
Esoknya Nita heboh meneleponku. Dia baru tahu kejadian yang aku alami dari penghuni kos lain. Nita benar benar shock.
"Astaga Lala apa yang terjadi benarkah Lola...... astaga aku gak percaya ini. Sungguhan!!!" kata Nita sambil terisak. Kami akhirnya janjian ketemu. Nita ingin tahu cerita sebenarnya. Aku share lokasi rumah Vano. Nita bilang dia otw kesini. Tak lama dia datang. Kami langsung berpelukan sambil menangis. Kuceritakan apa yang terjadi. Termasuk pernikahan paksaku dengan Vano.
"Serius kamu udah jadi istri orang? Mas Vano itu bukankah seorang polisi? Kamu jadi ibu bhayangkari dong," kata Nita berbinar. Aku justru menghembuskan nafas kasar. Tahu benar betapa tidak enaknya menyandang setatus ibu Bhayangkari itu.
"Mamaku seorang ibu bhayangkari Nit, tapi ia justru harus lebih mandiri dari pada istri orang lain," kataku.
"Kenapa?" tanya Nita heran. Aku menghela nafas sebentar.
"Mamaku harus setiap saat ketar ketir tiap papa bertugas. Tak jarang melepas papa sehat bugar, pulang dalam kedaan terluka. Mama juga hampir mengurus anaknya sendiri. Beruntung dulu ada mbah kung yang ikut mengurus. Aku dan Hector juga tidak kehilangan sosok ayah. Mbahku yang menggantikannya. Sampai sekarang kedekatanku dengan papa sangat minim. Aku tahu papa sayang, tapi aku tidak terlalu mengenalnya. Dan...... dia justru menyerahkanku pada seorang yang selalu bermusuhan denganku. Huft...... aku marah beneran sama papa kali ini Nit," kataku mengakhiri kisah. Nita menepuk pundakku.
"Semangat La, aku rasa gak ada orang tua yang menjerumuskan anaknya. Nurut saja. Masih ada orang tua yang memerintahmu, berarti mereka masih ada didunia," kata Nita getir. Dia cerita kalau ditinggal ayahnya setelah bercerai dari ibunya. Hidup berdua dengan ibunya. Kemudian sang ibu meningal saat dia kelas dua SMA. Sejak saat itu Nita pontang panting cari duit sendiri untuk hidupnya.
"Papaku emang masih ada, tapi udah lupa punya anak aku. Jadilah seperti ini aku sekarang. Menjadi simpanan untuk menyambung hidup. Air mata leleh dimata Nita. Aku baru ini tahu kisah hidup Nita. Sebelumnya dia terlihat happy dan tidak pernah menceritakan orang tuanya. Kami berpelukan lagi saling memberi semangat untuk kisah hidup kami masing masing.
***
Kami ngerumpi sampai siang. Perut udah keroncongan minta diisi. Nita menuju meja makan mini Vano.
"Ini kamu yang masak? cieehhh udah belajar jadi istri rupanya," goda Nita padaku.
"Itu Vano yang masak, aku cuma beban hidup disini. Biarin deh, salah sendiri nerima aku jadi istri. Aku mau bikin dia menyesal memperistri aku," kataku bersemangat. Nita tertawa ngakak.
__ADS_1
"Gak ada salahnya mencoba mencintai Vano La, dia juga lebih baik kan dari pada Farel? pekerjaan mapan, ganteng iya, terlihat sayang kamu iya banget. Cuma orang buta yang gak tahu Vano cinta kamu," kata Nita. Aku cuma mencibir.
Akhirnya aku mentraktir Nita makan dekat kantornya Vano. Ada menu seger segeran disana ya lotek, gado gado, soto juga ada. pokoknya cocok buat makan siang. Rumah Vano emang gak jauh dari kantornya. Kami memesan dua menu dan dua cangkir es jeruk segar. Suasana warung cukup ramai, karena ini jam makan siang.
