Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Penyelidikan


__ADS_3

Aku menggeleng cepat. Musuh apa? Aku bukan pembuat onar.


"Aku cuma kenal beberapa orang Pa di kota ini. Jangankan musuh, teman aja masih bisa dihitung jari. Lala bukan orang yang pandai berteman," jawabku. Papa mengangguk.


"Papa tahu itu sebenarnya, tapi beberapa bukti mengarah padamu begitu tepat. Seperti.... Sengaja diarahkan. Dia, siapa pun pembunuhnya pasti mengenalmu Nak," kata Papa sambil menerawang.


"Eh, tapi ada Rico!!" lanjutku sambil melihat Vano. Yang dilihat langsung menggeleng.


"Aku sudah menyelidikinya. Dia tidak terlibat dan memiliki alibi yang kuat. Kenapa juga Rico membunuh Farel? Mereka tidak saling kenal. Kurasa bertemu pun belum pernah," kata Vano. Kami bertiga langsung menghela nafas. Ini berat. Sebenarnya siapa yang tega melakukan ini???


"Apa tidak ada sidik lain selain sidik Lala?" tanya Papa.


"TKP diluar pintu kamar Lala sudah tercemar Pak. Banyak sidik menempel dipintu. Sedang didalam kamar bersih. Bahkan sidik Lala sekalipun gak ada di pintu bagian dalam," jelas Vano.


"Haaaa dia bodoh..... Dia berhasil meninggalkan sidik Lala dicunduk menthul, tapi tidak bisa meninggalkan sidik Lala di pintu," kata Papa. Aku diam mengamati dua orang polisi itu bicara.


Hening beberapa saat..... Vano kemudian berdiri.


"Saya akan balik kantor. Siapa tahu ada informasi tambahan," kata Vano pada Papa. Dia juga mengatkan kalau jenazah Farel akan dibawa pulang pagi ini. Akan dimakamkan pagi ini juga. Aku langsung heboh.


"Lala mau pulang Paa.. Lala mau lihat Farel untuk terakhir kalinya," rengekku sambil menangis.


"Statusmu tahanan kota ini Nak. Itu pun karena Papa yang menjaminmu. Kamu gak bisa pulang sampai semua bisa dibuktikan. Sabarlah.... Papa temani disini," kata Papa. Aku kaget, jadi.... Aku seorang tahanan sekarang?


"Tapi aku mau lihat Farel.... dia temanku, sahabatku, dan pacarku Paa...." kataku sambil merosot kelantai. Papa memegangiku. Kembali mendudukanku dikursi.


"Tenanglah. Kau bisa mengunjungi Farel kapan pun setelah masalah ini selesai. Dia tidak akan pergi kemana mana sekarang," kata Papa. Vano terlihat menahan tawa. Aku langsung memlototinya.


"Maaf, maafkan aku Po. Bukan bermaksud tertawa karena Farel. Aku turut berduka atas kehilanganmu, tapi Pak Revan benar. Farel tidak akan pergi kemanapun. Kalau dia bisa pergi, aku yang akan pertama kali menemuinya dan menanyai siapa pembunuhnya," kata Vano kemudian berlalu dengan menyebalkan. Dasar tidak berperasaan!! Ada manusia seperti itu dimuka bumi ini????

__ADS_1


Setengah hari aku dirumah itu. Rumah mungil yang cukup unik sebenarnya. Terdapat dua kamar tidur dengan kamar mandi dalam. Ruang tamu, dapur, dan ruang keluarga tanpa sekat. Membuat rumah mungil ini terasa luas.


Siapa yang membunuh Farel? Ada masalah apa dia? Dan..... ditemukan dikamar kosku?? Aneh sekali. Siapa yang memasukkannya kedalam kamarku? Juga cundhuk menthul itu..... Aku menyimpannya dimeja rias dalam kamar. Kenapa bisa sampai tertancap didada Farel?


Papa bersiap pergi sudah pakai jam tangan dan sepatu.


"Mau kemana Pa?" tanyaku sambil mendekat.


"Papa mau kekantor polisi. Papa bisa gila kalau cuma menunggu hasil penyelidikan. Papa akan minta pimpinan kantor Vano agar Papa bisa ikut menyelidiki. Entah..... mungkin bisa mungkin tidak. Tapi Papa akan melobi sebisa mungkin. Do'akan yaa," kata Papa sambil mengelus rambutku. Aku mengangguk pilu.


