
Motor mulai berkelok mengikuti jalan. Restoran itu memang berada di ketinggian. Cukup viral beberapa minggu belakangan. Tiba tiba aku merasa motornya oleng. Vano pun berusaha mengendalikan laju. Aku takut reflek memeluk tubuhnya. Dia berhasil menepi. Menumpu pada kedua kakinya mematung.
"Kenapa diem kaya patung!!" kataku nyolot.
"Lha kamu meluk seerat ini apa aku bisa bergerak?" tanya Vano balik. Aku baru sadar aku masih memeluknya dengan erat. Segera kulepas dan turun dari motor.
"Bannya kempes La, kena paku ini," kata Vano sambil mengetuk ban belakang motornya.
"Haduuuhh gimana ini. Udah lewat magrib. Mana ada tambal ban buka?" aku mulai panik. Udara mulai dingin, padahal aku udah pakai kaos lengan panjang dan celana trening khas nari.
"Kita nitip motor aja sama warung depan. Besok aku yang urus," kata Vano sambil menuntun motornya ke warung depan yang mau tutup. Warung tepi jalan yang menjual kopi, mie rebus, dan makanan khas ketinggian lainnya.
Vano berbicara sebentar pada pemilik warung. Pemilik warung pun setuju setelah Vano mengeluarkan uang parkir banyak. Sebagai jasa penitipan motornya.
"Kita tunggu jemputan ayahku disini. Gak akan lama," katanya sambil duduk di emper warung. Aku ikut duduk di sebelahnya.
Vano menghubungi ayahnya dan menjelaskan apa yang terjadi. Pemilik warung keluar dengan dua cangkir kopi susu.
"Saya tutup warungnya ya Mas, Mbak. Besok saya buka pagi jam 8," jelas pemilik warung sambil menyerahkan kopi.
"Makasih Bu," jawab Vano ramah.
Dia membuka jaketnya dan menyampirkannya di pundakku.
"Pakailah, aku lebih kuat menahan dingin daripada kamu," kata Vano. Aku menoleh kearahnya.
"Tumben pengertian," jawabku sambil memasukkan tanganku kejaket itu. Dia tersenyum. Hening....
"Kamu serius pacaran sama bocah lemah itu?" tanya Vano ditengah keheningan. Kami sibuk memegang gelas kopi hangat di tangan kami. Sambil memyeruputnya sesekali.
"Kok lemah?" tanyaku gak terima.
"Lemah lah. Dia itu cemen tau." Vano sok tau.
"Halah, kamu aja yang cemburu Noo. Pakai ngatain Farel lemah," jawabku skak mat. Aku mengamati wajahnya. Mencari ekspresi apa yang timbul.
__ADS_1
Dia tersenyum. Memandangku dengan matanya yang dalam. Wajahnya itu mirip robot. Hidung simetris mirip prosotan. Bibirnya tipis dengan rahang kotak. Dia pencuri ciuman pertamaku. Aku sadar dia menyukaiku. Tapi sifatnya yang menyebalkan membuat aku malas mengakuinya. Bodo amat dengah hatinya!!
"Kenapa? Kamu baru tahu aku tampan?" tanya Vano padaku. Aku tergagap. Kami berpandangan cukup lama ternyata.
"Cih, kamu itu manusia paling menyebalkan yang pernah kutemui," kataku sambil menunduk. Memainkan gelas kopi yang tinggal setengahnya. Vano tertawa. Mendekatkan tubuhnya padaku.
"Iya sebel, tapi mau dicium," bisiknya tepat di telingaku. Membuat mukaku memerah. Bayangan ciumannya di dapur membuatku semakin dalam menunduk. Dia memegang daguku. Mengarahkan pandanganku bertemu matanya yang dalam. Mengulang satu kecupan lembut sekilas. Aku tidak bisa menolak. Entah tidak bisa atau tidak mau.
"Kamu cantik. Apalagi kalau sedang menari di pendopo itu. Aku sering memperhatikan kamu. Bahkan saat sebelum kita bertemu di tempat pakde krepes," kata Vano. Dia mencoba mengungkapkan perasaannya.
"Dan kamu menyebalkan. Jangan harap aku suka sama kamu!!" kataku sadis. Dia terlihat kecewa. Kami diam bergelung keheningan. Aku berusaha keras untuk tidak bersandar di bahunya. Meskipun sisi tubuhku yang menempel di tubuhnya terasa hangat. Sepertinya berpelukan dengan Vano akan mengusir hawa dingin di pegunungan ini.
Sorot lampu mobil menyilaukan mata kami. Vano melindungi mataku sambil merangkulkan tangannya dipundakku.
