Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Semakin dekat dengan mimpi


__ADS_3

Ujian nasional menanti di depan Mata. Ini yang jadi momok mengerikan. Terutama untuk anak berotak pas pasan kaya aku. Heran aku dengan sistem ujian di negara ini. Tiga tahun susah payah sekolah. Cuma ditentukan sama tiga lembar soal ujian. Aneh gak tuh??? Bukankah proses lebih berharga dari nilai itu sendiri???????


Langkahku semakin lemas. Tadi aku mengerjakan ujian terakhir.


"Sekarang gak ada yang bisa di lakuin selain pasrah menunggu hasil. Kemarin waktu keinget ujian nasional bisa langsung belajar. Masih bisa usaha belajar. Sekarang cuma bisa pasrah," kataku pada Tora di sampingku.


"Nyantai aja deh kamu. Anak horang kayah... gak lulus tetep bisa jadi juragan di pabrik mebel Mamamu." kata Tora.


"Lha aku??? Gak lulus pasti langsung dikatain banci kaleng gak lulus," lanjut Tora sedih.


"Ya gak gitu juga kali. Kamu berbakat nari. Siapa tahu bisa jadi maestro tari," kataku sambil menepuk pundaknya. Dia cuma mringis aja.


Aku mengikuti jalur masuk kuliah paling murah dan gratis. Lagi lagi menghadapi tes tertulis dan tes kemampuan. Beberapa piagam tari yang pernah kudapatkan berharap bisa membantu.


***


Hari pengumuman ujuan nasional....


Kami mengerubungi papan pengumuman. Berdesakan mirip lebah mau masuk sarangnya. Aku terus nyempil melewati orang orang. Mencari huruf 'V' diantara ribuan huruf lain. Haa!!!! LULUS. Tubuhku langsung terdesak mundur karena antisias siswa yang lain.


"Aku lulus!!! Aku lulus!!" teriakku dengan semangat.


"Aku juga!!"


"Aku juga!!!" Empat temanku juga lulus kami bergandengan kemudian lompat lompat mirip suku primitif mengadakan pemujaan. Lompatan dan gandengan tamgan itu membesar. Anak sekelasku ikut semua. Kemudian bertambah dan terus bertambah besar hingga pindah lapangan. Kami jadi mirip segrombolan suku entis besar lagi menari. Hahahaha koplak. Orang orang seni emang begitu. Banyak koplaknya daripada benernya.


***


Ada tes masuk tersendiri untuk memasuki kampus impianku. Aku diantar Mama untuk menginap di rumah budeku yang di kota Jogja. Besok pagi sekali otw kampus untuk tes. Jarak rumah budeku dan kampus lumayan jauh juga ternyata, walaupun masih satu provinsi.


"Waaa ini dia calon maba kampus elit," sapa Pakdeku begitu aku sampai rumahnya. Aku cuma senyum senyum aja. Mereka sangat ramah menyambutku.


Masuk kampus mirip mau masuk sirkusi. Itulah yang aku alami. Setelah menari tradisional yang aku bisa, aku disuruh olah tubuh.


"Apa olah tubuh yang anda bisa?" tanya penguji padaku. Mulai dari kayang, split, dan beberapa gerakan sulit lain.

__ADS_1


Terakhir tes wawancara. Yang paling menarik aku disuruh bercerita tentang seniman tari yang aku ketahui. Kusebutkan beberapa nama idolaku. Theodoro Retno Maurti, seniman tari asal Solo. Sampai Sujana Arja, sang maestro tari topeng. Aku menceritakan dua seniman itu dengan lantang.


***


Aku dinyatakan lulus dan bergabung menjadi mahasiswi kampus seni favoritku. Beberapa kali kupandangi laptopku. Iya benar!!! Aku lulus!!!


Aku lompat lompat sambil meluk Mama.


"Lala lulus Maa, Lala bisa walaupun saingan Lala banyak," kataku sama Mama. Kami mewek bareng sangking bahagianya. Hector keluar kamarnya sambil mencibir.


"Halah dasar lebay, lulus nangis.... gak lulus nangis lagiiii," kata Hector menyebalkan.


"Kamu ini Tor, sekali sekali kasih selamat yang benar dong sama Mbakmu." Kata Mama. Aku melet ngejek kearah Hector. Yang diejek tersenyum dingin. Dia itu gayanya mencela, tapi aku tahu dia sering menceritakan prestasi prestasi menariku pada teman temannya. Cara menyayangi Hector adalah menjadikan aku musuh. Hahahaha....


