Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Farel berubah


__ADS_3

Aku menghubungi Farel saat kelas berakhir sore itu.


"Iya Sayang," sapa Farel di ujung sana.


"Gimana punya kabar? Kamu beneran gak pulang selama libur semester?" tanyaku.


"Gak, aku liburan disini. Kamu udah balik kos?" tanyanya.


"Udah dong, ini udah selesai kelas. Tinggal balik. Nanti datang kekosan kan? Ada titipan dari tante Ine. Gimana kabar orang yang kamu tabrak?" tanyaku.


"Baik, semua udah membaik. Iya nanti aku mampir kos kamu. Kangen sama pacarku yang cantik," rayu Farel membuatku ngakak.


"Iya pacarku yang ganteng.... sampai ketemu di kosan yak, luph yu," kataku. Aku menutup teleponku. Sudah sampai di depan vespa kesayangan.


"Pacarmu anak mana?" suara Riko mengagetkanku. Dia sudah ada di belakangku.


"Kak Riko!!! Bikin kaget aja!" kataku sambil ngelus dada. Sore dengan suasana syahdu begini malah dikagetin. Riko tersenyum. Duduk di jog depan vespaku.


"Anak mana dia?" tanyanya lagi.


"Anak Solo kuliah di UG," jawabku. Riko manggut manggut. Belum punya rencana minggir dari motorku.


"Kak aku mau pulang, minggir yaa," pintaku halus.


"Gak, aku mau main ke kosmu. Mana kuncinya aku boncengin," kata Riko sambil menengadahkan tangan. Aku menggeleng.


"Aku mau tidur Kak, capek," tolakku. Dia tidak bergeming. Samtai masih ngeyel duduk di vespa.


"Kak plis deh aku gak suka di paksaa!!" Kataku sambil ngegas. Beberapa siswa sudah menoleh kearah kami. Riko tersenyum.


"Oke, kali ini saja. Lain kali aku juga gak suka ditolak," kata Riko sambil beranjak. Bodo amatlah.


Aku sampai kosan, Farel udah disana. Ngobrol sama Nita dan Lola.


"Weee ini nih yang lagi gencar dikejar kejar senior," Nita nyablak. Farel langsung melotot.

__ADS_1


"Siapa? Kamu dikejar kejar senior? Awas yaaa aku gak suka!!" kata Farel dengan muka merah padam.


"Eh, aduh gak gitu Rel. Aku juga gak nanggepin kok," jawabku. Farel masih gak percaya. Dia menarik tanganku masuk kamar. Menutup pintu kamar. Memepetkan tubuhku ditembok kamar. Tangannya mencekik leherku.


"Rrrrreeeellll," aku berusaha meronta.


"Ingat baik baik. Catat lekat dalam pikiranmu Laaa, Lala sayang. Kamu punya aku. Selamanya cuma punya aku. Gak ada yang boleh deket atau menyentuh kamu..... ngerti???" bisiknya masih sambil mencekik leherku. Aku berusaha melepaskannya. Aku mulai pusing.


"Ngerti gak!!!" bentak Farel. Aku mengangguk pelan. Dia melepaskan cekikannya. Aku merosot terduduk dan batuk batuk.


Hening beberapa saat....


Farel mengambilkan aku minum saat aku masih mengatur nafas. Mukanya sudah tidak emosi.


"Maaf, aku cemburu banget kalau kamu deket sama cowok lain La," kata Farel sambil mengelus rambutku. Aku diam. Lama aku diam kemudian menyerahkan bungkusan titipan Tante Ine.


"Dari tante, buat kamu," kataku sambil beranjak keluar kamar. Tidak menghiraukan permintaan maaf Farel.


"Ada yang salah?" tanya Nita saat aku keluar kamar. Mungkin mukaku masih terlihat shok. Ini adalah kekerasan pertama yang aku alami seumur hidupku. Aku diam. Farel merangkul pinggangku.


"Hanya kesalah pahaman yang sudah diselsaikan," jawab Farel sambil mengeratkan pelukannya. Aku mengamati Farel sejenak. Dia tersenyum dan berusaha mencium bibirku. Aku menghindar.


Selesai mandi hari sudah magrib. Farel rebahan dikamarku sambil menyeduh teh. Dia juga sudah membuka kardus makanan dari mama. Aku diam saja masuk kamar. Menyisir rambutku yang mulai bergelombang. Aku harus meluruskannya lagi kalau ada waktu. Farel memelukku dari belakang.


"Aku minta maaf La, maafkan aku. Aku cuma cemburu sekali kalau denger kamu sama cowok lain," jelas Farel sambil menciumi pundakku. Aku menghela nafas panjang.


"Gak papa, aku maafin," jawabku. Farel tersenyum. Memandangiku dari cermin yang memantulkan wajah kami berdua.


"Aku sayang kamu La," katanya lagi. Aku mengangguk berbalik menghadap Farel.