"Pppppak Revan!!" Kata Vano sambil membuka tangannya dimataku. Dia berubah menjadi gugup.
"Loh, Papa yang jemput?" tanyaku heran. "Bukanya tadi Vano telfon ayahnya??" lanjutku.
"Kenapa kalau Papa? Satunya heran, satunya tergagap kayak lihat hantu. Kalian seperti..... menyembunyikan sesuatu dan tertangkap basah," kata Papa. Matanya tajam menembus kami. Terutama Vano. Aku langsung masuk mobil saja. Papa itu menakutkan, apa lagi mode polisinya keluar seperti sekarang.
Makan malam dua keluarga itu seperti biasa... aku yang jadi kacang. Papa dengan Om Dedi, Mama dengan Tante Winda. Hector dengan Vano.... aku??? Kacang garing. Biasanya dulu ada Mbah Kung. Huft..... lagi lagi aku merindukan Mbahku itu.
'Lagi apa?' Pesanku pada Farel.
'Baru pulang ke rumah. Kamu lagi apa?' Balasnya.
'Lagi ngumpul sama keluarga Om Dedi.' Ketikku sambil mengirim foto meja makan dengan sedikit pemandangan bintang yang terlihat.
'Ketemu Mas Vano lagi dong.' Balas Farel.
'Iya lah, masak ketemu artis. Anaknya Om Dedi kan ya cuma cowok nyebelin itu.' Balasku cepat. Acara makan malam itu akhirnya selesai. Dan aku bisa pulang sama keluargaku. Aku lupa masih pakai jaket Vano. Halah.... ini gimanaaa.
"Tor bilangin Vano jaketnya masih di aku. Suruh ngambil besok," kataku sama Hector.
"Gak mau, bilang aja sendiri aku kirim nomernya," jawab Hector.
__ADS_1
"gak!!! Jangan sampai aku nyimpen nomer dia!!!! Bisa sial hpku," jawabku sadis. Mama tertawa.
"Laa, kalau membenci sewajarnya, mencintai juga sewajarnya. Nanti kamu malah berjodoh sama Vano gimana?" Mama aneh aneh.
"Amit amiiiitt.... Mama kalau bicara yang bener aja lah!!" kataku makin ngamuk. Mama malah tertawa senang.
"Katanya suruh nyimpen kamu aja. Kalau kamu kangen suruh meluk itu jaket. Jangan bilang Papamu.... Ups.... Papa udah dengar tapi hihihihi..." kata Hector sambil melihat hpnya. Membaca chat Vano dengan keras. Mama dan Hector tertawa. Aku juga. Kulihat Papa cuma senyum kalem.
***
8 bulan berlalu......
"Hebat, kamu hebat La," kata Farel saat aku keluar dari belakang panggung.
"Benarkah? Aku agak gugup tadi," jawabku sambil menggandeng tangannya. Ini malam petunjukan kelasku. Sekolahku mengadakan pertunjukan sebulan sekali di setiap jurusan. Sudah terjadwal dari kelas karawitan, tari, musik moderen, bahkan ada waktu pertunjukan untuk alumni SMK ini. Surga untuk para pecinta seni tradisional.
"Kita pulang sekarang?" tanya Farel.
"Iya dong. Ini udah malam." jawabku. Kami berjalan ke parkiran motor. Aku memeluk pinggang Farel dengan erat. Dia benar benar memenuhi janjinya untuk menonton setiap pertunjukanku menggantikan Mbah Kung.
Kami mampir makan sebentar di tongkrongan favorit Farel. Aku hanya memesan es dan beberapa camilan.
"Habis ini mau kuliah dimana La?" tanya Farel.
"Institut Seni tentunya. Entah di kota ini atau di kota sebelah. Kenapa?" tanyaku balik.
"Ambil dikota sebelah aja. Aku juga mau daftar kuliah disana. Kita bisa barengan terus," kata Farel sambil melihatku.
"Boleh, nanti aku minta ijin Mama sama Papa," jawabku sambi tersenyum. Grombolan cewek mendatangi meja kami.
"Farel, ini siapa?!!!" tanya seorang cewek ngajak ribut. Memelototi aku dari atas sampai bawah.
"Ini teman aku Nis, kami sahabatan dari kecil. Udah sering aku ceritain kan? Lala, ini Nisa... Nisa ini Lala," kata Farel. Yang mau gak mau membuat kami bersalaman. Hatiku ada yang melencos. Aku diperkenalkan sebagai sahabat???
"Aku harus antar Lala pulang. Dia habis pentas nari tadi," kata Farel buru buru ngajakin aku cabut. Ini anak kenapa???? Dia seperti ketakutan dan gugup. Si Nisa menatapku sampai aku pergi dan menghilang.
__ADS_1