Lala Sang Penari

Lala Sang Penari
Stodio mini


__ADS_3

Aku pulang hari itu gerudukan dengan teman temanku. Langsung mengacak acak rumah Vano. Beberapa barang dipinggirkan begitu saja. Agar kami punya banyak space buat nari.


Sendratari Ramayana adalah pertunjukan tari bercampur drama tanpa ucapan. Hanya bisa menunjukkan ekspresi muka saat menari. Ramayana sendiri adalah kisah Sri Rama dengan istrinya Sinta. Kali ini kami hanya mementaskan sampai pada Rama bertemu Sinta setelah diculik Rahwana.


Vano pulang saat kami asyik latihan. Beberapa temanku jadi canggung. Bubar untuk memperkenalkan diri pada pemilik rumah.


"Saya Vano, sudah lanjutkan saja jangan canggung," jawab Vano.


"Maaf ya Mas, rumahnya kami acak acak," kata Yudi.


"Gak masalah, lakukan saja sesuai yang dibutuhkan," jawab Vano kemudian masuk kamar.


Tiba tiba ketukan di pintu terdengar. Seorang ojek online datang membawa banyak minuman boba dan cemilan.


"Atas nama Mas Vano," kata bapak ojek.


"Iya Pak, sudah benar. Terima Kasih sudah mengantar." Vano menerima semua makanan itu. Bapak ojek pamit pergi setelah menerima pembayaran. Vano menyerahkan bungkusan itu padaku.


"Ayo istirahat dulu teman teman!" kata Vano sambil ikut ambil boba dan camilan. Teman temanku girang bukan main. Perhatian kecil yang membuat kami merasa didukung. Aku jadi terharu.


"Mas Vano tugas di polres mana?" tanya Ambar.


"Polres Bxxx, bagian kriminal umum," jawab Vano. Aku baru tahu bagian tugas Vano. Selama ini aku sibuk dengan diriku sendiri sampai tidak pernah menanyai apapun pada Vano. Sedikit…. Merasa bersalah. Padahal dia perhatian banget sama aku. Kami berlatih sekali lagi setelah time out kentang goreng dan boba.


"Sudah biarkan saja, jangan dikembalikan. Besok kalian berlatih lagi bukan?" kata Vano saat teman temanku mau mengembalikan meja kursi ruang tamu dan ruang makan yang kami acak acak.


"Beneran Mas?" tanya temanku gak percaya. Vano mengangguk saja.


"Makasih tempatnya Mas, makasih juga buat suguhannya," kata Yudi sebelum pamit. Vano cuma tersenyum ramah.


"Suamimu baik banget, abis ini kasih kek jatah. Udah ijab qobul dari kemarin kemarin, masak belum dapat haknya," bisik Nita sebelum pergi. Untungnya dia makhluk terakhir yang ada didalam rumah selain aku dan Vano. Aku mematung kikuk. Nita memang berbisik, tapi pasti terdengar oleh Vano disampingku. Nita aku dorong keluar begitu saja. Tertinggal kami berdua. Vano menatapku udah mau bicara. Aku langsung kabur kekamar sebelum Vano komentar macam macam.


Aku selesai mandi. Vano di depan TV menarik sofa depan TV yang tadi sedikit tergeser. Dia asyik memainkan gitarnya sambil bernyanyi.


"Kak, aku lapar," kataku saat sampai di sampingnya. Vano tersenyum.


"Kamu ini makannya banyak, tapi masih kerempeng juga. Kemana semua makanan itu kamu simpan hum?" kata Vano sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kan tenagaku habis buat nari," jawabku sambil nyender nyender manja. Vano tersenyum dan kembali memainkan gitarnya.


“Apa itu mudah?” tanyaku sambil menunjuk gitarnya.


“Kamu mau aku ajari main gitar? Aku gak jago jago amat sih, tapi pasti bisa ngajarin kamu,” kata Vano. Aku pun tertarik belajar.


“Gimana caranya?” tanyaku kepo. Vano merubah duduknya dia duduk bersandar pada sandaran tangan sofa. Kakinya menggantung satu dan satunya selonjoran di sofa.


“Kemarilah,” kata Vano menepuk space depan badannya. Aku bengong.


“Kemarilah, akan enak belajarnya kalau kamu duduk disini,” kata Vano meyakinkan. Aku ragu ragu duduk di depannya. Ini sama saja seperti kami berpangkuan. Gitar itu diletakkan di pangkuanku. Vano mulai mengajarkan beberapa kunci gitar sederhana. Dia yang menggenjreng, aku yang memegang kunci gitarnya. Kami menyanyi berdua. lagu manis dari band Sheila On Seven mengalun. suara Vano gak bagus bagus amat, namun cukup menghanyutkan aku kedalam lagu yang dimainkan.


“Kamu suka lagu bahasa inggris?” tanya Vano setelah lagu berakhir. Aku mengangguk.


“Wonderful tonight,” kata Vano kemudian mengambil alih stang kunci gitar.


