Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Dunia perkuliahan


__ADS_3

Hari hariku sebagai maba dimulai. Aku punya kenalan baru. Anita namanya. Asal Jawa Timur. Anaknya cantik, ceplas ceplos dan sedikit gila. Haaaaa mungkin langsung klik denganku gara gara sama gilanya. Kami baru selesai kelas alat musik tradisional. Kelas terakhir minggu ini.


"Kamu pulang minggu ini?" tanya Anita.


"Iya, nanti bareng Farel. Dia jemput di kosan," jawabku sambil berjalan menuju parkiran.


"Enak ya, kuliah sama pacar di kota yang sama. Asal kota yang sama lagi. Tinggal lamarannya aja kapan," kata Anita. Aku cuma nyengir. Baru juga masuk kuliah. Belum menghasilkan apapun. Gak ada kepikiran mau nikah.


"Kamu juga mau pulang Nit?" tanyaku balik. Dia menggeleng. Aku mau di kosan aja. Pacarku datang," jawabnya. Kami pisah di parkiran. Ambil motor masing masing.


Farel sudah menungguku di rung tamu. Senyum senyum saat aku datang.


"Aku kemas kemas sebentar ya," kataku sambil berlari menaiki tangga. Aku ganti baju dan memasukkan beberapa peelengkapan pribadi. Cuss pulang bareng Farel. Begitulah kegiatanku selama dua bulan ini. Senin sampai Jumat kuliah, Sabtu Minggu pulang bareng Farel. Berangkat lagi Senin pagi dari kotaku.


"Gak pingin pindah kos La? Yang agak bebas gitu," kata Farel di jalan.


"Bebas gimana?" tanyaku gak ngerti bukannya kos yang ini gak ada jam malam.


"Yang bebas aku bisa ke kamar kamu dong. Yang gak di awasi cctv setiap menit," kata Farel. Aku tertawa. Rupanya dia mau main ke kamar aku.


"Mainnya ke kamar yang di rumah aja Rel, sama sama kamar kok," kataku sambil nyekikik. Dia menepuk lututku.


"Bisa mati aku di gorok papamu. Main sampai kamar dirumah," kata Farel. aku nyekikik lagi. Farel emang paling takut sama Papa. Semua orang juga sih. Hihihi...


Tapi sebenarnya aku juga agak gabut di kosku ini. Terlalu sepi. Kalau pulang kuliah gak ada tetangga kos yang mau keluar. Aku jadi sering gabut sendirian.


Kami sampai dua jam kemudian. Disambut Mbah Mar saja. Mama sama Hector belum pulang.


"Mbak Lala makin cantik aja. Lama lama kaya mama dulu deh cantiknya," kata Mbah Marni. Banyak keluarga yang bilang gitu. Katanya aku ini foto copy dari mama. Entah postur tubuh, sampai wajah. Akan tetapi katanya mama dulu lebih berisi. Dan aku terlalu krempeng. Hahahaha. Gayaku juga beda dengan mama. Kalau mama suka dengan rambut ikalnya, aku justru meluruskan rambutku sekarang. Supaya enak ditata saat menari.


"Iya dong anaknya siapa dulu.... pasti cantik," Papa nyahut.

__ADS_1


"Papa pulang?" kataku langsung memluknya. Kami berpelukan lama. Papaku ini masih kekar, walaupun rambutnya sudah memutih semua.


Papa menanggapi ocehanku tentang kuliah.


"Enak Pa, kalau di SMK dulu surganya para penyuka seni, di kampusku ini surga ketujuhnya. Kami bisa berekspresi sebebas bebasnya. Didukung, diberi wadah," jelasku berapi api. Papa manggut manggut sambil sesekali menanggapi ceritaku.


Kami ngobrol sampai Hector pulang. Dan terjadilah perebutan entah apapun itu antara Hector dan aku.


"Udah.... udah... astaga Papa kangen mama kalian. Papa kira, Papa punya dua anak yang udah mahasiswi dan SMA. Tapi kenapa masih berebut kaya anak SD?" Papa frustasi. Mama tertawa ngakak sambil masuk rumah.


"Itu cara mereka saling mencintai Mamas," kata Mama sambil mencium aku dan Papa. Hector gak pernah mau dicium siapa pun.


Minggu siang aku disuruh Mama nganter kue ke rumah Farel.


"Tante Ine suka dengan brownies ini. Bilang sama dia nanti arisan ibu ibu Bhayangkari. Gak boleh telat dan harus hadir. Mama akan menyeret dia kalau terus absen," kata Mama sambil meletakkan sekotak kue di tanganku. Aku manggut manggut berjalan kerumah Farel.


