Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Liburan keluarga


__ADS_3

Liburan kenaikan kelas ini aku isi dengan beberapa pentas tari dan piknik keluarga. Aku menari untuk mengisi acara lokal, juga untuk beberapa acara nikahan. Biasanya kalau acara nikahan aku dapat beberapa lembar rupiah. Hihihihi senang juga. Walaupun aku tahu bayarannya kecil.


Kali ini keluargaku dan keluarga Farel akan liburan bersama. Mama dan Mbah Mar sibuk menyiapkan bekal piknik. Aku bantuin Papa masukin barang barang ke mobil.


"Mbah, jaket udah dibawa? Trus minyak gosok? Obat kolestrol udah?" tanya Mama sama Mbah Kung. Mbah Kung manggut manggut saja. Aku senang Mbah Kung cukup sehat untuk ikut piknik ini.


"Papa udah bawa handuk kan?" tanya Mama beralih ke Papaku. Papa ikut manggut manggut. Mama memang menjadi seksi ribut kalau ada acara gini. Kami berangkat dengan dua mobil beriringan. Mobil keluargaku dan mobil keluarga Farel. Menuju pantai di pesisir selatan pulau ini. Menyewa resort yang menghadap kepantai.


Sampai di pantai Farel masih acuh aja sama aku, beda dari sikapnya yang biasa. Aku dekati dia menghindar terus. Saat dia duduk agak menjauh dari keluarga, aku mengikutinya. Penasaran sekali dengan sikap acuhnya.


"Rel kamu kenapa sih?" tanyaku berbisik sambil menghimpit tubuhnya.


"Gak papa," jawabnya singkat.


"Aku salah yaa?" tanyaku. Farel diam aja.


"Rel, kalau aku salah, aku minta maaf," kataku sambil memegang tangannya.


"Aku sebel sama kamu La. Udah dapat hasduk dari Kak Vano, diantar pulang lagi. Kenapa gak mau bareng aku?" kata Farel.


"Lha kamu gak nawarin aku bareng, masak iya aku nyelonong. Mama lupa jemput aku, ya udah aku bareng dia," kataku melakukan pembelaan.


"Lagian kenapa sih kamu sewot banget aku dapat hasduk. Kamu pikir aku suka? Emang kamu lupa aku sebel banget sama Vano," lanjutku lagi.


"Kamu gak naksir dia?" tanya Farel aneh.


"Ya enggak lah.... kamu pikir?" jawabku heran melengking tinggi. Farel diam sejenak. Kami bertatapan.


"Kalau sama aku kamu naksir gak?" tanyanya lagi. Rahangku langsung terbuka. Apa maksudnya??? Dia berpaling. Mukanya merah.


"Aku naksir kamu La," katanya lirih.


"Waaaa ada yang jadian!!!! Mama, Papa, Tante Ine, Om Nandoooo..... Farel jadian sama Po!" kata Hector mengagetkan aku dan Farel. Dia ternyata nguping tepat dibelakang kami.

__ADS_1


"Farel jadian sama Po!" teriak teriak Hector terus menerus sampai di tempat orang tua kami. Tiwi, adik Farel ikut heboh. Astaga.... aku malu.... Mau pura pura gak lihat dan gak denger, tapi kok mereka ngelihatin kearah kami.


"Farel... Lala sini." Panggil Mama. Aku dan Farel berpandangan sejenak. Mau gak mau kami berjalan kearah mereka yang sedang ngadain acara barbekyu.


"Bener kalian jadian?" tanya Mama begitu kami sampai.


"Eh.... anu.... emmm...." aku sama Farel gugup menjawab.


"Gak papa jadian. Asal gak neko neko pacarannya. Mama juga naksir cowok kok waktu SMP," kata Mamaku.


"Haiiiaahhhh..... cinta pertama tak akan terlupa," Papa nyahut dengan nada sebal.


"Hahaha dasar pencemburu. Masih juga cemburu Re?" tanya Tante Ine.


"Aku heran kadar cemburunya gak berubah Ne," sahut Mama.


"Mungkin masih merasa muda Put," jawab Tante Ine. Dua wanita itu cekikian. Kemudian terlibat pembicaraan masa lalu. Yang ku dengar ternyata Tante Ine sempat naksir Papa.


"Kamu suka sama Farel?" tanya Mama saat kami agak terpisah dengan yang lain. Mama memang sengaja mendekatiku. Aku cuma tersipu. Hah, ini gara gara adik ember. Padahal jadian juga belum.


