
Perjalanan ditempuh cukup lama. Apalagi kalau perjalananmu ditemani keheningan. Vano membawaku kerumahnya. Aku berdiri di teras depan saat Vano membuka pintu.
"Oh iya kosmu ada di belakang rumahku sekarang. Cat rumah warna biru muda. Papa yang memilihkannya, tapi aku yakin kamu lebih suka tinggal denganku. Aku akan suruh orang memindahkan barang barangmu nanti kalau kamu gak betah disana. Kamu bisa tinggal disini. Aku akan mengurusnya. Ayo masuk," kata Vano sambil berlalu kedalam rumah. Aku ikut masuk kedalam rumah.
"Aku punya syarat untukmu. Mau atau tidak kamu juga harus memenuhinya!" kataku sambil masuk rumah. Vano mengangguk.
"Katakan," kata Vano siap menunggu aku bicara.
"Pertama, aku gak mau disentuh sama kamu. Kita tidak akan melakukan hubungan suami istri. Kedua, aku gak mau tinggal satu kamar denganmu. Ketiga, aku gak mau pernikahan ini diurus dan disahkan secara negara. Keempat, aku meminta cerai setelah setengah tahun pernikahan. Bilang pada orang tua kita kalau kita tidak cocok," kataku berapi api. Vano tersenyum kecut.
"Aku terima sayarat pertama dan keduamu. Aku akan menunggu sampai kamu sendiri siap melakukannya. Aku tidak terima syarat ketigamu sampai akhir. Aku akan tetap mengurus pernikahan ini sah secara negara. Itu janjiku pada Papa. Aku akan bersabar denganmu selama tiga tahun. Artinya sampai kuliahmu selesai. Jika sampai kamu wisuda kamu tetap tidak bisa menerimaku, maka aku terima syarat darimu untuk..... bercerai. Namun aku mohon tetap cobalah terima aku sebagai suamimu," kata Vano. Hening..... Vano mendekat dan mencolek hidungku.
"Kita deal hummm?" tanya Vano sambil tersenyum manis. Aku melengos saja.
"Tiga tahun terlalu lama..... aku gak mau!" kataku ketus. Vano menghela nafas.
"Sayangnya talak juga hanya ada dimulutku. Aku imam disini. Mau atau tidak itu penawaran yang aku berikan. Suka atau tidak kau harus terima itu Sayang," katanya kemudian masuk kamar. Dia keluar dengan baju berlambang kepolisian. Menyampirkan jaket disofa depan TV. Membuka kulkas dan menyiapkan sarapan.
"Aku biasa makan roti kalau sarapan, tapi sepertinya kamu biasa makanan berat yaa? Hummm kalau begitu makan roti dulu sama aku. Habis itu aku pesankan nasi uduk dekat kampusmu via aplikasi," kata Vano. Tangannya cekatan menyiapkan dua roti sandwich.
"Aku makan roti saja," kataku sambil mendekat ke dapur. Menontonnya menyiapkan sarapan. Kami makan sarapan dengan tenang. Dia pamit kerja sambil menciumi seluruh mukaku. Aku mendorongnya dengan sebal.
__ADS_1
"Ini bisa masuk pelanggaran perjanjian!!" kataku sambil melotot. Dia malah tertawa senang.
"Aku akan melihat muka cemberut ini setiap hari.....hah...... ini akan membuatku semangat kerja Sayang," kata Vano ceria.
"Dan aku gak yakin bisa hidup denganmu selama tiga tahun!! Mungkin akan darah tinggi dan mati secepatnya!!" jawabku sebal. Vano tertawa.
"Matilah, aku akan jadi duda keren incaran para gadis," balas Vano sambil cekikikan. Aku melempar bantal kursi kearahnya. Dia menghindar dengan cepat. Astagaaaa bagaimana aku bisa hidup tenang sekarang???!!!! Dengan manusia menyebalkan yang dipaksakan menikah denganku. Bahkan sedetik saja aku tidak pernah mengharapkannya.
Aku mengecek kos di belakang rumah Vano. Haaa bahkan kos itu bersatpam. Ber cctv disetiap sudutnya. Terpampang besar di gerbang kos, kalau tamu apapun jenis kelaminnya tidak boleh nginep. Juga jam malam terakhir tamu berkunjung dan penghuni kos terakhir masuk gerbang. Astaga.... Ini kos kosan apa penjara?? Sama sekali tidak bebas untuk ukuran anak kos macam aku. Aku bertanya pada satpam dimana kamar kos atas namaku.
