. Bagiku kamu lucu dan menyenangkan. Sebodoh apapun kamu, sebucin apapun kamu sama baj jing gan itu! Aku rasa kamu terkena kutukan cintaku. Kamu bucin sama dia, dan aku bucin sama kamu. Cukup adil," sindir Vano. Menohok hatiku cukup keras. Dia benar, Farel sudah berubah. Perubahan yang sudah tidak bisa diterima.


"Kamu mau bengong sampai pagi? Kalau masih berencana bengong aku tinggal saja. Paginya masih sekitar setengah jam lagi," kata Vano sambil melihat arlojinya. Aku menabok lengannya. Dia nyengingis menunjukkan giginya.


Kami makan malam di angkringan pinggir jalan. Untung kota ini gak pernah tidur. Mudah mencari makan bahkan hampir dini hari seperti ini.


"Kau belum ada rencana melaporkannya? Penganiayaan sudah, perampokan sudah, apa perlu kasus lain lagi hum?" tanya Vano disela sela makan. Aku terdiam. Mengaduk wedang jahe di depanku.

__ADS_1


"Aku.... gak berani melaporkannya No. Aku gak mau dia terlibat kasus hukum karena laporanku. Keluarganya dan keluargaku itu sangat dekat. Aku gak mau Om Nando dan Tante Ine sedih. Aku akan menghindarinya saja disini. Kita mungkin bisa..... putus," kataku.


Entahlah... apa aku bisa hidup tanpa Farel. Hubungan yang terlalu lama membuatku tidak terbiasa jauh darinya. Aku bahkan lebih dekat dengan Farel dari pada Hector, yang sebenarnya adiku sendiri.


"Kau sadar kamu dalam toxic relationship kan La?" tanya Vano sambil mengelus tanganku. Aku mengangguk.


"Aku tahu benar, aku tahu benar No," kataku sedih.


"Kamu butuh pendampingan psikologi?" tanya Vano. Aku menggeleng.


"Aku bisa sendiri," kataku, walaupun ada keraguan besar di dadaku.


Kami pulang sudah hampir jam tiga pagi. Vano ijin pulang setelah mengantarku sampai gerbang kosan.


"Makasih karena selalu ada buat aku," kataku. Vano tersenyum.


"Aku modus seperti ini Sayang. Kamu tahu benar apa motifku," jawab Vano sambil mengelus pipiku. Dia semakin mendekat. Aku tahu apa yang dia mau. Aku memalingkan muka saat bibirnya mulai mendekat.


"Setatusku masih pacar orang lain. Aku merasa selingkuh dan menjadi wanita jahat kalau begini," alasanku. Vano buang muka kesal.


"Kau baru saja bilang ingin putus dengannya, tapi juga menolak ciumanku gara gara 'masih berstatus pacar'. Haaa ini sedikit menyebalkan," kata Vano. Aku bungkam saja.


"Sebesar apa cintamu pada Farel? Sampai sebodoh ini? Aku tidak yakin kau sanggup memutuskan Farel. Terserahlahhh.... Selamat pagi," kata Vano kemudian masuk mobil.


"Selamat pagi dan terimakasih," jawabku.


Aku masuk kosan dengan hati bimbang. Ada Vano dengan segala kebaikannya. Ada Farel dengan segala kebaikannya dulu. Farel yang sekarang sangat toxic. Sekarang aku harus memutuskan Farel. Apa aku mampu? Apa aku bisa?? Hidup tanpa Farel?? Segala kenangan kami terlintas begitu saja. Indah.... terlalu banyak kenangan indah, hingga menutupi semua kenangan buruk. Bayangan dia mencekikku kembali terulang. Aku seperti kesulitan bernafas lagi. Aku teriak....


Suara ketukan membangunkanku. Tubuhku sudah penuh dengan keringat.


"Laa... Lala.... kamu baik? Laaa..." gedoran dan teriakan Nita terdengar di depan pintu kamar. Haaaa.... hanya mimpi.

__ADS_1


"Gakkk... gak papa Nit, cuma mimpi buruk," teriakku dari dalam kamar.


"Cepat mandi... ini udah pagi. Ada ujian tari," teriak Nita lagi. Akupun bergegas mandi dan ngampus.


__ADS_2