"Mau makan apa?" tanyaku. Kami membahas menu makan malam kali ini. Suasana mencair..... kami akrab lagi. Farel itu sahabat, teman, dan kekasih. Aku memaafkannya untuk kesalahan kecil. Tidak masalah. Dia mungkin terlalu cinta jadi bersikap seperti itu.


***


Minggu minggu sibuk kualami. Sibuk bolak balik kotaku dan kampus minimal lima kali sebulan. Sibuk juga dengan tugas kuliah yang makin padat. Tugasku tidak bisa dikerjakan duduk. Tugasnya kebanyakan menari. Harus hapal dan kompak dengan teman satu tim tari. Perkuliahan emang cuma sampai jam 5 sore paling lambat. Tapi kadang kami harus latihan tari sepulang jam kampus.

__ADS_1


Beberapa kali bertemu Rico yang makin lama makin agresif. Sekarang fokusnya bukan hanya dekat denganku, tapi menggangguku, bahkan membully ku karena dianggap terlalu kaku.


"Aku cuma ngajak berteman, gak lebih. Tapi kamu seolah aku ngejar ngejar kamu. Dasar sok cantik," katanya pedas suatu hari karena aku menolak traktiran makan siangnya. Haa teman??? Dia pikir mataku buta? Sorot matanya saja seperti akan menelanku bulat bulat. Dia pikir aku bocah SMP yang mudah dikibuli.


***


"Kemana lagi!!!!" teriak Farel diujung sambungan telpon. Akhir akhir ini dia emang suka ngamuk karena jarang ada waktu denganku.


"Aku masih ada di kampus Rel, ini mau pulang. Kamu tunggu sebentar dikos yaa... gak lama," kataku sambil terburu buru menuju parkiran. Karena fokus cepat sampai aku justru menubruk Rico yang belum pulang. Dia memegangi lenganku yang akan terjungkal.


"Aku sebenarnya males nolongin kamu, tapi mau gimana lagi. Sesama manusia harus saling tolong menolong," kata Rico sambil lekat menatap dadaku yang basah karena latihan tari. Juga kaosnya yang sedikit rendah lehernya.


"Sebagai sesama manusia kamu harus bisa jaga matamu," jawabku angkuh sebelum tancap gas pergi.


Sampai Kos suasana sepi. Farel menunggu didepan pintu kamar. Mukanya merah padam. Matanya nyala menatap kedatanganku. Entah benar atau perasaanku. Aku seperti sudah tidak mengenali Farel lagi. Apalagi kalau sudah marah seperti ini.


"Dari mana kamu!!! Selingkuh yaa!!" bentaknya sambil mencengkeram kaos depanku. Tubuhku langsung terangkat. Dia langsung menampar pipiku sampai aku terpelanting di lantai. Air mata langsung deras menetes. Hening....


"Lala..... sorry sorry..." kata Farel berusaha memelukku. Aku menangkis tangannya. Balik menamparnya cukup keras. Dia diam saja. Aku cepat berdiri dan masuk kamar.


Dia mengganjal pintu kamarku dengan tangannya. Menarik tanganku dengan cepat dan memelukku erat. Aku berusaha lepas. Akan tetapi tubuhku terlalu mungil dalam kungkungannya.


"Sorry Laa.... sorry.... aku kebawa emosi tadi. Maaf.... maaf banget. Apa sakit?" tanyanya sambil mengelus pipiku bekas tamparannya. Aku diam saja dalam pelukkannya yang erat. Lola dan Anita datang dari gerbang. Mereka nyengir lihat aku pelukan di depan kamar kos.


Aku langsung mendorong tubuh Farel.


"Aduh, bikin iri saja," komen Anita. Farel memandangi dua temanku. Aku menggunakan kesempatan itu untuk menarik handuk, dan pergi kekamar mandi.


Farel masih menungguku di kamar.


"Lala aku minta maaf," katanya sambil memegangi tanganku. Aku diam. Mengoleskan lotions dan krim di wajahku. Pipiku agak bengkak bekas tamparannya.


"Lala aku janji ini jadi yang terakhir. Aku kangen banget sama kamu. Langsung berfikir kamu pasti selingkuh. Kita jarang ketemu walaupun ada di kota yang sama. Itu menyakitkan," kata Farel mengiba.


"Kau janji tidak akan mengulanginya lagi? Aku tidak pernah ditampar siapa pun. Kalau kau melakukannya lagi. Aku akan visum. Kau tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Papaku magister jurusan hukum dan pensiunan polisi. Aku yakin beliau tidak akan terima anaknya ditampar," kataku sambil tajam menatap Farel. Dia selalu takut berhubungan dengan Papa. Farel mengangguk patuh.

__ADS_1


"Janji," katanya singkat. Aku mengangkat jari kelingkingku. Dia menautkan jari kelingkingnya. Seperti janji kita dulu saat masih kanak kanak.


Aku merasa..... Farel yang sekarang bukan Farel yang dulu. Jika aku membandingkan farel semasa SMP dan Farel sekarang seperti dua orang yang berbeda..... Tapi bukankah waktu merubah semua orang? Kami tentu saja berubah.


__ADS_2