
Aku pulang ngampus naik taksi. Bareng sama kedua sahabatku. Males banget kalau harus telepon Vano buat jemput. Siapa dia? Sampai kos Farel sudah menunggu. Jantungku berdesir ketakutan.
"Aku mau ngobrol baik baik," Farel membuka percakapan. Aku masuk kamar cepat dan menutupnya. Dua sahabatku juga masuk kamar sendiri sendiri. Farel tertinggal diluar.
"Laa, aku mohon maafkan aku," kata Farel to the point. Aku mencoba memenangkan akalku. Kalau perasaanku, aku sudah mau memeluknya.
"Gak! Udah cukup. Aku bukan samsak tinju kamu!! Pergi atau aku telepon polisi sekarang!!" kataku dari dalam kamar.
"Laaa..... Vanila aku mohon......." entah kata kata apa yang dia ucapkan. Aku gak peduli. Pasang hedset mencoba tidur. Aku pusing. Lelehan air mata kembali menetes satu satu tanpa aku minta. Farel...... dia berharga, tapi juga menyakitiku. Mungkin dengan marah seperti ini dia akan berubah. Aku yakin.
Aku bangun tidur, aku yakin Farel sudah tidak ada. Hari sudah malam. Ambil handuk mandi. Baru buka kamar, ternyata Vano sudah nongkrong bareng Nita.
"Itu dia putri tidurmu Mas," kata Nita.
"Mandilah, kita harus bicara!" perintah Vano. Aku diam saja menuju kamar mandi. Tidak menjawab Vano yang terus mengawasiku. Kulewati pintu kamar Lola, tertutup rapat dan masih gelap.
"Lola mana Nit?" tanyaku berhenti di depan kamar mandi sejenak.
"Pergi buru buru tadi. Pinjam motorku. Ntah mau kemana," jawab Nita. Aku manggut manggut.
Aku masuk mobil Vano. Dia mengajaku makan dekat Polres. Makan pecel lele yang lumayan enak sambelnya. Kami duduk berhadapan menikmati makan malam.
"Aku berkantor disini. Rico beneran datang tadi. Dia melaporkanmu. Membawa backing seorang pengacara dan seorang perwira menengah. Aku kesulitan menghadapinya. Jadi..... maaf aku telepon Pak Revan." jelas Vano. Aku tersedak sambal. Perih dan panas menjalar sampai hidung. Vano berpindah duduk di sebelahku dan menepuk punggungku. Menyodorkan minum untukku.
"Kau gila!!! Kenapa libatkan Papa? Aku bisa mengurusnya sendiri!!" kataku marah marah.
"Akan lebih mudah urusannya kalau Pak Revan turun tangan Po, mereka pakai polisi juga. Mereka cabut laporan dan akan menyelsaikan dengan kekeluargaan setelah bicara dengan Pak Revan," kata Vano.
"Kau mengatakan masalah Farel juga?" tanyaku.
__ADS_1
"Apa masalah Farel?" suara Papa mengejutkan di belakangku. Aku terlonjak langsung merinding.
"Apa? Farel juga bermasalah?" tanya Papa santai. Mendekatkan bibirnya dan mencium pelipisku sekilas.
"Papa disini? Kapan datang? Kok gak telepon Lala?" tanyaku mencoba mengalihkan fokus Papa sama Farel.
"Papa pulang sebentar lagi. Masalahmu dengan Rico selesai. Mamamu tidak Papa beri tahu tentang masalah ini. Lalu apa masalahmu dengan Farel?" tanya Papa menyelidik. Aku gelagepan. Papa itu menyeramkan... aku yakin semua orang yang mengenal Beliau akan mengatakan hal sama. Pendiam, cerdas, teliti, dan menyeramkan.
"Hanya masalah kecil Pak, sepertinya mereka bertengkar hal kecil kemarin," Vano mencoba menolongku.
"Iya Pa, aku memaksa Farel pulang. Kasihan Tante Ine, tapi dia gak mau," kataku dapat ide. Papa menghela nafas.
"Sudah jangan dipaksa. Awasi dia baik baik disini. Kalau dia berbuat macam macam bilang Papa. Biar papa yang seret dia pulang." kata Papa. Sukses.... beliau percaya.
Papa benar benar pulang malam itu. Cus... Langsung menuju kotaku. Berpamitan denganku sambil memeluku sejenak. Menepuk pundak Vano dan bilang kalau Papa percaya padanya. Dia bahkan menitipkanku pada Vano.
"Emang Lala barang dititpin segala!!" aku protes. Papa tersenyum membelai rambutku pelan.
