Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Acara berlangsung


__ADS_3

Aku dirias dengan riasan sederhana. Sanggul moderen dan kebaya moderen. Kebaya agak kedodoran sangking krempengnya aku.


"Ma, ini acara apa?" tanyaku pada Mama yang masuk kamar. Aku tahu Beliau menghindar bicara denganku dari tadi.


"Acara pertunanganmu. Maaf, Mama sudah berusaha membelamu. Akan tetapi kau tahu sendiri gimana watak Papa. Mama juga gak berdaya Nak. Dia tidak akan menjerumuskanmu Nak, percayalah. Mama yakin itu," kata Mama sambil erat menggenggam tanganku.


"Tapi aku mau tunangan sama siapa Ma?? Aku baru mau semester 3. Masih mau kuliah dengan benar. Kenapa harus tunangan? Sama siapa?" tanyaku heran.


"Kamu akan tahu nanti.... bersabarlah. Ini tunangan bukan nikah. Kamu bisa nikah setelah lulus dengan calonmu," kata Mama sambil menepuk nepuk telapakan tanganku pelan.


"Tapi siapa calonnya? Astaga.... Ini konyol!!! Papa memaksaku bertunangan dengan siapa? Kenapa begini? Aku gak cinta sama siapapun," kataku sudah menitikkan airmata. Mama ikut mengusap matanya. Beliau kemudian memelukku erat.


Aku mendengar kegaduhan dari luar kamar. Sepertinya tamu yang ditunggu sudah datang.


"Mereka datang Nak, kita akan keluar setelah dikode panitia," kata Mama. Aku mau pura pura pingsan atau gila sekalian. Siapa yang akan dijodohkan denganku? Astaga..... aku masih kuliah!!!! Hukuman macam apa ini???


Mama menggandengku keluar kamar. Aku benar benar mau lari saat tahu siapa tunanganku. Pria menyebalkan berwajah robot. Dengan senyum memamerkan gigi rapinya. Iya, dia Vano!!!!! Pria yang selalu membuatku darah tinggi!!!! Apa Papa ingin membuatku mati pelan pelan?? Aku yakin bisa terkena darah tinggi akut kalau terus didekat Vano. Sesaat aku ingin kabur saja. Tapi jika aku kabur Papa pasti akan semakin kecewa. Hahhhh.... aku harus gimana???


Aku mendelik sama Vano, tapi sepertinya rupaku ini sama sekali tidak menakutkan. Dia malah terlihat cengengesan di depanku. Acara dibuka dengan ramah tamah dulu. Vano sempat memberi kode dengan tubuhnya. Bilang kalau aku cantik. Cantik matamu!!!! Aku melengos saja.


Keluarga Farel datang. Tante Ine langsung memelukku.


"Maaf atas semua yang Farel lakukan padamu. Berbahagialah Nak," kata Tante Ine sambil mengelus punggungku.


"Farel gak salah Tante. Dia juga korban pergaulan. Lala udah maafin Farel dari dulu. Lala juga salah karena gak keras memperingati Farel.... Andai.... Lala bisa, mungkin Farel masih disini," jawabku sambil menyeka air mata. Kami melepaskan pelukan. Saling tersenyum walau hati teriris mengenang Farel.

__ADS_1


Acara berlanjut. Mulai masuk pada inti acara. Keluarga Vano resmi melamarku melalui juru bicaranya. Papa menerima langsung lamaran keluarga Vano. Acara penyematan cincin akan berlangsung.


"Mungkin ada yang ingin disampaikan Nak Zee," kata MC pada Vano.


Vano tersenyum dan maju kedepan. Aku juga dituntun maju oleh panitia. Kami berdiri berhadapan. Tangan kanannya terulur menggenggam tangan kiriku. Sorot matanya mengarah padaku. Aku cuma tertunduk. Melihat sepatunya yang mengkilap.


"Vanila Jean Aliee, hari ini aku datang membawa keluargaku karena besarnya rasa cintaku padamu. Vanila yang cantik, aku menyukaimu bahkan sebelum aku mengerti cinta." Hector menjeda dengan siulannya. Pria kecil itu nampak girang bukan main. Vano tersenyum kearah Hector sekilas.


"Bagiku kamu indah, gadis cilik yang lincah menari di atas pendopo. Takdir selalu berpihak padaku untuk sering bertemu denganmu. Aku menyukainya. Bagiku keberuntungan untuk dapat melihat wajahmu," lanjut Vano. Diam sejenak untuk menarik nafas.