"Kamarnya ada di ruang atas nomer tiga dari kiri Mbak," jelas Satpam sambil menyerahkan kunci. Hummmm papa benar benar menyiapkan semua dengan baik.
"Makasih Pak," kataku sambil berlalu menuju kamar yang dimaksud.
"Gak jadi ditempati Mbak? Udah dibayar lho," kata Pak Satpam heran. Aku cuma menggeleng dan menjelaskan aku pindah dirumah depan.
"Ajak satu teman lagi Pak, agar cepat selesai," kataku. Belum tengah hari barangku pindah kerumah Vano. Aku menempati kamar samping Vano. Mengabarinya kalau barangku sudah dipindahkan. Chatku tidak berbalas. Bodolah. Seharian aku menata barang. Makan siang nyobain resto dekat sini. Lumayan. Tempat ini agak jauh dari kampus, tapi sedikit kota.
Mobil Vano terdengar dihalaman. Dia masuk dan nyelonong mau menciumku. Kuacungkan tinjuku tepat dimukanya. Dia tertawa. Malah mencium kepalan tanganku kemudia beralih kerambutku sekilas.
"Apa yang kau lakukan seharian ini Cantik?" tanya Vano sambil mengelus rambutku dengan pipinya.
__ADS_1
"Makan, tidur, beres beres," jawbaku sambil menjauhkan kepala. Aku risih dengan elusannya mirip kucing cari perhatian. Dia manggut manggut kemudian masuk kamar.
Dia keluar dengan muka segar habis mandi. Duduk disampingku.
"Aku mau memberikan ini," katanya sambil menyodorkan ATM.
"Ini gajiku selama menjadi perwira. Aku tahu benar nilainya tidak seberapa dengan mebel orang tuamu, tapi terimalah. Wujud tanggung jawabku sebagai suami," katanya terlihat tidak percaya diri. Aku tersenyum dan menerimanya.
"Terimakasih, tapi aku gak butuh. Aku belum menganggapmu suamiku, jadi jangan lakukan kewajibanmu. Simpan saja," kataku sadis sambil mengembalikan atm itu.
"Tapi Po, tidak bisa begitu..... kau harus hidup dari uangku. Kau tanggung jawabku!!" Vano terlihat tersinggung.
"Memang siapa yang mau jadi tanggung jawabmu? Siapa yang mau?? Kamu!!! Bukan aku!!! Aku tidak menerimamu sebagai suami. Tidak akan!! Jadi jangan berfikir aku akan menjadi tanggung jawabmu!!! Aku.... aku sendiri......." kataku pilu. Tumpah sudah kekecewaan ku pada semua orang. Pada Papa dan Vano terutama. Aku menahan diri untuk tidak menangis pilu. Akan tetapi dia terus menunjukkan tanggung jawabnya seolah pernikahan ini disetujui dua belah pihak dengan suka cita. Dia berusaha merengkuhku dalam pelukannya, aku menolak dengan kasar. Pergi kekamarku dan tidur.
"Po..... makan yuk!" suara Vano terdengar. Setelah beberapa saat aku menangis. Aku diam saja. Ketukan kembali terdengar.
"Baiklah maafkan aku, ayo makan dulu. Aku janji tidak akan membahas apapun tentang kewajiban sebelum kamu siap," kata Vano dibalik pintu. Hening.....
"Po, ayolah...." bujuk Vano lagi. Dia terus cerewet membujuk ini dan itu. Aku risih sendiri dengan mulutnya. Kubuka pintu dengan kasar. Dia terjengkang masuk kedalam. Ternyata dia bersandar dibalik pintu. Tubuhnya menabrak aku. Tangannya sempat melindungi kepalaku sebelum kami berdua jatuh. Dia jatuh menimpa tubuhku. Kami berpandangan dalam diam. Dia menggesek hidungnya pelan kehidungku. Kemudian kembali mencium bibirku dengan lembut. Lagi lagi kubiarkan tanpa tanggapan. Dia gemas dan mengigit bibirku.
"Awww!!" teriakku. Vano tertawa.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Sayang, kamu sangat menggemaskan," kata Vano sambil membimbingku berdiri.