Dua hari berlalu.....
Ratusan pesan dari Farel bertengger di hpku. Aku sampai benar benar jengah. Aku memblokir nomernya dari hpku. Aku butuh konsentrasi. Sebentar lagi upacara kenaikan Sultan. Aku akan menarikan tarian keramat dan butuh konsentrasi lebih.
"Aku cuma setengah hari di kampus. Pulangnya kamu nebeng orang ya Lol," kataku pada Lola. Pagi ini dia nebeng aku, Nita kecapekan gak ngampus. Dua pacarnya kemarin malam datang bergiliran.
"Oke, mau kemana kamu?" tanya Lola.
"Aku mau balik ke kotaku. Persiapan tarian itu," jawabku.
"Eh, serius? Udah waktunya pementasan???" tanya Lola girang. Aku manggut manggut. Lola bercerita kalau dia bangga bukan main aku ikut event itu.
__ADS_1
"Kamu selalu beruntung La, termasuk ikut tarian itu. Aku iri sama kamu," kata Lola.
***
Aku sampai rumah sudah sore. Lagi lagi gak ada orang. Cuma Mbah Marni doang.
"Mbak Lala..... mau Mbah masakin apa?" tanya Beliau sambil memelukku.
"Gak usah Mbah, Lala mulai besok dan tiga hari kedepan puasa." jawabku.
"Kenapa?" tanya Mbah Marni kepo. Kujelaskan kalau aku akan menarikan tarian keramat untuk upacara peringatan kenaikan sultan. Salah satu syarat utamanya adalah puasa tiga hari sebelum menari. Beliau mengerti dan bilang bangga sama aku, karena terpilih menarikannya.
Hari penarian tiba.....
Aku dihias dengan hiasan manten jawa. Paes ageng dan gelung bokor mengkurep. Busana yang kupakai berupa kemben hijau khas manten bernama dodot ageng atau sering disebut basahan. Roncean bunga melati menjuntai indah di kananku. Disebut tibo ndodo. Semua yang atribut yang dipakai menari memiliki makna tersendiri.
Suasana sakral membuat siapa saja bergetar dadanya. Tarian ini adalah tarian sakral yang ditarikan oleh 9 penari bersebutan masing masing. Ada batak, endel, apit, gulu, dan bucit. Tarian ini akan ditarikan selama satu setengah jam. Semua orang yang ada di pendopo ikut serta. Bukan hanya sebagai penonton. Mereka sama sama terlibat bermeditasi pada Tuhan.
Ada dua versi tentang sejarah tarian Bedhaya Ketawang ini. Ada yang menceritakan bahwa tarian ini tercipta dari semedinya Raja Mataram dulu. Kemudian beliau mendengar suara dari langit dalam bahasa jawa disebut tawang. Beliau pun menciptakan sendiri tarian ini. Versi kedua adalah tarian ini adalah wujud kisah cinta Raja pada Ratu Pantai Selatan.
Aku menari seirama dan seiring. Ditengah tarian, suara sinden yang bernyanyi berarti kurang lebih menceritakan bahwa Ratu Pantai Selatan akan selalu setia, walaupun sudah berkali kali Sultan memperistri orang lain. Aku teringat kisah cintaku sendiri....apa Farel akan setia? Apa Farel jodohku? Siapa dia yang akan menemaniku hingga akhir hayat. Yang setia padaku tanpa perlu aku meragukannya?? Tapi.... sikap Farel akhir akhir ini membuatku bersedih. Aku berharap Farel berubah seperti dulu. Dan kisah cinta kami berakhir bahagia.
Di akhir tembang, yang juga mengakhiri tarian, aku melihat Vano tersenyum manis berdiri di luar pendopo. Dengan seragam jas polisi hitam lekat ditubuhnya. Mustahil ada dia..... semua orang di pendopo ini menggunakan beskap untuk laki laki. Aku mengerjabkan mataku. Bayangan Vano menghilang. Benar, semuanya hanya khayalanku saja. Atau.... ini sebuah pertanda atas pertanyaanku saat menari? Tidakk..... apa jodohku benar Vano? Lelaki menyebalkan itu???
***
Aku kembali ke kampus. Dosenku dengan bangga mengumumkan bahwa aku baru saja menarikan tarian sakral Bedhaya Ketawang. Teman temanku memberi selamat dan turut bangga.
"Gak ada makan makan gitu?" tanya Nita saat kami usai kelas menuju parkiran.
__ADS_1
"Minta aja sama pacarmu," jawabku sambil tertawa.