Sungguh, aku gak mau dengar ini, tapi kedengeran sama aku yang di depan pintu.


"Kalau kamu gak sukses, jangan harap bisa menikahi Lala. Keluarganya itu sudah seperti saudara. Mau menyaingi usaha mereka kita gak mungkin. Satu satunya jalan ya jadi polisi. Agar gak malu maluin banget kita jadi besan!" Om Nando berkata sambil berapi api. Aku mundur beberapa langkah. Selama ini aku gak tahu kalau Om Nando gak pede dekat dengan keluargaku.


"Mbak Lala....ngapain berdiri disitu?" tanya Tiwi mengagetkanku. Bocah itu menuntun sepeda masuk rumah. Perdebatan di dalam rumah berhenti. Aku segera menyerahkan brownies pada Tante Ine dan kabur.


***


Dua minggu berlalu.....


"Nit, ada kos kosong gak ditempatmu?" tanyaku pada Anita. Aku benar benar gabut di kosanku. Gak ada yang bisa diajak berteman. Terlalu kalem. Pagi kuliah, sore atau malam mereka datang. Masuk kamar gak keluar lagi sampai pagi.


"Emmm kayaknya bulan depan ada. Napa mau pindah?" tanya Anita. Aku manggut manggut. Kujelaskan kalau kos yang ini terlalu sepi.


"Tempatku malah asik asik. Tiap malem kita ngumpul. Kebanyakan sih satu angkatan. Tempatmu berisi mahasiswi senior kali. Kalau udah semester banyak emang gitu kan. Sibuk. Apalagi kalau jurusan tari," kata Anita. Aku semakin semangat buat pindah kekosan Nita. Walau kosannya sederhana tanpa kamar mandi dalam. Udahlah gak papa. Yang penting aku punya teman ngobrol kalau disini.

__ADS_1


"Gak! Gak usah pindah kos segala. Papamu pasti punya alsan kenapa milih kost disitu. Kalau kesepian ya main aja ketempat kos temanmu. Atau telepon Mama tiap malam juga boleh," kata Mama ditelepon. Aku langsung manyun. Ada pesan masuk. Dari Farel. Dia menunggu di warmindo depan.


"Ya udah Ma, aku mau cari makan dulu," kataku mengahkiri panggilan. Apess... gak dapat ijin mama.


"Kata Nita bulan depan ada yang kosong, tapi Mama gak kasih ijin," curhatku pada Farel. Seperti biasa kami makan malam di depan kosanku.


"Ya udah pindah diem diem aja nanti aku bantuin. Mamamu juga pasti gak tahu," Farel ngasih solusi. Mataku langsung berbinar.


"Tapi pasti suasana kamarnya beda Rel, mama pasti tahu." kataku memikirkan kemungkinan kalau Mama video call.


"Bilang aja pindah kamar lantai satu. Cat kamarnya beda. Mamamu kemarin gak ngecek kamar lantai satu kan?" lagi lagi Farel memberi solusi cerdas. Aku langsung girang.


"Janji gak bocorin?" kataku.


"Iya janji," kata Farel sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Aku tersenyum dan menautkan jari kami. Janji yang entah dimulai dari kapan. Janji tidak terbantahkan antara aku dan Farel.


Farel mengajakku jalan jalan. Mampir di cafe gaul agak jauh dari kampusku. Akan tetapi dekat dengan kampus Farel.


"Enak disini, suasananya lebih enak," pujiku. Kampus Farel berada di tengah kota ini. Kampusku berada sedikit pelosok.


"Iya dong. Mau mampir kosku?" tanya Farel.


"Aku boleh mampir?" tanyaku heran.


"Nginep juga boleh," kata Farel.


Aku mampir kosnya Farel. Ternyata kosannya bebas sopan. Bahasa gaulnya las vegas kalau gak salah. Kosan umum dengan kebanyakan mereka yang tinggal dengan pacar.


"Kamu gak dimarahin bunda milih kos kayak gini?" tanyaku. Farel geleng geleng.


"Ngapain dimarahin. Aku kesini sendiri kok kemarin. Gak usah serombongan kaya kamu," ejek Farel. Dia memang sering mengejek momen cari kosan ku yang bisa dibilang lebay. Hihihihi. Aku nyengir saja. Mengamati kamarnya yang berantakan.

__ADS_1


Perhatianku tertuju pada benda kecil yang tergeletak diatas meja. Benda pipih berwarna merah. Yang setahuku adalah alat kontrasepsi.


"Ini apa Rel?" tanyaku sambil mengambil benda itu.


__ADS_2