
Papa menerima surat itu dari Vano membacanya sekilas. Mama sudah merangkul pundakku secara posesif.
"Pembunuhan di kos Jalan Manggis? Lala kost di jalan Rambutan. Banyak cctv dikosan itu. Kau bisa memeriksanya. Aku yakin Lala tidak mungkin terlibat pembunuhan," kata Papa mengeluarkan garangnya. Matanya lekat menatap Vano. Ada sedikit kemarahan terselip. Papa bahkan hafal nama jalan kosku yang lama, padahal beliau cuma datang sekali kesana.
"Tanya anak anda juga adiknya. Lala kos dijalan Manggis sekarang," kata Vano. Aku sudah mengigil padahal ini gak dingin. Pembunuhan? Pembunuhan siapa? Papa tajam memandangku.
"Kamu pindah kos La?" tanya Papa. Aku mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Di jalan Manggis?" tanya Papa lagi memastikan. Aku mengangguk lagi.
"Sesuai prosedur yang ada, kami harus membawa Lala untuk dimintai keterangan," kata Vano.
"Tapi pembunuhan siapa? Siapa yang terbunuh?" tanyaku. Vano terdiam. Memandangiku sesaat.
"Kamu pasti salah Kak, kamu tahu sendiri betapa bodohnya dia? Kenapa sampai dituduh terlibat pembunuhan?" kata Hactor membelaku.
Langsung hebohlah rumahku. Aku pusing. Otakku terlalu kaget memerima semua informasi dadakan ini. Papa mengorek informasi dari Vano, tapi Vano kekeh lebih baik dijelaskan dikantor. Suasana semakin heboh saat keluarga Om Nando datang. Ternyata korban dari pembunuhan yang disangkakan padaku adalah Farel!! Farel???? Jadi yang meninggal Farel? Dan dibunuh???? Tidakk.... Kami shock dan tidak mengerti.
"Ipda Vano, tolong jelaskan pada kami semua!" perintah Om Nando tubuhnya sudah gemetar hebat.
"Kenapa kalian bawa keluarga korban kesini!!!" bentak Vano pada dua polisi yang mengiringi keluarga Farel.
"Maaf Pak, mereka langsung kesini saat tahu Saudara Farel ditemukan tewas di kamar kos seorang wanita," jawab teman polisi Vano.
Suasana semakin gaduh dan membingungkan. Kami semua disuruh duduk diruang tamu sama Vano. Dia menarik nafas sebelum memulai cerita.
"Ini berawal dari laporan penghuni kos yang melihat ceceran darah disebuah kamar kos..." Vano mengawali kisah.
Ceceran darah itu ternyata berada di lantai depan kamarku. Lola dan beberapa penghuni kos lain ketakutan dan lapor polisi. Setelah didobrak ternyata ditemukan jasad Farel di dalam kamarku.
__ADS_1
"Karena itu saya harus membawa Nona Vanila sebagai pemilik kamar untuk dimintai keterangan. Juga Bapak atau Ibu dari Almarhum Farel untuk mengidentifikasi jenazah," kata Vano menatap satu satu kearah kami. Tante Ine lemas, tubuhnya merosot. Dipegangi Om Nando dan Hector. Kepalaku semakin pusing. Bumi yang kupijak serasa berputar. Mama semakin erat memelukku. Mataku tidak bisa fokus lagi. Aku lemas tak bertenaga.
Akhirnya kami berangkat dengan dua mobil. Aku di mobil Vano bersama Papa dan anggota kepolisian lain. Mama, Hector, Tante Ine, Tiwi, dan Om Nando satu mobil dibelakang mobil Vano.
"Kamu hanya akan dimintai keterangan. Papa akan bertindak sebagai pendampingmu sebelum pengacaramu datang. Cobalah untuk tenang dan kooperatif," bisik Papa padaku di mobil. Aku diam bingung mencerna kata kata Papa.
Yang ada dipikiranku adalah Farel. Dia meninggal? Dalam kamar kosku? Kok bisa?? Aku teringat kilas kejadian terakhir bertemu dengannya. Pertengkaran kami.... kemudian.... aku yang memukulnya dengan sapu. Darah yang keluar dari pelipisnya...... tidak.... Apa pukulanku membunuhnya???? Tapi dia masih sempat berlari mengejarku. Aku yakin itu. Mungkinkah dia kesakitan kemudian meninggal??? Tidak..... Tidak..... Apa benar aku pembunuh Farel....