"Vanila, seperti kata Papamu, aku jahil karena ingin mendapat perhatian darimu. Aku, yang selalu kau anggap menyebalkan ini. Sebenarnya bingung mencurahkan cinta yang selalu menyiksa divdadaku. Ijinkan aku mencurahkan cintaku. Aku akan bersumpah untuk jadi menyebalkan seumur hidupku jika kau tak pernah menerima cintaku," kata Vano. Aku langsung mendongak menatapnya. Mata kami beradu. Dia sungguh sungguh mengucapkannya.


"Bapak Revan Aji Pratama. Ijinkan saya tamak hari ini. Saya meminta anak Bapak bukan menjadi tunangan saya, tapi saya meminta putri anda, Vanila Jean Aliee sebagai istri saya," kata Vano. Langsung hebohlah satu ruangan. Aku melepas tautan tangan kami. Vano berpandangan dengan Papa.


"Kau gila!!! Siapa yang mau kau jadikan istri?" bisiku sebal. Vano cuma meliriku dengan ekor matanya. Masih menunggu jawaban Papa.


Hector bersiul dan mulai bertepuk tangan sambil berdiri. Beberapa orang mengikutinya. Tepukan riuh semakin terdengar.


"Bravo Man!!!! Kau sungguh berani dan serius!!" teriak Hector. Tepukan semakin riuh terdengar. Mama ikutan berdiri tepuk tangan!!


Papa maju kedepan. Mengambil mic dari tangan Vano. Berdehem sebentar untuk menenangkan orang orang. Seketika ruangan itu senyap.


"Kau siap membahagiakan anaku?" tanya Papa. Mc berinisiatif memberikan micnya pada Vano.


"Siap Pak!" jawab Vano mantap.

__ADS_1


"Kau siap menjaganya? Dan menjadi pelindungnya dalam keadaan apapun?" tanya Papa lagi.


"Siap Pak! Dengan segala jiwa dan raga saya!!" jawab Vano lantang ala militer. Hatiku bergetar. Aku teringat bayangan Vano saat aku menari Bedhaya ketawang. Tentang pertanyaan siapa jodohku.


"Kau mau bersabar dengannya atas nama cinta dan kasih sayangmu?" tanya Papa.


"Siap Pak!!" jawab Vano mantap. Hening.... Papa melihatku sekilas. Aku melotot sebagai jawaban. Sambil berbisik 'tidak' dengan pelan. Papa kembali memandang Vano. Mereka bertatapan dalam diam.


"Aku mengijinkanmu menikahi putriku hari ini," kata Papa sepihak. Aku shok mau protes tapi Papa buru buru memelukku.


"Percaya sama Papa Nak, Papa mohon. Kau akan dicintai seorang lelaki baik yang benar benar hanya melihatmu. Papa yakin kalian akan bahagia. Percaya Papa," kata beliau lembut dan sedikit tercekat. Aku tahu Papa berusaha untuk tidak menangis. Tepuk tangan riyuh kembali terdengar. Aku mau protes, tapi protesku pasti merusak semuanya. Memalukan keluargaku di depan semua orang.


Pernikahan dilangsungkan. Papa dituntun ulama yang harusnya membaca doa usai pertunangan. Ijab qobul dilangsungkan antara Papa dan Vano. Mama nangis di belakangku. Usai Vano mengucap ijab saksi menyatakan sah. Aku diminta mencium tangan Vano. Dia dengan gembira mengacungkan tangannya.


Aku mencium tangan Vano. Dia dengan cepat mengecup bibirku sekilas disaksikan para hadirin. Heboh lagi satu ruangan. Benar benar orang yang pandai membuat kehebohan!!! Aku menatapnya sebal!!!


"Sabar Mase sabar. Ya Allah ini orang emang gak sabaran. Udah tunangan ganti nikah, sekarang langsung nyosor aja," kata MC membuat semua orang tertawa. Aku malu!!! Tapi sepertinya Vano senang. Atau mungkin dia gak tahu malu. Ntah lahhh..... aku malas sekali.


Dia tersenyum menerima selamat dari orang orang. Senang sekali rupanya.


"Jangan se kaku itu, kamu itu jelek, lebih jelek lagi kalau senyum terpaksa seperti itu," bisik Vano di sampingku.


"Apa boleh kupukul suamiku di depan banyak orang sekarang?" tanyaku setengah berbisik juga. Vano tertawa.


"Ayolah, kita bisa pukul pukulan nanti. Kita bisa melampiaskannya dikamar," jawab Vano sambil meniup telingaku. Aku merinding hebat.

__ADS_1


__ADS_2