Vano terlihat masuk warung dengan dua orang temannya. Celingkuan cari tempat duduk. Satu temannya menuju kearah kami. Aku langsung menghela nafas. Vano duduk di hadapanku dalam diam. Nita ngobrol sama dua teman Vano. Langsung akrab saja.
"Masih kuliah Dik?" tanya teman Vano.
"Iya Mas kami kuliah jurusan seni tari. Mas mas ini polisi dari polsek B?" tanya Nita. Seorang di depan NIta menganguk. Bilang kalau mereka dibagian kriminal umum. Vano masih bungkam sambil menatapku. Kami bredua cuma penyimak obrolan Nita dan dua temannya.
"Namanya siapa?" tanya teman Vano yang duduk ditengah.
"Aku Nita dan dia Lala, Mas namanya siapa?" tanya Nita sudah keluar mode centilnya.
"Makan duluan yaa Mas polisi ganteng," kata NIta sambil mengedipkan mata. Dua polisi itu langsung senyum senyum gak jelas.
"Dik Nita berapa nomernya? boleh saya simpan?" tanya Hiro sudah mengeluarkan hpnya. Nita dengan centil menyebutkan nomernya. Vano mengambil kerupuk dari piringku. Temannya yang ditengah langsung kaget.
"Kalau Dik Lala berapa nomernya?" tanya Hiro lagi. Temannya yang ditengah langsung menyikut Hiro, yang disikut belum nyadar.
"Dik Lala gak mau kenalan lebih dekat sama kami? Kami polisi lho, pembela kebenaran dan keadilan," rayu Hiro masih mematung memegangi hpnya.
"Kalau mau kenalan sama Lala bisa lewat aku Ro, nanti datang ke rumahkku. Sini aku suapin, kamu makannya lama," kata Vano mengambil alih piring dan sendokku. menggantung sendok tepat di depan mulutku. Dua orang temannya shok.
__ADS_1
"Dia... calon istrimu No?" tanya Andi.
"Istri siriku untuk sekarang," Kata Vano sambil sibuk terus terusan menyumpal mulutku dengan makanan. Agar aku gak mengeluarkan suara protes.
"Udah nikah siri?" dua temannya kaget. Vano mengangguk cepat. Dia juga memakan lotekku. kami berbagi piring dan sendok didepan dua temannya dan Nita. Ketiga orang itu menatap kami dengan pandangan so sweet. Aku cuma bisa menatap sebal kearah Vano.
"Makanan datang," kata pramusaji dengan ceria. Dia juga kaget Vano menyuapi aku.
"Pacarnya Mas?" tanya pramusaji terlihat tidak suka menatapku.
"Bukan, tapi istriku," kata Vano. Pramusaji itu mengangguk dan pergi cepat bahkan meninggalkan makanan dan minuman tanpa menoleh lagi.
"Patah hati dia," kata Andi.
"Ow, punya pemuja ya!!" kataku sambil menolak suapan Vano. mengambil allih sendok dari tangannya dan menggeser piringku sendiri. Kok aku tiba tiba kesel ya??
"Banyak Mbak, kalau cuma cewek yang naksir Vano banyak, mulai dari penjual gado gado sampai polwan. Siapa yang gak terpesona sama ketampanan Ipda Vano yang gagah?" kata Andi kaya seles obat jamur muji muji Vano. Aku tambah sebel sama Vano. Rasanya mau marah banget sama dia.
"Gak usah cemburu, aku lho udah nyiapin berkas kita nikah," kata Vano sambil asik memakan sotonya. Tambah sebel lah aku dengan gayanya yang sok cool.
"Emang siapa yang cemburu? Sok GR deh!" kataku nyolot. Nita malah ketawa ngakak. Langsung kuberi tatapan maut. Dua teman Vano terlihat heran dengan interaksi aku dan Vano.
"Iya iya gak cemburu. Udah dihabisin makanannya. Pulang dan tidur siang. jangan lupa berdoa sebelum tidur," Kata Vano santai seolah ngomong sama anak kecil. Aku tambah gedeg banget sumpah!
__ADS_1