Aku mulai mencari kos di sekitar kampus. Kali ini di temani seisi rumah termasuk Papa yang jauh jauh dari Semarang.


"Mama suka yang tadi. Ada acnya, lingkunganya bersih, gak terlalu padat," Mama berpendapat.


"Terlalu mahal Ma, sayang cuma buat kos aja. Lagi pula jauh dari warung. Aku males kalau mau makan harus jalan jauh," kataku. Aku mau cari yang sederhana saja. Asal kamar mandi di dalam. Biar bisa kenal tetangga kos. Kalau terlalu eksklusif bisa kesepian aku.


"Nanti gantian kamu yang bingung cari makan," jawab Mama.


"Cari asisten lagi dong Maa yang sexy dan masih muda," jawab Hector.


"Cihhh ... sexy dan masih muda.... cari asisten apa cari purel itu," aku mencibir.


"Yang itu gimana La? Depannya warmindo sama warung penyetan. Gak jauh juga. Nanti motormu dikirim kesini," Papa buka suara. Kami memandangi kost lantai dua berwarna hijau itu.


"Harga per bulannya Rp xxx kamar mandi dalam, kosongan, sudah termasuk token," jelas pemilik kost pada kami.


"Tamu cowok gimana? Cctv ada di semua lorong ya?" tanya Papa pada pemilik kost. Matanya mengawasi sekitar.


"Tamu cowok gak boleh masuk kamar. Cuma sampai ruang tamu bawah. Iya kami pasang cctv disemua lorong kamar dan parkiran." Jelas pemilik kos.


"Ada jam malam untuk tamu cowok dan penghuni kos?" Tanya Papa lagi.

__ADS_1


"Gak ada Pak, mereka bebas jam berapapun," jawab pemilik kos. Papa manggut manggut.


"Gimana La? Kalau tanya Papa, kayaknya disini cukup aman dan strategis. Kalau kamu iya nanti tinggal kita isi barang sesuai kebutuhan kamu. Papa juga akan minta orang buat ngirim motormu. Gimana?" tanya Papa. Aku manggut manggut.


"Lala juga suka Pa. Aku ambil yang ini aja." Kataku semangat.


***


Aku sibuk mengatur barang barangku disini. Rasanya bersemangat. Hidup sendiri jauh dari orang tua. Walaupun sedikit sepi..... hah, aku sekarang gak bisa berebut sama Hector lagi.


'Po, lagi apa?' Pesan di hpku dari Hector. Aku langsung tersenyum. Anak itu jarang sekali menghubungiku. Kami sama sama kangen ternyata.


'Natain barang. Napa?' tanyaku. Gak ada jawaban lagi padahal pesanku terbaca. Dia emang dingin dingin perhatian.


Hp ku berbunyi lagi. Farel telepon.


"Iya Rel, udah sampai?" tanyaku.


"Aku diwrmindo depan. Kamu kesini aja," kata Farel. Aku pun bergegas turun.


"Hai, lama gak ketemu," sapaku pada Farel. Dia tersenyum.


"Iya lama sekali. Kosan mu nyaman?" tanya Farel. Aku mengangguk.


"Kamar mandi dalam, aku lagi nata barang barangku tadi. Gimana kosan mu? Kuliahmu udah dimulai?" tanyaku pada Farel. Dia mengangguk.


"Nyaman, cukup jauh ternyata dari sini. Sekitar 45 menit. Aku mulai Senin depan," kata Farel.


"Sama dong......" kami terus berbincang tentang perkuliahan dan kos. Banyak perubahan yang sama sama kami rasakan.


Hampir sebulan lebih aku dan Farel jarang ketemu. Sama sama sibuknya. Menyiapkan kuliah masing masing. Dia kuliah jurusan kimia dikota ini. Dapat bea siswa karena otak encernya.


"Aku akan buktikan sama Ayah kalau aku bisa sukses tanpa harus jadi polisi kayak mereka," curhat Farel.


"Ayahmu masih gak suka kamu kuliah ya?" tanyaku. Farel manggut manggut. Beberapa kali aku dengar dari Farel kalau dia sering berdebat dengan Om Nando. Anaknya mau jadi ilmuan, ayahnya mau anaknya jadi polisi. Aku menepuk pundak Farel.

__ADS_1


"Semangat Rel, aku tahu kamu pasti akan sukses. Tunjukkan itu sama Om Nando, nanti dia pasti akan luluh," kataku memberi semangat. Farel senyum sambil manggut manggut.


__ADS_2