
Usai latihan teman temanku balik pulang. Aku langsung mandi karena badan lengket semua.
“Mau makan apa?” tanya Vano begitu aku keluar kamar.
“Aku pingin mie instan saja Kak,” kataku. Sepertinya mie instan rebus dengan cabe rawit dan telur enak malam malam begini. Vano sigap mengambil panci mie instan dan merebus tiga mi instan untuk kami berdua.
“Cabenya sendiri ya, aku gak terlalu suka pedes,” kata Vano.
“Gak usah pakai cabe kalau gitu, kita makan berdua sepanci gini enak,” jawabku. Vano tertawa.
“Kamu ketagihan makan satu tempat denganku,” komentar Vano.
Vano minta diceritakan jalan cerita ramayana sambil makan. Aku ceritakan tentang kisah cinta Rama dan Sinta. Cobaan cinta mereka yang harus terpisah, karena Rahwana menculik Sinta.
“Ada dua versi Ramayana Kak, yang kami pentaskan ini mirip dengan yang dipentaskan di pelataran Candi Prambanan. Hanya sampai Rama kembali bertemu Sinta. Sebenarnya ada versi panjang dari kisah itu," kataku mengawali kisah.
Saat Sinta kembali ke kerajaan Rama, rakyat meragukan kesucian Sinta. Kemudian Dewi Sinta berjalan melewati api suci sebagai pembuktian. Ternyata benar bahwa api tidak membakar tubuh Dewi Sinta. Membuktikan bahwa Sinta masih suci. Akan tetapi beberapa tahun kemudian rakyat kembali dihasut meragukan kesucian Dewi Sinta. Rama pun bertengkar dengan anaknya sendiri. Akhirnya Dewi Sinta bersumpah bahwa dia hanya mengakui Sri Rama sebagai suami. Hanya Sri Rama yang pernah menyentuhnya. Dia ingin Dewi Pertiwi memberikan pengakuan jika sumpahnya itu benar adanya. Kemudian Dewi Pertiwi muncul dari dalam tanah. Memeluk tubuh Sinta dan mengajaknya kedalam tanah.
"Usaha Rama sia sia mengajak Sinta kembali,” kataku mengakhiri kisah. Vano manggut manggut mendengar kisahku.
“Hebat, darimana kamu tahu kisah ini Sayang?” tanya Vano padaku.
“Kisah pewayangan sudah akrab padaku sejak kecil Kak. Mbah Kakung yang menceritakannya,” jawabku.
“Sebenarnya Rahwana juga bukan hanya penguasa kejam yang jahat. Dia menculik Sinta, karena Dewi Sinta adalah reinkarnasi dari istrinya yang telah tiada. Dewi Sinta sendiri mengingat itu saat masa penculikannya di negara Alengka. Akan tetapi Dewi Sinta memilih setia pada Rama. Rahwana menghargai keputusan itu. Ia sudah berniat mengembalikan Sinta, tapi keduluan kerajaannya diserang dan dikalahkan oleh Anoman,” ceritaku lagi pada Vano. Dia manggut manggut sambil minum. Mie dalam panci sudah tandas oleh kami berdua.
“Berarti sebenarnya tidak ada orang yang benar benar jahat di dunia ini. Tidak pula ada orang yang benar benar baik. Semua orang pasti punya kesalahan dan kebaikan. Rama akhirnya juga kehilangan Sinta, dan Rahwana kehilangan kerajaan juga nyawanya,” kata Vano sambil menerawang. Aku manggut manggut setuju.
Aku memunguti sisa alat makanan kita dan mencucinya di wastafel. Vano mendekat dan memeluk tubuhku dari belakang.
__ADS_1
“Aku juga susah payah mendapatkan hatimu, aku tidak akan menyia nyiakannya Sayang. Kamu gak perlu berjalan di api suci juga untuk membuktikan kesucianmu. Cukup tidur denganku malam ini. Dan aku akan membuatmu tidak suci lagi,” bisik Vano sambil meremas benda kenyal di dadaku. Aku merinding hebat. Vano terus memberi kecupan kecupan singkat di leherku. Membuat desiran aneh yang membuat jantungku tidak aman. Aku berbalik. Vano masih mengungkungku dalam pelukannya.
“Maa…. maaf Kak, bukannya aku gak mau. Bukannya aku menolakmu…. tapi,-”
“Ayolah Sayang, kau bilang aku sudah memiliki hatimu seutuhnya!” potong Vano mulai gusar. Aku tertawa nyekikik. Pandangan Vano tajam seperti hendak mengulitiku.
“Dengarkan bicaraku sampai selesai dulu Kak. Jangan memotong ucapanku. Aku tidak bisa karena hari ini aku bulanan,” kataku tak sanggup menahan tawa lagi. Vano memerah mukanya. Dia berdecak kesal dan berbalik meninggalkanku.