"Hapemu ada di depan TV. Beberapa kali Papa lihat ada pesan masuk. Mungkin ada yang penting. Papa pergi dulu yaa," kata Papa sambil mencium pelipisku.


"Hati hati Pa, bawakan Lala berita baik," kataku penuh harap. Papa tersenyum.


"Pasti," jawab Papa sambil memandangku. Papa memandangku agak lama. Kemudian tertawa sendiri.


"Kenapa?" tanyaku heran. Dia justru duduk disampingku sambil merangkul pundaku.


"Sekarang kamu berurusan dengan polisi, wajah kalian mirip sekali. Papa berasa menangani kasus Mama dulu. Hummmm walaupun dulu kasus Mama terhitung receh. Dan kasusmu...... cukup berat. Bersabarlah, Papa yakin bukan kamu pelakunya. Ini hanya masalah bukti, dan kecepatan Vano bertindak. Papa berangkat dulu," pamit Papa.


"Pak Tomy juga bilang gitu kemarin," kataku.


"Oya, apa yang dia bilang?" tanya Papa penasaran.


"Mirip mirip Papa, beliau bilang mama yang menjadikan beliau pengacara," kataku. Papa tersenyum. Dia menepuk pundakku beberapa kali. Kemudian pamit pergi.


Aku kesepian dirumah ini Akhirnya kuambil hape. Walaupun aku malas sekali memegangnya. Aku malas ngapa ngapain. Aku bingung dengan nasibku sendiri.


'Lala Mama pulang ke Solo. Kamu disana sama Papa ya. Mama mau menyiapkan pemakaman Farel. Semangat sayang, Mama yakin bukan kamu pelakunya.' Pesan Mama. Langsung tumpah lagi air mataku.

__ADS_1


'Po, kamu bukan pembunuh. Cuma apes.' Pesan Hector. Juga puluhan pesan dari Lola. Mereka mengabariku ternyata. Bahkan sebelum Vano menangkapku. Akan tetapi aku terlalu malas buka hp. Aku membalas pesan Lola. Langsung berderinglah teleponku.


"Lala!!!! Kamu dimana??? Astaga ini kacau, kacau parah level dewa. Kenapa kamu gak angkat teleponku?!!!" lengking Lola. Dia juga nanya dimana posisiku sekarang. Aku bilang aku di Jogja.


"Statusku tahanan kota. Masih lebih baik daripada ditahan. Papa menjaminku." kataku.


"Jadi kamu ditetapkan sebagai tersangka La?" tanya Lola.


"Enggak, tapi memang ditetapkan sebagai orang yang paling dicurigai. Proses penyidikan masih berlangsung," jawabku.


"Jadi tersangkanya masih dicari?" tanya Lola lagi.


"Benar, Vano berusaha mencarinya. Kemungkinan dibantu Papa," kataku.


"Papa? Papamu?" suara Lola heran.


"Papaku juga polisi, walaupun sudah pensiun sekarang," jelasku. Kami mengobrol lama. Lola menceritakan kejadian dikosan sampai polisi datang. Dia juga cerita kalau Nita gak bisa dihubungi. Asik liburan sama pacarnya.


"Anak itu kalau tahu pasti heboh," suara Lola ditelepon.


"Aku malah belum menghubunginya, gak tahu juga kalau dia gak bisa dihubungi," jawabku. Kami ngobrol lagi ngalor ngidul gak jelas. Sampai akhirnya Lola pamit.


"Baik baik Lala..... tenanglah aku yakin bukan kamu pelakunya," kata Lola mengakhiri percakapan.


"Terimakasih," balasku sebelum menutup telepon. Bertelepon dengan Lola membuatku sedikit lega, sedikit bisa tersenyum juga.


Aku ingat kalau aku belum mandi dari pagi. Ini sudah mau sore. Haaaa mengerikan sekali. Bahkan sore kemarin aku gak mandi, cuma dikasih waktu cuci muka. Seperti apa rupaku sekarang? Pasti berminyak dan kucel.


Bahkan aku juga lupa kalau hanya makan lima sendok sarapan dari pagi. Kejadian ini mengacaukanku sepenuhnya. Aku bergegas kedalam kamar, tapi sepertinya kamar yang aku tempati ini kamar tamu. Lemari dalam kamar mandinya kosong. Gak ada sabun atau peralatan mandi lain.

__ADS_1


Aku pindah kekamar sebelah. Tapi.... ini pasti kamar Vano. Apa tidak apa apa aku masuk?


__ADS_2