“G D F# C D D-F#,” kata Vano sambil mempraktekkan kunci gitar. Aku memperhatikan dengan seksama. Lagu pun mengalun dengan lembut. Suara Vano dan gitarnya mendominasi malam ini. Lagu gombal yang menghanyutkan aku dalam perasaan damai dan tenang berada di dekat Vano. Yang baru kali ini aku rasakan.


It's late in the evening


She's wondering what clothes to wear


And brushes her long blonde hair


And then she asks me


"Do I look all right?"


And I say, "Yes, you look wonderful tonight"


Saat lagu berakhir, Vano memegang pipiku untuk menoleh lebih ke arah dia. Mendaratkan ciuman panjang dan lembut yang menghabiskan nafasku. Kemudian mengungkung dalam pelukannya. Akhirnya kami tiduran saling berhimpit di sofa. Mengalirkan tiap sentuhan cinta yang menggelora.


"Aku mencintaimu Sayang, dengan seluruh cinta yang aku miliki," bisik Vano diantara cumbuannya. Aku tersenyum. Dia… terlihat tampan malam ini. Kubiarkan saja dia melakukan yang dia mau. Walaupun sedikit mengacak acak kaosku.


"Ayo makan Sayang, cumbuanku hanya akan mengenyangkanmu sesaat," kata Vano sambil bangkit. Aku tertawa mendengarnya. Benar juga, aku lupa kalau lapar. Hihihihi


Kami makan di cafe dekat kantornya. Saling suap suapan kaya dunia ini emang punya kami berdua. Baru kali ini aku merasa Vano itu romantis sekali. Setiap gerakan, setiap sentuhan, dan tutur katanya membuat aku jatuh cinta dengan pria yang dulu menyebalkan ini.

__ADS_1


***


Kami bangun pagi masih berpelukan. Seperti biasa dia bangun sembahyang, kemudian cus memasak. Kali ini aku mau coba masak dengannya. Kami keasyikan masak nyobain resep di internet msampai sama sama kesiangan berangkat. Hasil masakan akhirnya kami bawa sebagai bekal. Kami berpisah setelah aku mencium tangan Vano dan dia mencium keningku sekilas. Ahhhh….. pagi yang indah, kenapa baru aku rasakan sekarang?


***


Aku terkejut saat pulang sore hari. Rumah sepertinya sedang sibuk. Mobil Vano sudah terparkir di luar pagar. Betapa terkejutnya aku saat melihat pekerja sedang menempelkan kaca ke dinding rumah. Rumah mungil itu diubah Vano menjadi studio tari mini yang cantik.


“Kau serius melakukan ini Kak?” tanyaku girang. Vano mengangguk cepat. Aku langsung memeluknya erat. 


“Hei hei ini banyak pekerja sayang, malu,” bisik Vano menyadarkan aku. Aku segera melepas pelukan kami sambil nyengir.


“Kamu suka?” tanya Vano bodoh.


“Tentu saja, jangan kau tanya lagi Kak,” jawabku girang.


“Lalu apa hadiah untukku?” tanya Vano.


“Ihhh… itu namanya kamu gak ikhlas memberi hadiah Kak,” jawabku sambil cemberut. Vano tertawa.


“Aku gak pernah ikhlas ngasih sesuatu sama kamu. Aku mau hatimu,” jawab Vano. Entah kenapa aku jadi malu. Sejak kapan Vano yang menyebalkan jadi seromantis dan sepengertian ini? Dia bahkan mau mengubah rumah mungilnya menjadi stodio tari. Menyingkirkan sofa ruang tamu dan meja ruang makan. Hanya menyisakan sofa depan tv dan menggesernya mendekat meja dapur.


"Kau sudah memiliki semua hatiku Kak, gak ada sisa," jawabku.


"Benarkah? Wow hebat kita harus merayakannya nanti malam..... Dengan tubuhmu," bisik Vano di telingaku. Aku merinding.


Aku memfoto kondisi rumah baru kami. Menyebarkannya di grup Sendratari. Teman temanku langsung heboh. Terjadilah latihan dadakan sore itu.


“Ini seperti surga untuk para penari,” komentar Nita. 


“Suamimu pengertian sekali sama kamu La. Udah kamu kasih apaan?” lanjut Nita sambil menyenggol lenganku. Nita menaik turunkan alisnya sambil senyum mesum.


“apaan sih! Dasar mesum,” jawabku.


“Emang apaan kok mesum?” kata Nita sengaja dikencangkan suaranya. membuat semua temanku nguping.


“Apaan? Lagi pada bahas apaan pakai mesum mesum?” Ita ikut kepo.

__ADS_1


“Biasalah, pengantin baru. Pasti sering yang mesum mesum,” jawab Nita asal. Membuat semua orang senyum senyum sambil memandangku. Kulirik Vano ikut senyum senyum. Haaa….. maluuuu dia juga mengisyaratkan itu tadi.


__ADS_2