"Farel cuma bilang naksir Ma, tapi Lala....." kata kataku terputus. Aku kok jadi malu sendiri. Entah apa yang membuatku malu seperti ini. Mama tersenyum melihat ekspresiku.


"Mama gak ngelarang kamu pacaran kok. Tapi harus jaga diri. Pacaran yang sehat. Saling dukung dengan hal hal baik. Jangan bolos sampai meninggalkan pelajaran. Itu akan ngerusak nilai. Semua ada waktunya Laa. Tidak baik mendahului waktu yang ditetapkan. Saat ini kamu fokus belajar dan menari. It's ok misal ada Farel jadi pacar kamu. Tapi berpacaran sesuai porsi saja. Tidak perlu mencoba hal hal yang belum pantas kamu coba. Nanti seiring kamu dewasa, akan ada waktunya," nasehat Mama panjang lebar. Aku mengangguk. Mama menggenggam tanganku.


"Anak Mama sudah besar," kata Mama sambil merengkuhku dalam pelukan. Tiba tiba tangan kokoh merengkuh kami berdua.


"Dua bidadari cantik punya Papa," bisik Papa. Kami bertiga berpelukan dalam suka cita.


"Hah... dasar teletabis!!" kata Hector memecah pelukan kami.


"Kamu mau dipeluk juga Nak?" tanya Mama.


"Ogah... aku gak keren main peluk peluk gitu," kata Hector bergidik meninggalkan kami.

__ADS_1


***


Aku mendekati Mbah Kung yang sedang bersantai diteras resort.


"Lala mau dengar cerita tentang Drupadi?" tanya Mbah Kung. Aku mengangguk antusias.


Mbah Kung bercerita saat Drupadi dilucuti pakaiannya oleh para Kurawa. Sudah tidak ada jalan. Suaminya pun sudah kalah. Namun Drupadi tidak ingin dipermalukan sepeti itu, walaupun sudah melawan dan berfikir segala kemungkinan. Akhirnya disaat terakhir dia berdoa pada Dewa. Tetap pada pendirian tidak ingin dilucuti pakaiannya. Akhirnya Dewa memberikan pertolongan.


"Pakaiannya berubah menjadi sangat panjang. Hingga Kurawa kelelahan menariknya," kata Mbah Kung mengakhiri kisah.


"Sebagai wanita kamu bisa menolak apa yang tidak ingin orang lain lakukan terhadap kamu La. Dan kamu juga harus punya perinsip bagaimana kamu mau bersikap," nasehat Mbah Kung. Aku tahu benar Mbah Kung khawatir dengan pacaranku dengan Farel. Beliau pasti takut aku melakukan hal yang tidak tidak. Haaahh semua ini gara gara mereka dengar aku jadian sama Farel. Aku jadi dapat dua wejangan saat liburan.


Aku mendekatkan diri. Bergelayut di tangan Mbah Kung kesayangan ini.


"Lala janji akan jaga diri. Lagi pula tadi cuma lelucon Hector dan Tiwi. Kami gak pacaran kok," jelasku. Mbah Kung menoleh kearahku.


"Mbah percaya kok, walaupun pacaran, kamu tetap gak ngapa ngapain. Kamu cucu Mbah yang teguh pendirian," jawab beliau sambil tersenyum. Wajah kriput yang aku sayangi.....


Kami makan siang dengan menu daging bakar Lezat. Farel sudah agak mau mendekat. Dia makan disampingku.


"Makasih," kataku saat Farel mengambilkan beberapa tusuk sate untukku. Dia tersenyum manis. Keluarga kami tidak ada yang membahas lagi masalah 'pacaran' tadi. Membuat aku lebih nyaman.


Aku lihat menu makanan daging semua. Lha Mbah Kungku gimana??? Giginya sudah hampir habis. Masak makan daging bakar alot.


"Mama Mbah Kung,-" kata kataku langsung terpotong dengan jawaban Mama.


"Mbah Kung ini menunya. Nasi soto buatan Mbah Marni," kata Mama mengeluarkan rantang. Menatanya di depan meja Mbah Kung.


"Senangnya diperhatikan," kata Mbah Kung ceria.


Siang usai makan, kami hilang dengan kegiatan masing masing. Aku main air sama Tiwi, Hector dan Farel. Kejar kejaran dipantai yang ombaknya indah dan panasnya menyengat.


"Pakai lotions dulu!!" perintah Mama tadi sebelum kami main pasir dan air.

__ADS_1


__ADS_2