Papa erat memelukku.
"Tenanglah La..... tenang sedikit....." kata Papa sembil menegangi kedua tanganku. Tanpa aku sadari aku terus menjambak rambutku sendiri. Vano yang duduk di jog depan mengulurkan minum. Papa menerimanya dan memaksaku meminumnya.
"Jujur padaku No, apa status Lala?" tanya Papa pada Vano. Yang ditanya menghembus nafas kasar.
"Saya harus jujur Pak? Anda tahu ini tidak diperbolehkan, tapi saya akan katakan......" hening sejenak.
"Aku mau tahu kronologinya lengkap. Mana mungkin anaku membunuh," kata Papa entah pada siapa.
"Saya akan bekerja keras menyelidikinya Pak. Secara pribadi saya juga tidak percaya Lala pelakunya, namun ada barang bukti juga yang memberatkan Lala," kata Vano.
Selanjutnya hanya keheningan. Entah apa yang dipikirkan Papa. Yang ada di kepalaku hanya Farel, Farel dan Farel....
***
Kami tiba di kantor polisi. Terjadi perdebatan panjang antara Papa dan Vano. Papa meminta untuk menemaniku.
"Aku magister hukum, biarkan aku mendampingi Lala. Pengacaranya masih dijalan," kata Papa.
"Hanya tertinggal sekitar empat puluh lima menit dibelakang kita, kalau papanya gak boleh, biar aku yang menemani Lala," kata Mama gak mau kalah.
__ADS_1
"Saya tahu, anda magister hukum dan Tante Putri seorang sarjana hukum, tapi dua duanya bukan pengacara," kata Vano sambil menggenggam erat tanganku. Papa belum mau melepas tanganku. Terjadi tarik tarikan tanganku antara Vano dan Papa.
"Anda tahu benar aturannya Pak, maaf saya tidak akan mengijinkannya. Ini juga bukti bahwa didikan anda saya jalankan dengan benar. Percaya pada saya. Lala akan baik baik saja," jelas Vano. Mama langsung memelukku sesaat.
Aku ditarik Vano masuk ruangan. Peganganku pada tangan Papa semakin erat. Papa berusaha melepaskanku.
"Papa akan tunggu disini Nak, Papa tidak akan kemanapun. Jangan khawatir," kata Papa. Aku menggeleng.
"Aku mau sama Papa," rengekku. Vano semakin erat menarikku ke dalam ruangan.
"Ikut denganku sebentar La... mohon kerja samanya, kau juga aman bersamaku," kata Vano. Pegangan tanganku pada Papa pun terlepas.
Aku terus dibawa kedalam. Vano terus menarikku kedalam. Bersama dengan dua polwan yang mengikuti kami.
"Duduk disini, aku kembali sebentar lagi," kata Vano menuntunku duduk di ruangan kotak tanpa jendela. Ruangan yang dingin dan angkuh. Aku ketakutan. Lama sekali aku duduk. Bosan duduk aku mondar mandir mengelilingi ruangan itu. Cermin yang terpasang membuat aku tidak nyaman. Cermin itu jelas cermin satu arah. Aku seperti hewan buruan yang sedang diawasi predator.
Vano datang dengan beberapa berkas. Duduk diam di depanku sambil memandangiku lama.
"Apa aku bisa keluar sekarang?" tanyaku. Dia tersenyum.
"Bisa, setelah kau ceritakan apa yang terjadi. Tapi tunggu dulu sebentar. Pengacaramu belum datang," kata Vano.
"Apa benar Farel meninggal?? Kkkkeeenapa meninggal? Siapa yang tega melakukan ini? Lalu bagaimana aku bisa hidup Noooo..... Farel itu seperti saudara bagiku...." kataku sambil terisak. Vano menarik tanganku dari rambutku.
"Tenanglah Po tenang sedikit. Aku ambilkan minum sebentar." kata Vano beranjak lagi. Kembali dengan satu botol minum. Dia membukanya dan menyerahkan padaku. Aku meminumnya sedikit.
"Dia masih hidup saat kutinggalkan. Kami memang sempat bertengkar. Dia tahu semuanya No, bahkan ciuman kita." kataku pada Vano. Dia terlihat salah tingkah. Melirik cctv diatas kami.
"Kau terlalu jujur Po, ahhh sudah... Biarkan saja," kata Vano.
__ADS_1