Baru aku mau berbalik mengambil panci untuk disimpan, Vano kembali datang dan merem mas lagi. Menciumku dengan panas. Hanya memberi jeda sedikit mengambil nafas. Ciumannya nekat. Tangannya sudah menjalari tubuhku.
"Kak!" pekikku saat Vano menggerayangi bagian bawahku di luar celana.
"Cukup tebal, hah menyebalkan sekali!" kata Vano gusar. Astaga…. Bahkan dia benar ngecek pembalutku. Dasar!! Kami tidur setelah Vano puas menciumi seluruh tubuhku dengan ganas. Dia benar benar gemas, sampai beberapa kali aku kena gigit.
***
Seminggu berlalu.....
Malam itu rasanya dingin sekali. Badanku sedikit gak enak dari kemarin. Mungkin karena kurang istirahat dan jadwalku yang tumpang tindih. Vano sudah lelap disampingku. Aku menarik selimut menutupi seluruh badanku. Vano menggeliat karena gerakanku.
“Kamu dingin Sayang?” tanya Vano dengan suara seraknya. Aku cuma mengangguk membelakanginya.
“Tidurlah lagi,” jawabku singkat. Vano ternyata meraba keningku. Aku kaget dengan telapak tangannya yang terasa dingin.
“Kamu demam Sayang,” Kata vano panik. Dia keluar kamar. Balik lagi membawa secangkir teh hangat dan obat masuk angin cair yang pedas. Aku meminum teh hangat itu dengan semangat. Seperti menemukan oasis di tengah gurun pasir. Teh hangat yang dicampur obat masuk angin adalah perpaduan yang tepat untuk saat seperti ini.
“Kamu kecapekan ini,” kata Vano.
“Iya, aku rasa besok aku mau periksa dan ijin dulu dari kampus,” kataku kembali menarik selimut.
__ADS_1
“Mau aku pijitin?” tanya Vano.
“Tidurlah Kak, aku gak papa,” jawabku gak mau merepotkan.
Vano tetap mengambil kakiku. Dia memijatnya dengan pelan. Rasa nyaman menjalari kakiku. Ah….. Vano itu pengertian sekali. Secara bergantian memijat kedua kakiku. Aku agak geli saat dia terlalu lama memijat pahaku. Pijatannya lama lama mirip elusan di pahaku. Aku melihat mukanya kelihatan mesum sekali.
“Kak udah, aku mau tidur,” kataku sambil memegangi tangannya yang lama ada di pahaku.
“Belum selesai pijatannya,” kata Vano dengan nafas berat.
“Udah, aku ngantuk,” kataku.
“Kalau gitu biar aku kerokin dulu. Masuk angin paling enak kalau dikerokin Sayang,” kata Vano berlalu mengambil minyak gosok dan koin.
“Buka bajumu!” perintah Vano. Aku nurut membuka tank topku dan tidur tengkurap. Vano melepas pengait di punggungku. Aku baru merasakan dua kerokan memanjang di punggung, tangan Vano justru nakal menelisip dan meremas gunung.
“Kak, yang bener dong!” aku protes. Tidak didengar Vano malah membalik tubuhku dan menciumi dadaku dengan lembut.
“Aku kasih obat paling manjur,” kata Vano melancarkan aksinya. Dia tahu aku sudah selesai bulanan.
Aku kegelian dengan cum mbu an Vano yang nekat. Mau protes, tapi ini enak. Dia menghisap, mem me lin tir dan mencium dengan ganas. Hampir semua anggota tubuhku yang biasanya tertutup di jelajahi Vano. Aku tidak tahan untuk men dee ssah. Suaraku itu ternyata semakin membuat Vano gencar menyerangku. Vano membuka pahaku yang sudah tidak berbalut apapun.
“Aku mau Sayang. Bolehkah aku melakukannya?” tanya Vano padaku. Aku mengangguk sebagai persetujuan.
Ternyata ‘itu’ tidak mudah. Vano sudah mencobanya berkali kali. Sampai badanku yang mulai panas ini keinginan lagi.
"Kamu ngapain sih Kak?” tanyaku karena sudah mulai kedinginan.
“Sabar, ini juga pertama buat aku. Aku agak bingung mana lubangnya," kata Vano jujur. Dari tadi dia berkutat di bawahku, tapi tidak membuahkan hasil. Mau gak mau aku nyekikik. Aku sudah membayangkan malam pertama mirip di novel novel, tapi suamiku ini malah konyol. Vano memelintir bawahku. Membuat aku me nge rangg. Dia melakukan pemanasan singkat ulang.
__ADS_1
“Diam! Aku akan mengobrak abrikmu!” ancam Vano.